• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Khutbah

Khutbah Jumat: Makna yang Terkandung dalam Bulan Rajab

Khutbah Jumat: Makna yang Terkandung dalam Bulan Rajab
Memahami makna yang terkandung dalam bulan Rajab
Memahami makna yang terkandung dalam bulan Rajab

Khutbah 1

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
صدق الله العظيم

 

Hadirin jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah Swt.

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan kenikmatan yang banyak kepada kita. Shalawat dan salam marilah kita sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad Saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya serta para penerus risalahnya yang terus berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi ini hingga hari kiamat nanti.

 

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Swt.

Sekarang kita telah memasuki bulan Rajab. Bulan Rajab merupakan salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan (baca: al Asyhur al Hurum) yang empat, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan bulan Rajab. Istilah al-Asyhur al-Hurum dikemukakan di dalam surat al-Taubah Ayat 36 di mana Allah Swt berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

      

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

 

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Swt. 

Dijelaskan dalam salah satu kitab tafsir bahwa yang dimaksud dengan bulan haram adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab. Sementara yang dimaksud oleh ayat “janganlah kamu menganiaya dirimu”, yaitu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan berperang.

 

Sepintas tidak ada yang istimewa dari bulan Rajab ini kecuali ia merupakan salah satu dari bulan haram saja. Hanya saja terdapat hadits Hasan yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw banyak melaksanakan puasa di bulan Sya’ban. Ketika Rasulullah Saw ditanya mengenai hal itu, maka Rasulullah Saw menjawab bahwa Sya’ban merupakan bulan yang sering dilalaikan oleh manusia karena ia berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. 

 

Karena di dalam hadits tersebut disebutkan bulan Rajab, maka bulan Rajab tentu memiliki keutamaan tersendiri. Sementara hadits yang menyatakan bahwa “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulanKu”, maka ia masuk ke dalam hadits dhaif dengan katagori hadits mungkar, bahkan ada yang menyatakan ia sebagai hadits palsu (baca:hadits maudhu’). 

 

Sering kita mendengar para ustadz, kiai dan alim ulama berdoa: اللهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان “Ya Allah berilah keberkahan kepada kami di bulan Rajab, keberkahan di bulan Sya’ban dan sampaikanlah  kami kepada  bulan Ramadhan” .

 

Berkah-sebagaimana tersurat di dalam doa di atas- berarti tambahan kebaikan. Jadi doa di atas merupakan isyarat agar kita mendapatkan keberkahan di bulan Rajab dan di bulan Sya’ban. 

 

Agar kita  benar-benar mendapatkan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban, maka tentunya kita harus melakukan tambahan kebaikan yang tambahan tersebut tidak kita lakukan di bulan-bulan lain.

 

Apabila kita perhatikan mayoritas masyarakat muslim Indonesia, maka khususnya bulan Rajab ini ia menjadi bulan yang spesial. Mengapa demikian? Karena di bulan ini terdapat tradisi-tradisi baik yang dilaksanakan yang tidak dilakukan di bulan-bulan lain.

 

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Swt

Di bulan Rajab masyarakat muslim Indonesia banyak yang melaksanakan puasa. Mereka biasanya melaksanakan puasa tiga hari, baik di awal, tengah maupun akhir bulan Rajab. Tradisi-tradisi ini merupakan tradisi baik, walaupun tidak ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menetapkan keabsahan tradisi-tradisi di atas.

 

Apabila kita perhatikan satu-persatu tradisi tersebut, maka sungguh ia menyimpan kebajikan luar biasa.

 

Tradisi berpuasa di bulan Rajab meskipun tidak ada hadits yang shahih yang secara tegas menyatakan keabsahan puasa tersebut, tetapi sebagai seorang muslim apakah salah apabila seseorang melaksanakan puasa sunnah Rajab ini. Sesungguhnya tidak ada nash hadits yang secara tegas melarang seseorang untuk berpuasa sunnah, kecuali mengkhususkan puasa sunnah di hari Jumat.

 

Oleh karena itu berpuasa di awal, pertengahan  atau di akhir bulan Rajab sah secara hukum berdasarkan “kaidah umum kebolehan melaksanakan puasa sunnah”.

 

Dari Yusuf al Qardhawi berpandangan bahwa berpuasa di bulan haram ini diterima dan sunnah hukumnya dalam kondisi apapun. Hanya saja tidak ada penjelasan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan puasa satu bulan penuh di bulan Rajab ini. Rasulullah Saw melaksanakan puasa secara penuh satu bulan hanya di bulan Ramadhan.

 

Di sebagian daerah terdapat sekelompok umat Islam yang melaksanakan puasa selama sebulan penuh di bulan Rajab. Ada juga yang melaksanakan puasa sampai tiga bulan penuh  berturut-turut, yaitu bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan ditambah dengan enam hari puasa di bulan Syawal tanpa terputus lalu pada hari ke delapan bulan Syawal mereka merayakan kemenangan puasanya tersebut dengan slametan.

 

Itu artinya mereka berpuasa selama tiga bulan penuh ditambah enam hari puasa Syawal secara berturut-turut di mana mereka tidak membatalkannya kecuali ketika hari raya Idul Fitri saja.

 

Semoga bulan Rajab di tahun ini membawa kebaikan-kebaikan bagi yang melaksanakan ibadah di dalamnya secara khusus maupun bagi bangsa Indonesia secara umum.

 

Demikianlah khutbah singkat yang  dapat saya sampaikan semoga memberi manfaat.  

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

 الْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ بَسَطَ لِعِبَادِهِ مَوَاعِدَ إِحْسَانِهِ وَإِنْعَامِه ، وَأَعَادَ عَلَيْنَا فِى هَذِهِ الأَيَّاّمِ عَوَائِدَ بِرِّهِ وَإِكْرَامِه ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَزِيْلِ إِفْضَالِهِ وَ إِمْدَادِهْ ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ جُوْدِهِ بِعِبَادِهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِىْ مُلْكِهْ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفُ عِبَادِهِ وَزُهَّادِهْ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الكَرِيْمِ وَالرَّسُوْلِ الْعَظِيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا أُمَرَاءَ الْحَجِيْجِ لِبِلاَدِ اللهِ الْحَرَامِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Dr. Tohirin Lc, M.Ag Ketua Tanfidziah  MWCNU Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang dan Pengasuh Majelis Ta’lim wa Dzikir el-Tahir, Kabupaten Tangerang, Banten

 


Khutbah Terbaru