• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Manusia Wajib Bersyukur dari Segala Titipan Allah Atas Kepemilikan Semu 

Manusia Wajib Bersyukur dari Segala Titipan Allah Atas Kepemilikan Semu 
ilustrasi harta dunia
ilustrasi harta dunia

MANUSIA memang memiliki rasa memiliki, namun sifatnya terbatas dan semu. Hanya majazi, bukan asli. Semua yang dimiliki manusia hanyalah barang titipan Tuhan. Baik berupa barang primer, sekunder maupun tersier, seperti rumah, tanah, kendaraan, pakaian, dan perhiasan.  Bahkan jasad dan ruh kita sendiri bukan milik kita.

 

Kesemuanya milik Allah. Dan Allah memiliki hak untuk mengambil barang titipannya kapanpun ia menghendaki. Allah sangat gampang untuk menarik miliknya kembali. Dengan didatangkan banjir, longsor, tsunami, kebakaran, kemarau dan sebagainya.  

 

Tidak perlu jauh dengan barang yang dimiliki. Kata “memiliki” saja sejatinya milik Allah yang dititipkan untuk kemaslahatan manusia. 

 

Ketika manusia dititipi segala sesuatu oleh Allah, sikap yang harus diambil oleh manusia yakni mengedepankan rasa bersyukur, menjaga dengan amanah dan digunakan untuk hal-hal yang baik, bukan untuk maksiat.  

 

Ketika dititipi akal yang sehat oleh Allah, jangan sampai amanah tersebut dilalaikan dengan cara mengotorinya. Seperti mengkonsumsi minum-minuman keras yang menjadikan mabuk hingga hilang akal, dan mengkonsumsi narkotika. 

 

Akal merupakan anugerah Allah yang istimewa. Seyogyanya digunakan untuk kebaikan, seperti berpikir, meneliti dan mengamati ilmu Allah. Jangan dibiarkan menganggur, karena salah satu maksiatnya akal yakni membiarkannya tetap bodoh. 

 

Dengan hati pun sama. Salah satu titipan Allah yang sangat berharga, jangan sampai dikotori dengan sesuatu penyakit duniawi, seperti hasad, dengki, sombong, haus pujian dan berburuk sangka. Jika ada yang memuji kita, seperti kamu ganteng, cantik, pinter dan bijaksana, cukup katakan Alhamdulillah, segala puji milik Allah. Kembalikan pujian itu kepada pemilik asalnya, Allah. 

 

Setelah mengucap hamdalah, ucapkan juga semua ini keutamaan dari Tuhanku. Karena sejatinya kita memang tidak memiliki keutamaan dan pujian sama sekali. Segala keutamaan dan pujian berasal dari Allah dan wajib dikembalikan kepada Allah. 

 

Islam sangat menganjurkan semua manusia untuk selalu bersyukur. Allah sendiri berfirman bahwa jika kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmatnya. Namun jika kita ingkar (kufur), maka akan mendapat siksa yang pedih. 

 

Dalam agama Islam, dititipi rasa iman kepada Allah merupakan kebanggaan yang wajib disyukuri, bukan disombongkan. Harus bersyukur karena pernah sujud kepada Allah. Karena di luar sana banyak orang-orang yang belum diberi iman oleh-Nya. 

 

Ketika kita rajin shalat, berjamaah lima waktu di masjid, jangan sampai sombong karena merasa atas kehendak kita sendiri. Karena sejatinya Allah lah yang menuntun hati kita untuk tergerak hatinya shalat lima waktu dan berjamaah di masjid, Allah masih menitipkan hidayah ke dalam hati kita. 

 

Maka ketika sepanjang hari masih diberi hidayah oleh-Nya dan bisa melaksanakan shalat lima waktu, syukurilah dan jangan sombong. 

 

Berbicara masalah kepemilikan tidak akan ada habisnya. Sangat beruntung jika 24 jam pikiran dan hati kita masih terjaga untuk selalu bersyukur dari segala titipan Allah. Hidupnya pun akan selalu berkah dan tidak waspada. Hatinya tidak terikat duniawi. Karena memang sejatinya semuanya bukan miliknya. Hidupnya akan santai dan penuh ibadah kepada Allah. 

 

Orang yang memiliki hati bersih dan suci, jika Allah menitipkan harta kepadanya, maka akan digunakan kepada kebaikan. Digunakan untuk ibadah, bukan untuk maksiat. Seperti kisah Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw yang menghabiskan hartanya dijalan Allah untuk menegakkan agama Islam. 

 

Kisah Sayyidina Abu bakar, yang juga menyuruh kaum muslimin mengambil semua hartanya untuk berdakwah, ketika ditanya, “Kalau kami ambil semua lalu apa yang engkau miliki? ". Jawabnya :  “Saya masih memiliki Allah Swt”. 

 

Karena sesungguhnya harta yang dishadakahkanlah yang sejatinya kita miliki. Semakin banyak berderma di dunia, maka semakin banyak harta di akhirat. 

 

Islam tidak melarang umatnya untuk kaya raya. Namun Islam memerintahkan umat Islam untuk membayar zakat, shadaqah serta bersyukur kepada Allah, serta menggunakan hartanya untuk kemaslahatan umat manusia. Segala sesuatu yang memang semuanya dikembalikan kepada Allah. 

 

Yudi Prayoga, Sekretaris MWCNU Kedaton Bandar Lampung


Opini Terbaru