• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Warta

Pentingnya Amalan Tirakat untuk Permudah Menghafal Al-Qur’an

Pentingnya Amalan Tirakat untuk Permudah Menghafal Al-Qur’an
Kegiatan khotmil Qur'an dan evaluasi santri di Pesantren Al Hikmah
Kegiatan khotmil Qur'an dan evaluasi santri di Pesantren Al Hikmah

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Pengajar Pondok Pesantren Al Hikmah, Kedaton, Bandar Lampung, Ustadz Ahmad Rozi Al-Hafidz menekankan perlunya seorang santri melakukan kegiatan riyadloh atau tirakat sebagai selingan dalam menghafal Al-Quran. Cara tersebut dilakukan agar para santri yang tengah menghafal Al-Quran dapat istiqomah dan menghindari rasa putus asa.

 

Hal tersebut disampaikan Ustadz Rozi saat memimpin doa dalam kegiatan Khotmil Qur’an dan Evaluasi Santri kelas 10 IPA Takhassus Tahfidz MA Al Hikmah, di Gedung Studio Al Hikmah, Kamis (2/11). 

 

“Riyadlah atau tirakat itu tujuannya supaya santri dimudahkan dalam menghafal, dilancarkan, dan hafalannya tetap terjaga. Karena menghafal itu sulit, hari ini setor satu lembar, tetapi lembar sebelumnya bisa kabur lagi,” ujar Ustadz Rozi.

 

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Rozi juga mengijazahkan bentuk riyadhoh berupa shalat hajat dua rakaat kepada para santri. Cara tersebut didapatkan Ustadz Rozi dari gurunya, Kiai Marwan, ketika masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Qur’an di Demak, Jawa Tengah.

 

Umumnya, riyadlah shalat hajat tersebut menurut Ustaz Rozi, dilaksanakan setelah waktu shalat Maghrib atau Isya. Dalam pelaksanaannya, pada rakaat pertama setelah membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan dengan bacaan surah Al-Kafirun. 

 

"Sementara surah yang dibaca di rakaat ke dua adalah surah Al-Ikhlas. Setelah sujud terakhir santri dapat membaca kalimah La Ilahaillah anta subhanaka inni kuntu minaddzalimin sebanyak 41 kali. Amalan tersebut disempurnakan dengan memohon doa agar diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam hati, ketika melakukan sujud, " paparnya. 

 

Dia menjelaskan, selain melakukan amalan tersebut, para santri juga perlu meningkatkan rasa syukur dan terus menghidupkan amalan-amalan baik lainnya yang disampaikan para guru.

 

 “Saya mengijazahkan amalan untuk terus menghidupkan amaliah dari guru saya, dan jika kalian nanti memiliki murid maka ijazahkan kembali, agar sanadnya terus tersambung,” kata Ustadz Rozi.

 

Selain riyadloh shalat hajat, dia menyebut jenis riyadloh lainnya, diantaranya dengan berpuasa sunah. Namun dia berpesan agar para santri penghafal Al-Qur’an jika saat melakukan puasa, menjadi malas menghafal, agar memilih tidak melakukan puasa.

 

“Guru saya, Mbah Kiai Marwan, melarang santri tahfidz untuk melakukan puasa sunah, jika dalam mengerjakan puasa tersebut justru menjadikan malas mengaji, karena lemas dan tidur. Padahal puasa sunah hukumnya sunah sedangkan mengaji hukumnya wajib,” tegasnya.

 

Dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren tempatnya belajar, Ustadz Rozi mengaku selalu menggunakan waktu dengan semaksimal mungkin. 

 

Dia bercerita bahwa harus setor hafalan dihadapan gurunya tiga kali dalam sehari, yaitu pagi, siang, dan malam hari. Bahkan semua waktu menurut dia harus digunakan untuk menghafal Al-Qur’an.

 

Dalam kegiatan Doa khotmil Qur’an yang diselenggarakan Wali Kelas IPA Tahfidz Ustadz Ramadhani, dihadiri beberapa para pengurus Pondok Pesantren Al Hikmah.

 

Diantaranya Lurah Pondok Al Hikmah Ustadz Mahfudz Nasir, pengurus bidang pendidikan Ustadz Slamet Fauji dan Ustadz Jamaluddin, dan bidang multimedia Ustadz Aji Saputra. 

 

Kegiatan yang dimulai dengan pembacaan surat Al-Ikhlas, Al-Falak dan Annas, ditutup dengan doa khotmil Qur’an serta ditambah tausyiah singkat oleh Ustadz Ahmad Rozi Al-Hafidz yang bertujuan memberikan semangat menghafal Al-Qur’an para santri. 

 

(Yudi Prayoga)


Warta Terbaru