• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Pernik

Ramadhan Saatnya Meningkatkan Rasa Cinta

Ramadhan Saatnya Meningkatkan Rasa Cinta
Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., M.M, Camat Telukbetung Selatan, Bandar Lampung
Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., M.M, Camat Telukbetung Selatan, Bandar Lampung

Oleh: Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., M.M

 

Bulan Ramadhan yang kita pahami adalah bulan berlimpah rahmah. Bulan yang sangat diistimewakan Allah.  Demi mengumbar cinta- Nya kepada hamba ciptaannya, Allah menyediakan waktu khusus dalam satu bulan untuk mempersilahkan manusia mengarungi penghayatan cinta melalui "keintiman" yang melenakan jiwa. 

 

Manusia sebagai hamba ciptaan-Nya, sesungguhnya sebentuk keseimbangan kosmik dari dimensi jasadiyah, ruhiyah, akliyah, termasuk qolb dan nafsu.  Proses aktualisasi eksistensi kehidupan manusia seringkali memaksa saling membenturkan keseimbangan kosmik di dalam dirinya. 

 

Oleh karenanya, ibadah  mahdoh yang diperintahkan Tuhan sesungguhnya tidak sekadar upaya mendekat kepada Tuhan (taqarrub), tetapi juga sebagai upaya merawat keseimbangan kosmik yang paling instrinsik. 

 

Sejatinya kehadiran Ramadhan memberi kita peluang untuk menyambut dan meresapi sekaligus menemukan penghayatan paling dalam atas luapan cinta (mahabah) dari Tuhan, serangkaian ibadah (ritual) yang kita jalani seharusnya mampu menemukan substansinya, yakni menjadi bagian dari cara kita sedang mengupaya berbalas cinta Tuhan, dan meresonansi cinta itu tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada semesta.

 

Sudah semestinya Ramadhan mampu  mengajarkan kita menjadi pribadi yang santun, welas asih, peduli, berempati, simpatik, dan kepribadian penuh ketulusan lainnya yang terlahir dari luapan cinta. 

 

Ketika kita mengamati pergaulan di media sosial belakangan ini, nampak sarat dengan perilaku yang tidak mencerminkan moralitas dan spiritualitas.

 

Saat Ramadhan, masih saja ada pihak yang dengan gampang tak ada beban menuduh, menghujat, mencela, menghina, membunuh karakter orang lain, bahkan menyebar informasi yang berpotensi fitnah. 

 

Hari-harinya dihabiskan untuk ngeshare tautan yang mendiskriditkan pihak lain, dunia menjadi penuh prasangka buruk. Tak tersadarkan kebiasaan itu sangat mungkin bisa membentuk karakter merasa diri paling benar, dan apapun sikap perbuatan orang selalu salah, dada dan pikirannya diliputi kebencian. 

 

Lantas sesungguhnya dengan penghayatan seperti apa kita akan menikmati Ramadhan? Seharusnya dalam setiap moment Ramadhan, kita bisa makin meningkatkan rasa cinta pada sang Pencipta dan juga pada sesama manusia. 


Wallahualam bishawab

 

Penulis adalah Camat Telukbetung Selatan dan Penulis Buku Duren Kopi dan NU


Pernik Terbaru