• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

NU Lampung Tengah Butuh Ikon Daerah

NU Lampung Tengah Butuh Ikon Daerah
gambar tugu Pepadung Lampung Tengah
gambar tugu Pepadung Lampung Tengah

DALAM sejarah pergerakan Nahdlatul Ulama (NU) di Provinsi Lampung,  NU Kabupaten Lampung Tengah relatif tidak pernah memiliki kisah yang runyam. Misalnya, dalam buku Sejarah dan Pertumbuhan NU di Lampung yang ditulis oleh Ila Fadilasari, bagaimana susahnya menyatukan NU Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 1990-an.

 

Di kabupaten Lampung Tengah tidak terjadi yang demikian. Banyak kiai sepuh yang masih ditaati jamaahnya. Pergerakan aktifis muda NU melalui lembaga NU dan Badan Otonom (Banom) nya, serius bergerak untuk organisasi.  

 

Meski begitu, dalam perkembangannya NU Lampung Tengah butuh ikon daerah. Butuh karya monumental sebagai bukti eksistensi NU di Kabupaten Lampung Tengah, ini sangat penting sebagai identitas NU untuk ke depannya.

 

NU Lampung Tengah sudah besar sejak dulu. Tahun 1999 dipisah menjadi tiga cabang, yakni PCNU Kabupaten Lampung Tengah, PCNU Kota Metro, dan PCNU Kabupaten Lampung Timur.  Ketiganya tetap berjalan dan eksis, tidak berkurang sedikitpun. Justru, semakin berkembang pesat.  

 

Tetapi tetap saja NU  Lampung Tengah butuh ikon NU sebagai kebanggaan anggotanya. Contohnya kota Metro yang memiliki kampus Ma’arif, kampus yang menjadi kebanggaan warga NU Kota Metro hingga saat ini, juga memiliki BMT yang dikelola oleh PCNU Metro.  

 

Begitupun dengan PCNU  Lampung Timur, ada Universitas Nahdlatul Ulama (UNU). Meski sesungguhnya kampus tersebut milik PBNU dan wewenangnya sepenuhnya ada di PBNU, tetapi tetap saja UNU sebagai ikon kebanggaan warga NU Lampung Timur, karena letak geografis kampusnya.

 

Lalu, apa yang harus dilakukan NU Lampung Tengah agar memiliki ikon ke-NU-annya? Di  Lampung Tengah memang ada perguruan tinggi, tapi faktanya itu adalah milik tokoh NU, bukan milik PCNU. Begitupun jika ada BMT atau badan pengelola keuangan yang berbasis syariah, juga milik tokoh NU. Atau bisa diistilahkan adalah milik “NU Kultural”.  

Salah satu ikon yang layak menjadi kebanggaan warga NU Lampung Tengah, yakni mendirikan rumah sakit NU. Apa mungkin? Mungkin saja. Di tengah alam bebas dan akses informasi yang tak terbatas ini, memiliki rumah sakit sangat logis dan mungkin saja tercapai.  

 

Apalagi, NU sebenarnya memiliki SDM-nya. Misalnya, bagi warga NU Lampung Tengah bagian timur khususnya, pasti kenal dengan tokoh bernama dokter Fanani, yang juga merupakan warga NU tulen. Beliau aktif di MWC. Belum lagi wakil bupatinya, yang juga merupakan kader NU, sekaligus berprofesi sebagai dokter juga. 

 

Sekian banyak alasan optimis tersebut, pasti tidak mudah mewujudkannya, tetapi juga tidak sesulit masa lalu untuk memulainya, tinggal bagaimana NU Lampung Tengah mewujudkannya.

 

NU sekarang dengan NU tahun 2000-an atau sebelumnya, sangatlah berbeda. Sekarang latar belakang pendidikan kader NU bermacam-macam. Ada sarjana pendidikan, sarjana hukum,  dokter, bidan, atau mungkin juga spesialis. Mereka semua butuh wadah, butuh tempat. Tidak hanya untuk mengabdi, tetapi juga bekerja mengamalkan ilmunya.

 

Tempo dulu, kalau ada kader NU yang mengajar di sekolah di luar organisasi NU, apalagi yang aqidahnya bertentangan, maka pengurus NU layak memprotesnya. Karena NU memang mempunyai banyak sekolah. Entah NU struktural maupun NU kultural. NU memiliki madrasah yang sangat banyak. Jadi, kader NU tak punya alasan untuk menyeberang ke lembaga yang berbeda. 

 

Satu hal yang jelas. Jika kita tidak segera mewujudkan ikon kebanggaan warga NU Lampung Tengah, jangan salahkan jika ada kader NU yang kuliah di bidang kesehatan, setelah lulus bekerja dan mengabdi di tempat "seberang".  Selagi pengurus NU belum menyediakan rumah untuk kader-kader NU yang mulai beragam latar belakang pendidikannya. 

 

Rahmat Basuki, Ketua PC IPNU Kabupaten Lampung Tengah, Masa Khidmah 2009-2011


Opini Terbaru