• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 27 November 2022

Opini

Saring Dahulu Baru Sharing (Dibagi)

Saring Dahulu Baru Sharing (Dibagi)
Ilustrasi media sosial
Ilustrasi media sosial


Bermain media sosial (medsos) memang kadang menyenangkan. Kita bisa satu harian penuh hanya berselancar di medsos, menikmati segala keindahan yang sajikan oleh semua orang di dunia.

 

Akan tetapi bermain media sosial juga kadang menjadikan celaka bagi orang-orang yang kurang bijak dalam bermedsos, sehingga hal tersebut menjadikannya terjerumus dalam keburukan dan kemaksiatan. 

 

Apalagi hal tersebut malah digunakan untuk mencari rezeki berupa uang, yang dengan uang tersebut dibelikan makan dan kehidupan bagi keluarganya. Sehingga apa yang dikerjakan hanya penuh kemadaratan.

 

Minggu-minggu ini, rakyat Indonesia bisa belajar dari kasus seorang pegiat media sosial yang menghina salah satu Ustadzah Dzuriyyah Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur, yang dalam videonya ustadzah menjelaskan masalah bidadari di surga dengan sumber kitab Ibnu Katsir. Karena ketidaktahuannya tentang ilmu agama, sehingga pegiat medsos tersebut mengomentari dengan kata-kata yang kasar. 

 

Dari sini kita bisa tahu, segala sesuatu yang bukan bidang kita, atau sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak mungkin bisa kita komentari semua dengan benar. Sebaiknya bertanyalah kepada ahlinya, baru bisa berkomentar. Karena berkomentar tanpa landasan hanyalah hawa nafsu yang merendahkan dirinya sendiri.

 

Seseorang yang tidak pernah paham agama, tidak pernah ngaji di madrasah atau pondok pesantren, tidak bisa membaca kitab kuning, kitab-kitab klasiknya para ulama salaf, tidak sepantasnya ikut berkomentar yang dia sendiri tidak paham sama sekali masalah tersebut. 

 

Padahal jauh sebelum kasus ini terjadi, Gus Nadirsyah Hosen, telah mengingatkan  kita semua dalam bukunya Saring Sebelum Sharing agar selalu berhati-hati dalam bermedsos, disaring terlebih dahulu baru di share (dibagi). 

 

Karena tulisan merupakan perpanjang tangan dari lisan, maka perlunya berpikir sebelum mengucap dalam ketikan.  Karena akallah, manusia bisa mencapai kebenaran dan pencerahan, dan karena dengan akal yang dungu jugalah manusia bisa tersesat dan terjerumus. 

 

Cukuplah, jempol kita gunakan untuk mengklik yang baik-baik dan untuk mengetik yang baik pula. Karena kebaikan akan selalu mendatangkan kebaikan juga, meski dengan jalan yang tidak disangka-sangka. 

 

Maka dari itu, boleh-boleh saja kita bermain media sosial, seperti IG, FB, twitter, tiktok, dan lain sebagainya asalkan digunakan untuk media dakwah dan kemaslahatan bagi semua orang. Jika memang tidak bisa berdakwah di dalamnya, cukuplah dijadikan hiburan yang baik, bukan yang mengandung maksiat adu domba dan syahwat. 

 

Tetaplah santun, santai, berisi, bijak dan menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainya.

 

Yudi Prayoga, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandar Lampung


Opini Terbaru