• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 25 Mei 2024

Opini

Seorang Guru Tidak Boleh Membenci Muridnya

Seorang Guru Tidak Boleh Membenci Muridnya
Seorang Guru Tidak Boleh Membenci Muridnya (Foto: NU Online)
Seorang Guru Tidak Boleh Membenci Muridnya (Foto: NU Online)

Menjadi seorang guru merupakan anugerah, amanah, dan tanggung jawab yang besar. Karena tidak semua orang mau dan mampu secara istikamah mendidik seorang murid. 


Di lingkungan pendidikan, sekolah memiliki keragaman siswa dengan berbagai latar belakang karakter, social, dan budaya.  Ada yang baik, ada yang buruk, ada yang pendiam, ada yang aktif, ada yang cerdas, ada yang bodoh,  dan lain sebagainya. 


Karena berbeda karakter dan latar belakang inilah, seringkali menjadi problem bagi sekolah dan guru. Terutama siswa yang memiliki kepribadian yang kurang baik, dan tidak taat peraturan sekolah. 


Selain perangai yang buruk, ada juga siswa yang kecerdasannya di bawah rata-rata. Sehingga kerapkali, ada beberapa guru yang menjadikannya suatu masalah serius, bahkan ada yang sering memarahinya karena sulit memahami pelajaran, atau daya tangkapnya rendah. 


Tidak hanya dimarahi saja sang murid, namun ada juga guru yang tidak segan-segan bermain fisik, mencemooh, dan menghujatnya dengan penuh kebencian.


Padahal, sejatinya guru tidak boleh membenci murid-muridnya, apalagi karena alasan bodoh. Karena kapasitas manusia dalam berpikir dan menerima ilmu berbeda-beda sejak lahir. Sehingga ada anak yang memang dilahirkan dengan kecerdasan yang tinggi, dan ada yang rendah. Hal ini sudah menjadi sunnatullah (hukum alam)  


Seorang tokoh Cendekiawan Muslim dari Jawa, KH Bahaudin Nursalim pernah mengatakan pintar dan bodoh itu suatu berkah, sedangkan yang tidak ada berkahnya itu melakukan maksiat. 


Dari pernyataan di atas, seorang murid baik pintar ataupun bodoh itu lebih baik daripada murid yang melanggar peraturan atau berbuat kemaksiatan. 


Meski jika ada murid berbuat kemaksiatanpun seorang guru dilarang untuk membenci secara personal, karena watak dan karakter seorang anak akan berubah karena lingkungan yang baik dari sekolah, teman, guru dan orang tua. Keempat itulah yang bisa mempengaruhi karakter seorang murid. 


Maka jadilah guru yang teladan, jangan sampai mengatakan muridnya dengan perkataan negatif dan tidak baik, apalagi di depan umum seperti bodoh, tolol, setan, nama-nama binatang, dan sebagainya. Karena hal tersebut tidak mencerminkan akhlak seorang guru. Justru merusak mental muridnya, dan menyebabkan jiwanya akan terganggu. 


Karena guru yang sejati adalah yang digugu (didengar) dan ditiru akhlaknya. Maka, jika guru sudah tidak bisa didengar ucapannya dan ditiru akhlaknya,  itu berarti sudah tidak ada mutiara di dalam dirinya. 


Sedangkan ucapan adalah doa, maka berhati-hatilah dalam berkata dan berdoa kepada para murid. Suksesnya murid yang bangga adalah guru dan sekolahnya, begitupun juga gagalnya.


Memang, menjadi guru itu perlu kesabaran, jika tidak, maka hanya akan diliputi amarah dan kebencian. Sehingga hanya akan melahirkan ekosistem kelas yang keruh. Baik, buruk, cerdas dan bodoh adalah proses dari perjalanan setiap manusia. 


Ulama dari Sarang, KH Maimun Zubair mengatakan tugas seorang guru adalah mengajar. Adapun siswa paham atau tidak, pintar atau tidak, itu urusan Allah swt. Sehingga ketika murid diajar dan tidak paham, kita tidak akan merasa marah dan jengkel. 


Maka mulai sekarang, setiap guru harus ikhlas dalam mengajar, sehingga hatinya tidak didekte oleh keadaan. Kemudian harus bisa mencari metode yang menarik yang dapat membuat siswa paham. 


Ketika sudah semaksimal mungkin mengajar, dan hasil muridnya di luar harapan, maka doakan dan pasrahkan kepada Allah swt. 

(Yudi Prayoga)
 


Opini Terbaru