• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 4 Juli 2022

Seni Budaya

Cerpen

Cerpen : Kuda Putih di Ritus Kenabian

Cerpen : Kuda Putih di Ritus Kenabian
Ilustrasi alam semesta
Ilustrasi alam semesta

Cerita Pendek M Arief Budiman

 

Tak ada yang lebih meriah selain menyambut perayaan perjalanan kenabian yang dikemas dalam ritus agung. Menjadi penunggang kuda putih dalam prosesi sakral adalah sebuah kebanggaan tersendiri. 


Hampir setiap pemuda di Kampung Pasirpadang memimpikannya, tak terkecuali Lahab. Dari puluhan pemuda Kampung Pasirpadang, ia terpilih sebagai penunggang kuda putih untuk perayaan pada tahun ini. Maka, mimpinya sepuluh tahun silam menjadi terwujud.


Namun entah mengapa kuda putih yang Lahab tunggangi mendadak kehilangan kendali setelah melewati barisan orang-orang bersorban putih. Seolah tiba-tiba ada ruh yang merasuki kuda itu untuk melempar si penunggang dari punggungnya. 


Kuda itu dengan liar menerjang, mengejar, menggigit orang-orang bersorban putih lalu melemparkannya ke udara.
Pemandangan mengerikan itu disaksikan Mustafa, pemuda yang tampak lebih tenang dibandingkan orang-orang sekitarnya. 


Ia melihat kuda itu dari sisi lain. Ia seolah melihat kuda itu mengepakkan dua sayap putih diantara sisi-sisi punggungnya. Matanya menyala api menyiratkan kemarahan. Kuda yang kesetanan itu pun melesat, menerjang, dan menghilang di balik tembok Masjid Wali.


Beberapa orang mengejar kuda itu untuk menenangkannya. Karena penasaran, Mustafa juga tergerak mengikuti mereka. 


“Jangan sampai lolos. Tangkap kuda itu!” seru Lahab.


“Benar... Jangan sampai ada korban lagi.”


“Lemparkan laso ke lehernya. Jerat. Jangan kasih ampun!”


Kuda yang terus memberontak itu pun akhirnya tersudut di pekarangan belakang masjid.


“Bila perlu lemparkan lembing di lehernya. Ia telah menggigit leher para santri!” ketus Lahab.


“Jangan!” teriak Mustafa. “Kalian boleh menangkapnya, tapi jangan membunuhnya. Jika itu dilanggar, kalian akan mendapatkan celaka.”


Teriakan Mustafa terasa sia-sia belaka. Hati orang-orang terlanjur membara. Dua orang melempar laso tepat menjerat leher si kuda putih. Meski meronta, ia tak mampu berbuat banyak.


Tak berapa lama, bagai pelaut gagah Lamalera ketika berburu paus, Lahab menghujamkan lembing di leher kuda putih. Lalu disusul Sofyan, kawan  Lahab, menusukkan sangkur tepat di jantung si kuda putih hingga kuda itu tersungkur.


Perlahan darah membasahi bumi. Menjadi persembahan pada ritus kenabian yang suci. Kuda garang itu perlahan melemah, menyerah kalah setelah dijagal beramai-ramai. 


“Pengorbanan!” teriak Lahab.


“Ya, pengorbanan. Ia telah mengalirkan darah pengorbanan!”


“Ya, ia layak mendapatkan itu!”


Mustafa hanya terdiam. “Kalian telah menabur, kalian pula yang akan menuai,” gumamnya, kemudian berlalu.


***


Jika Lahab dan beberapa kawannya tahu bahwa kuda putih itu menyembunyikan sesuatu, maka mereka tak akan berbuat sekeji itu. Sesungguhnya mereka telah dibutakan oleh kedengkian dan kebodohan. Mereka alpa bahwa kuda putih adalah simbol kesucian bagi Kampung Pasirpadang. Tentu orang-orang sangat mensakralkannya.


“Tapi apakah yang kita lakukan itu benar, Lahab?” tanya Sofyan.


“Benar,” sambung yang lain.


 “Kita telah kehilangan kendali, Lahab," sambung Sofyan. “Apa kau lupa, kuda putih adalah simbol dari kampung kita. Kita telah menodainya. Seperti halnya kisah Nabi Saleh pada zaman dahulu.”


“Ah, kalian ini terlalu memusingkan hal yang sifatnya takhayul.” 


Semua membisu. Kerutan pada dahi mereka semakin menggelombang seolah tengah memikirkan sesuatu.


“Apa kalian takut? Ini bukan soal benar atau salah. Dan kita tak butuh pembenaran. Sekarang, ayo kita lanjutkan pesta ini.”


“Ya, kita memang harus bersenang-senang.”


Gelak para penjagal; Lahab, Sofyan dan beberapa orang lainnya menjadi codet ketenangan Kampung Pasirpadang. Lahab, pemuda yang terkenal kegagahannya itu ternyata menyimpan kedengkian di dalam hatinya. Andaikata mereka tak sibuk dengan berkelakar, mungkin mereka akan mendengar bisik orang-orang yang tengah menyusun strategi.


“Kita harus membangunnya dari bawah. Peta penyebaran sudah disiapkan. Perayaan 20 tahun harus tetap diadakan,” ujar Lelaki Beruban.


“Ya, benar. Kita hubungi orang-orang bawah. Tapi kita harus waspada. Orang-orang kanan menyebarkan banyak mata dan telinga,” sahut Lelaki Bertato Kupu-kupu.


“Benar. Untuk orang-orang lapangan, biar aku yang mengaturnya,” ujar Lelaki Berkumis.


“Bagaimana kau akan membuat jaringan kembali?” tanya Lelaki Bertato Kupu-kupu.


“Ya, bagaimana caranya?” sambung Lelaki Beruban.


“Gampang. Bukankah kalian tahu sendiri, kampung ini sedang memanas. Mereka, para anak muda penjagal kuda putih-lah yang akan memainkan peran. Mereka orang-orang bodoh yang gampang dipengaruhi.” 


“Jadi kau akan memanfaatkan situasi?” ucap Lelaki Beruban.


“Kau akan memancing di air keruh?” sambung Lelaki Bertato Kupu-kupu.


“Kau akan membakar mereka seperti 20 tahun silam?” timpal Lelaki Beruban.


Lelaki Berkumis mengulum senyum, lalu menyalakan rokoknya.


***


“Apa kalian tahu, boleh jadi kuda itu merupakan jelmaan Syekh Sitibrit yang konon jenazahnya dimakamkan di bawah masjid  ini,” kata Mustafa selepas salat isya pada teman-temannya di serambi Masjid Wali.


 “Lalu, apa mungkin di Masjid Wali ini, Mus?” tanya seorang teman.


“Atau jangan-jangan di Masjid Wali yang lain. Bukankah di kampung kita ini ada beberapa Masjid Wali,” sahut teman lain.


“Atau mungkin di setiap masjid memang ditanam jasad orang-orang yang dianggap mengajarkan kesesatan dalam beragama pada waktu itu?” sambung teman yang lain lagi.


“Entahlah. Tapi orang-orang berkata demikian,” jawab Mustafa.


“Tapi bukankah jasad Syekh Sitibrit berubah menjadi anjing?”


“Wallahu a’lam,” jawab Mustafa.


“Lalu apa hubungannya dengan kuda putih?” tanya seorang teman.


“Keajaiban. Aku hanya ingin berbagi tentang keajaiban,” jawab Mustafa.


“Maksudmu, Mus?”


“Ya, maksudmu, Mus.”


“Kalian boleh percaya boleh tidak. Semalam, antara sadar dan tidak, aku bertemu kuda putih itu. Ia telah bersayap seperti pegasus. Bulunya sehalus kapas. Aku diajaknya terbang dari Masjid Wali ini menuju ke sebuah tempat yang maha luas. Sesampainya di sana, aku diperlihatkan pada sebuah tempat yang dipenuhi oleh pohon dengan buah-buahan yang teramat ranum.”


“Jadi, kau seperti Bellerofon si penunggang pegasus?”


“Entahlah. Tapi aku melihat tubuhku sendiri dipenuhi oleh cahaya putih.”


“Aku curiga kau telah ber-isra,” ujar seorang teman.


“Berarti kau menunggang burak?” sahut teman lain.


“Kau telah terpilih?” sambung teman yang lainnya.


Berita tentang mimpi Mustafa merebak seantero Kampung Pasirpadang, hingga menggelitik telinga Lahab beserta kawan-kawannya.


“Tak mungkin ia terpilih. Lagi pula matanya yang sipit tak mewakili para penunggang kuda putih sebelumnya.”


“Benar. Kulitnya juga terlalu putih.”


“Rambutnya tak ikal seperti para pendahulunya.”


“Benar. Tak ada dalam sejarah Pangeran Diponegoro memiliki fisik seperti dia. Berarti ia telah berdusta.”


“Ya, benar. Ia telah berdusta.”


“Lalu?”


“Iya, lalu bagaimana, Lahab?”


Lahab terdiam sejenak, “Kita harus menangkapnya.”


“Seperti kuda putih tempo hari?”


“Ya.”


“Memakai laso?”


“Ya, pakai laso.”


“Mengikatnya pada tiang salib?”


“Tentu, kita salib.”


“Memakai tombak?”


“Ya, pakai tombak.”


Tanpa dikomando, mereka bergegas mencari Mustafa.


***

Angin musim kemarau kian panas menampar wajah-wajah penduduk Kampung Pasirpadang. Suhu bumi seakan berada pada titik didih paling tinggi. 


Seolah menjadi pemantik para penjagal kuda putih untuk mencari Mustafa. Mereka seolah menjelma spartoi, prajurit bersenjata lengkap yang muncul dari gigi naga untuk mencari mangsa. 


“Ia harus ditangkap. Bila perlu dibunuh. Ia telah menebarkan kesesatan! Ia mengaku nabi!” seru Lelaki Berkumis.


“Ya, ia mengaku nabi!” sambung Lelaki Bertato Kupu-kupu.


“Benar! Dia bukan nabi. Ia pendusta! Mana mungkin nabi berkulit putih dan bermata sipit,” sambung Lahab.


“Salibkan!”


“Ya, salibkan dia!”


Mustafa yang ketika itu tengah bercengkerama di serambi masjid dengan beberapa temannya, tampak tenang dengan teriakan-teriakan itu. Ia tahu, apa yang ia risalahkan akan mendapat banyak tentangan.


“Tangkap anak itu!” seru Lahab. 


“Ya, seret!”


“Ya, salibkan!”


“Apa yang akan kalian lakukan pada Mustafa adalah salah. Kalian telah terhasut,” ujar Kiai Saleh, imam Masjid Wali.


“Ia pendusta! Mana mungkin ia terpilih. Ia hanya bocah ingusan kemarin sore,” jawab Sofyan.


“Kau tak boleh membawanya. Bawalah aku saja,” kata Kiai Saleh.


“Tidak. Kami menginginkan anak itu. Kami harus bawa anak itu untuk diadili.”


“Benar, dia harus diadili!” teriak yang lain.


“Mari kita seret. Bawa dia ke belakang masjid,” pekik Sofyan.


Mustafa tak bergeming. Ia masih duduk sembari menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang.


“Bawalah aku jika itu dapat menenangkan kalian,” tiba-tiba Mustafa menyeru menantang.


"Akulah Mustafa, si kuda putih. Aku tak takut mati. Dan aku bukan nabi. Aku hanya menyampaikan risalah dari mimpiku sendiri.” 


“Kau pendusta!” teriak Lelaki Berkumis.”


“Ya, kau pendusta!”


“Seret!”


“Ya, seret bermai-ramai!”


Tanpa berpikir panjang, Lahab menyeret Mustafa ke belakang masjid. Ia bersama beberapa orang merentangkan tangan Mustafa pada tiang salib.


Kemudian Lahab, Lelaki Berkumis, Lelaki Bertato Kupu-kupu dan beberapa orang menghunuskan tombak di dada Mustafa.


Seketika langit menghitam ketika darah Mustafa menetes ke bumi. Seolah mengabarkan kedukaan. Seperti halnya cerita Yesus pada jalan salib. Tak berapa lama, langit meneteskan air matanya pada panas kemarau yang mengganas. 

 
“Lihatlah orang yang kalian anggap suci itu. Ia telah berkorban. Ia mengalirkan darah persembahan. Adakah Mustafa yang lain lagi?” tanya Lahab.


Tiba-tiba Kiai Saleh mengacungkan telunjuknya, “Aku Mustafa.”


“Aku juga Mustafa,” sambung teman Mustafa.


“Aku juga Mustafa,” sambung teman Mustafa yang lain.


Seluruh laki-laki yang ada dalam kerumunan tiba-tiba mengaku bernama Mustafa.


“Akulah Mustafa yang asli!” tiba-tiba Lahab ikut-ikutan berteriak.


“Aku juga yang asli!” sahut Lelaki Berkumis.


Suasana menjadi semakin kacau. Semua ingin seperti Mustafa sang lelaki pilihan. Hingga mereka tak menyadari bahwa Lahab, Sofyan, Lelaki Berkumis, dan Lelaki Bertato Kupu-kupu berubah menjadi silenos, manusia setengah kuda.


Sementara di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang saling berebut benar, seekor kuda putih bersayap mendekati Mustafa pada tiang penyalib, mengajak menaiki punggungnya dan melesat secepat kilat.


Ya, Mustafa telah terpilih ....

 

Kudus, April 2018


Arif Budiman lahir di Pemalang, 5 November 1985. Menyelesaikan studi di Universitas Negeri Semarang.  Beberapa cerpennya tergabung dalam antologi bersama; Tanda (2010), Wajah Wajah Kayu Bapak (2011), Karena Aku Tercipta Istimewa (2011), Serahim Nira (2012), Negeri Tanpa Nama (2013), dan Sepotong Senja Sepenggal Sangka (2016).


Seni Budaya Terbaru