• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Warta

PBNU : 1 Ramadhan Jatuh pada 3 April 2022

PBNU : 1 Ramadhan Jatuh pada 3 April 2022
KH Yahya Cholil Tsaquf saat membacakan ikbar
KH Yahya Cholil Tsaquf saat membacakan ikbar

Jakarta, NU Online Lampung
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PBNU menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau 3 April 2022. Maka Sabtu malam kaum muslimin di Indonesia sudah dapat melaksanakan shalat tarawih. 


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf dalam ikhbar Nahdlatul Ulama mengatakan, Nahdlatul Ulama menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 3 April 2022 atau hari Ahad. 


“Berdasarkan perukyat NU di seluruh Indonesia, dinyatakan hilal tidak terlihat. Hal tersebut maka awal Ramadhan jatuh pada 3 April 2022 atau bertepatan dengan hari Ahad,” ujarnya. 


Dalam rangka penetapan awal Ramadhan 1443 H, perukyat di bawah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, pada 29 Sya'ban 1443 H atau 1 April 2022, telah melakukan rukyatul hilal bil fi’li di 50 lokasi di seluruh Indonesia. Berdasarkan laporan LFNU, di seluruh lokasi tidak berhasil terlihat hilal, dengan demikian umur bulan sya’ban 1443 H adalah istikmal (digenapkan) 30 hari. Dengan ini PBNU mengikhbarkan awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Ahad tanggal 3 April 2022. 


Sebelumnya LFNU PBNU melalui aplikasi zoom meeting menerima laporan dari berbagai daerah yang mengadakan pengamatan rukyatul hilal. Hasilnya adalah Indonesia bagian Timur dan tengah tidak terlihat hilal, karena mendung dan hujan. Maka Lembaga Falakiyah NU menunggu hasil dari Indonesia Bagian Barat. 


Sedangkan Indonesia Bagian Barat juga melaporkan beberapa daerah melaporkan hilal tidak terlihat karena mendung dan awan tebal, seperti Bojonegoro, Blitar, Kudus, Semarang, dan lainnya. 


Adapun kriteria imkanur rukyat Nahdlatul Ulama sama dengan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yakni dengan 3 derajat tinggi hilal, serta elongasi 6,4 derajat yang mulai digunakan di Indonesia pada tahun 2022. 


Transisi dari kriteria yang baru ini terjadi karena perubahan lingkungan, seperti polusi udara, dan penggunaan bahan bakar fosil dalam 50 tahun terakhir. Penggunaan minyak gas dan batu bara yang menyebabkan asap bertahan lama di atmosfer. Sehingga menghancurkan cahaya dan membuat langit tersebut menjadi redup, termasuk hilal. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya pembaharuan kriteria dalam melihat hilal.  
(Dian Ramadhan)
 


Warta Terbaru