• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 2 Maret 2024

Opini

Urgensi Dakwah Bagi Sesama

Urgensi Dakwah Bagi Sesama
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan, Prof H A Kumedi Jafar. (Foto: Istimewa)
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan, Prof H A Kumedi Jafar. (Foto: Istimewa)

Sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah saw, tentunya kita ingin senantiasa melanjutkan perjuangan-perjuangannya. Salah satu bentuknya adalah melakukan dakwah sebagaimana yang Rasulullah saw lakukan.


Dakwah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Sehingga prinsip dalam dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar. 


Perintah berdakwah, Allah swt telah jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104, yang artinya: Dan hendaklah ada segolongan dari kalian umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.


Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa Allah swt, telah menganjurkan, bahkan memerintahkan kita untuk berdakwah, yakni menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.


Bahkan menurut para ulama hukum berdakwah adalah fardhu ‘ain. Dengan demikian jelas bahwa setiap di antara kita memiliki kewajiban untuk berdakwah. 

 

Dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, Pertama, bil-lisan, yaitu dakwah dengan lisan, seperti yang biasa dilakukan melalui ceramah, pengajian, pidato, dan lain-lain. Kedua, bil-Tadwin, yaitu dengan tulisan, seperti dakwah melalui tulisan-tulisan di media massa, media sosial, buku, dan lain-lain. 


Ketiga, bil-Hal, yaitu dakwah dengan perbuatan, seperti memberi contoh yang baik, berakhlakul karimah, dan lain-lain. Keempat, bil-Mal, yaitu dakwah dengan harta, seperti memberikan sedekah, sumbangan masjid, sumbangan madrasah, dan lain-lain. 


Lebih lanjut dalam kitab Tanbih al-Ghafilin dijelaskan bahwa ada 5 hal yang harus diperhatikan dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu Pertama, didasarkan pada ilmu, artinya untuk berdakwah perlu bekal ilmu yang cukup, sehingga akan dapat membuahkan hasil yang maksimal.


Kedua, didasarkan pada niat yang baik, artinya berdakwah dilakukan semata-mata karena mencari ridha Allah swt, dan menjunjung tinggi syiar Islam, bukan karena untuk mencari kekayaan atau pengaruh orang lain. 


Ketiga, menggunakan bahasa yang santun, artinya dalam berdakwah tentunya harus menggunakan bahasa yang santun dan lemah lembut, sehingga apa yang akan disampaikan akan dapat menyejukkan dan mentetramkan bagi orang yang mendengarkannya.


Keempat, memerlukan kesabaran, artinya dalam berdakwah perlu dilakukan dengan penuh kesabaran. 


Hal ini sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah saw, di mana saat beliau berdakwah di tengah kafir Quraisy banyak di antara mereka yang mengejek, menghina, meludahi, bahkan melempar batu. Apa sikap Rasulullah saw saat itu, beliau tetap tenang dan sabar. 


Kelima, memiliki implikasi, artinya dakwah harus dapat memberikan dampak yang positif, yakni mampu memberi contoh atau teladan yang baik, sehingga dakwah yang disampaikan mampu memberikan perbaikan terhadap orang lain.


Selain itu, dakwah juga dapat diwujudkan dalam bentuk saling mengingatkan antar sesama ketika salah, saling memberikan masukan kebaikan, saling meringankan beban, saling memberikan motivasi, saling mendo’akan dan lain sebagainya. 


Untuk itu tentunya setiap di antara kita wajib saling menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar dengan cara yang ma’ruf, hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Nahl ayat 125, yang artinya: Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan pengajaran yang baik (mau’idhah hasanah atau nasihat yang baik).


Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa dalam berdakwah harus dilakukan dengan cara yang baik, bahasa yang santun, sikap yang sopan dan tutur kata yang lemah lembut. 


Dalam berdakwah kita juga harus berani menyampaikan kebenaran, yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah. Jangan yang benar dikatakan salah tetapi yang salah justru dikatakan benar.


Sebagaimana hadits Rasulullah saw: Qulil Haqq Walau Kana Murran, yang artinya sampaikan kebenaran meskipun itu pahit. Kebenaran akan tetap benar dan kesalahan akan tetap salah. Kebenaran akan tetap menang dan kesalahan akan tetap kalah. 


Oleh karena itu setiap di antara kita, baik kapasitasnya sebagai pemimpin, penceramah, mubaligh, guru, dosen, dan apapun itu. Tentunya harus mampu mengajak bukannya mengejek, mendidik bukannya menghardik, membina bukannya menghina, menyayangi bukannya menyaingi, merangkul bukannya memukul, memaafkan bukannya menyudutkan, memudahkan bukannya menyusahkan, mendoakan bukannya menjatuhkan, meluruskan bukannya menyesatkan, dan memberi solusi bukannya mencari simpati.


Akhirnya, mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang seantiasa memiliki kemampuan dan kecerdasan untuk berdakwah demi syiarnya ajaran Islam, sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Wallahu a’lam Bishawab.



Prof H A Kumedi Ja’far, Dosen Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan dan Pengurus MUI Provinsi Lampung
 


Opini Terbaru