Pernik

Pemikiran dan Karya Ibnu Miskawayh dalam Konteks Kekinian

Sabtu, 12 Juli 2025 | 10:10 WIB

Pemikiran dan Karya Ibnu Miskawayh dalam Konteks Kekinian

Pemikiran dan Karya Ibnu Miskawayh (Ilustrasi: LP Ma'arif NU Jateng)

Di tengah derasnya arus modernitas dan perubahan sosial yang terus bergulir, pemikiran klasik seringkali dipandang sebagai warisan masa lalu yang tidak relevan dengan tantangan masa kini. Namun, tidak sedikit gagasan para pemikir masa lampau yang justru mampu memberikan jawaban penting terhadap persoalan kekinian, khususnya dalam bidang etika, filsafat, dan pembentukan karakter manusia. Salah satunya adalah pemikiran Ibnu Miskawayh (932–1030 M), seorang filsuf, sejarawan, dan ahli etika asal Persia yang karya-karyanya memiliki relevansi kuat dalam konteks global saat ini.

 

Siapa Ibnu Miskawayh?

Ibnu Miskawayh adalah figur penting dalam sejarah pemikiran Islam, khususnya dalam bidang etika dan filsafat moral. Ia hidup di masa kejayaan Dinasti Buyid, dan dikenal luas melalui karya monumentalnya, Tahdhib al-Akhlaq (Penyempurnaan Akhlak). Di dalamnya, ia menyajikan kajian mendalam mengenai pembentukan karakter dan nilai-nilai etika yang didasarkan pada keseimbangan antara akal dan nafsu. Baginya, akhlak bukan semata bawaan, melainkan hasil latihan dan pendidikan moral yang konsisten.

 

Selain Tahdhib al-Akhlaq, Ibnu Miskawayh juga menulis karya lain seperti Kitab al-Hikmah yang membahas filsafat dan kebijaksanaan, serta karya sejarah dan sosiologi yang memperlihatkan luasnya minat intelektualnya. Namun, inti dari pemikirannya tetap berfokus pada bagaimana manusia dapat menjadi makhluk yang bermoral, bijaksana, dan seimbang secara jiwa.

 

Etika dan pendidikan karakter: warisan yang abadi

Salah satu kontribusi terbesar Ibnu Miskawayh adalah gagasannya tentang pendidikan karakter dan pembentukan moral. Dalam Tahdhib al-Akhlaq, ia menguraikan bagaimana manusia dapat mengendalikan nafsu dengan akal untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Konsep ini sangat relevan ketika kita mengamati dunia masa kini yang penuh dengan konflik nilai dan degradasi moral.

 

Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, kita menghadapi tantangan serius dalam pembentukan karakter, khususnya generasi muda. Pola konsumtif yang berlebihan, individualisme, dan hedonisme sering kali menggeser nilai-nilai moral yang lebih luhur. Dalam konteks ini, pemikiran Ibnu Miskawayh menawarkan pijakan penting: akal sebagai pengendali dan pelatih jiwa manusia agar tetap berada pada jalan keseimbangan dan kebijaksanaan.

 

Misalnya, pendidikan karakter yang kini banyak digaungkan sebagai solusi untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia, sesungguhnya memiliki akar pemikiran yang telah lama digagas oleh Ibnu Miskawayh. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga pembentukan budi pekerti yang berlandaskan akal sehat dan kontrol diri.

 

Keseimbangan antara akal dan nafsu

Dalam pandangan Ibnu Miskawayh, jiwa manusia terbagi menjadi tiga bagian: akal, nafsu, dan semangat (ghadab). Akal berfungsi sebagai pengendali, semangat sebagai motivator, dan nafsu sebagai sumber keinginan. Keseimbangan antara ketiganya adalah kunci mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan.

 

Hal ini sangat kontekstual dengan kondisi sekarang, di mana impulsivitas dan keinginan instan menjadi masalah serius akibat kemajuan teknologi dan media sosial. Kecepatan informasi dan rangsangan tanpa filter dapat membuat manusia kehilangan kontrol diri, yang berujung pada perilaku negatif seperti intoleransi, kebencian, dan penyebaran berita palsu.

 

Pemikiran Ibnu Miskawayh mengajak kita untuk kembali meneguhkan peran akal dalam menghadapi segala godaan nafsu. Melalui pendidikan dan pembiasaan, kita dapat membentuk manusia modern yang mampu menggunakan teknologi dan informasi secara bijaksana dan bertanggung jawab.

 

Ibnu Miskawayh juga dikenal sebagai tokoh humanisme Islam karena pemikirannya yang menempatkan manusia sebagai pusat penciptaan yang harus dihormati dan dikembangkan potensinya secara utuh. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang mampu berakal dan berperilaku mulia, sehingga pendidikan moral dan intelektual sangat penting untuk mencapai kesempurnaan tersebut.

 

Dalam konteks kontemporer, pendekatan humanisme Ibnu Miskawayh bisa menjadi landasan etika universal yang menjembatani perbedaan budaya, agama, dan sosial. Di tengah meningkatnya konflik identitas dan polarisasi global, gagasan ini relevan sebagai upaya membangun masyarakat yang toleran, inklusif, dan beradab.

 

Pemikiran Ibnu Miskawayh dan tantangan modernitas

Modernitas membawa berbagai kemajuan sekaligus masalah, mulai dari krisis identitas, degradasi moral, hingga persoalan lingkungan hidup. Di sinilah relevansi pemikiran Ibnu Miskawayh sebagai bahan refleksi. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan materi harus diimbangi dengan perkembangan moral dan spiritual agar manusia tidak terperangkap dalam keserakahan dan destruktifitas.

 

Misalnya, dalam konteks perubahan iklim dan krisis lingkungan, pandangan keseimbangan hidup yang diajarkan Ibnu Miskawayh mengandung pesan penting untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. Kehidupan yang berlebihan dan serakah berpotensi menghancurkan tatanan alam yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri.

 

Di bidang sosial-politik, konsep keseimbangan dan keadilan dalam pemikiran Ibnu Miskawayh dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan sistem pemerintahan dan masyarakat yang adil, transparan, dan menghargai martabat manusia.

 

Revitalisasi pemikiran klasik untuk masa depan

Melihat kekayaan pemikiran Ibnu Miskawayh, pertanyaan mendesak adalah bagaimana kita mengaktualisasikannya dalam kehidupan modern? Bagaimana pemikiran klasik ini bisa diadaptasi dan dijadikan panduan dalam menyelesaikan persoalan kekinian?

 

Penting bagi akademisi dan pembuat kebijakan untuk menjembatani pemikiran klasik dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini. Pendekatan interdisipliner yang menggabungkan filsafat, psikologi, sosiologi, dan teknologi informasi dapat membantu menjadikan warisan Ibnu Miskawayh lebih aplikatif dan kontekstual.

 

Selain itu, pendidikan menjadi kunci utama. Kurikulum pendidikan di berbagai jenjang perlu memasukkan nilai-nilai etika dan moral secara mendalam, tidak sekadar sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang berintegritas dan bertanggung jawab.

 

Pemikiran dan karya Ibnu Miskawayh menegaskan pentingnya keseimbangan antara akal dan nafsu, pendidikan moral, serta pembentukan karakter dalam meraih kebahagiaan dan kebijaksanaan hidup. Di tengah kompleksitas dunia modern, gagasan ini bukan hanya relevan tetapi sangat mendesak untuk diaplikasikan.

 

Warisan intelektual Ibnu Miskawayh mengajak kita untuk tidak hanya mengejar kemajuan material dan teknologi, tetapi juga menjaga kemurnian jiwa dan moralitas sebagai fondasi kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan. Melalui revitalisasi pemikiran klasik ini, kita dapat menemukan solusi terhadap krisis moral, sosial, dan lingkungan yang melanda dunia saat ini.

 

Dengan demikian, Ibnu Miskawayh bukan hanya tokoh sejarah, melainkan inspirasi abadi bagi manusia modern untuk hidup bijak dan bermartabat di era yang penuh tantangan ini.

 

H. Wahyu Iryana, Sejarawan dan penulis buku Historiografi Islam