• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 25 Mei 2024

Opini

Tirakat: Suatu bentuk Spiritual dari Pesantren 

Tirakat: Suatu bentuk Spiritual dari Pesantren 
Gambar seorang santri sedang tirakat mengaji kitab kuning di salah satu pondok pesantren
Gambar seorang santri sedang tirakat mengaji kitab kuning di salah satu pondok pesantren

Riyadhoh atau tirakat merupakan sebuah laku spiritual yang biasa ditempuh seseorang guna mencapai sesuatu yang diinginkan. Kata “tirakat” merupakan penjawaan dari kata bahasa Arab, yakni thariqah yang bermakna jalan atau jalan yang dilalui. Tirakat memang kerap digunakan pada suatu tradisi masyarakat tertentu, tapi istilah ini lebih sering ditemukan dan digunakan di kalangan pesantren, khususnya pesantren salaf atau tradisional.

 

Di kalangan pesantren, tirakat menjadi pusaka andalan para santri (seorang pelajar ilmu agama yang tinggal dan belajar di pondok pesantren) yang digunakan untuk mencapai hajat tertentu. Misal, untuk dimudahkan dalam menghapal, dicerdaskan akalnya, dimudahkan dalam menghadapi ujian, dan masih banyak contoh lainnya. Tentu seorang santri memiliki hajat masing-masing dengan berbagai tirakatnya. Semakin besar hajatnya, maka semakin berat pula laku tirakatnya.

 

Ada berbagai jenis tirakat yang dikenal di kalangan pesantren, diantaranya adalah puasa Daud (Sunnah Nabi Daud), puasa Senin-Kamis, mutih, ngrowot, ngebleng, dan lain-lain. Tirakat tersebut biasanya juga diiringi dengan pembacaan hizib, doa, ratib, istigasah dan amalan-amalan tertentu yang diperoleh dengan cara ijazahan dari guru atau kiyai. Sedang cara mengamalkan atau melakukan tirakat bisa berbeda-beda di antara setiap pelaku, tergantung bagaimana ijazah yang diberikan oleh guru.

 

Dari tradisi tersebutlah menjadi pembeda antara pesantren dengan lembaga pendidikan pada umumnya (non-pesantren). Karena, di pesantren seorang santri tidak hanya dididik pada aspek intelektual belaka, melainkan juga pada aspek spiritual dan emosional.

 

Seorang santri ketika menjalani tirakat tertentu, mereka memiliki keyakinan bahwa bisa menjadikan kualitas spiritual semakin dekat dengan Allah swt dan bisa cepat dikabulkan segala hajatnya, bila dilakukan dengan benar dan diselesaikan secara sempurna. Bahkan tak sedikit seseorang yang diangkat derajatnya menjadi wali Allah lantaran tirakat yang ia lakukan. 

 

Seperti halnya Raden Sahid yang menjalani tirakat menyepi (uzlah) di tepi sungai selama bertahun-tahu lalu diangkat derajatnya dan diberi keistimewaan oleh Allah swt berupa karamah, dan atas kejadian itulah kemudian beliau dikenal dengan julukan “Sunan Kalijaga”.

 

Ada sebuah adaigum yang cukup masyhur di kalangan para santri: “sopo sing gelem tirakat, bakale keramat” (siapa yang mau melakukan tirakat, maka akan menjadi mulia). Adaigum ini menyuratkan bahwa siapa saja seseorang yang mau dan mampu menjalani tirakat sampai tuntas, maka ia akan menjadi seseorang yang hebat dan mulia. Tetapi juga dengan catatan menjalaninya harus dengan sungguh-sungguh dan istikamah.

 

Sebenarnya tirakat juga bersifat umum, bisa dilakukan semua umat Islam (santri). Dalam hal ini dimaksudkan tirakat yang tidak perlu membutuhkan ijazah ritual tertentu, atau perjanjian tertentu atas petunjuk guru atau kiai. Seperti tirakatnya seorang santri dengan selalu rajin mengaji dan shalat berjamaah. Maka dengan selalu mengamalkan dan mengistikamahkan keduanya, insyaallah ilmunya dapat menjadi berkah dan bermanfaat.

Wahyu Agil Permana, Mahasiswa Universitas Lampung 


Opini Terbaru