• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 25 September 2022

Seni Budaya

Cerpen

Cerpen : Sumur Tua dan Danau Kematian

Cerpen : Sumur Tua dan Danau Kematian
Ilustrasi danau
Ilustrasi danau


Cerita Pendek Annas Sholahuddin


Anakmu meninggal dunia. Kini kau hidup sendiri. Kau sempat bercerita padaku, tentang kematian anakmu yang mati tenggelam di danau. Di hadapanku, matamu meleleh, terisak penuh kesedihan, seakan tak ada hidup yang lebih menyedihkan, kecuali ditinggalkan.


Anakmu tenggelam, ketika bermain perahu di tengah danau. Ia terpeleset, ketika ia berdiri melempar batu-batu kecil di atas perahu di tengah danau, lalu ia tercebur. Ia sempat meraih perahu dan berusaha agar  tidak tenggelam. 


Seorang pak tua hendak menolong, kemudian  bergegas menuju ke tengah danau menggunakan perahu. Anakmu berteriak sambil berusaha mengangkat tubuhnya ke permukaan, berusaha menyelamatkan diri.


“Tahan sebentar!” teriak lelaki tua. Pak tua terus mendayung menyusuri air yang tenang, kebiru-biruan. Sementara anakmu masih dengan keadaan hampir sekarat. Lelaki tua terus mendayung perahunya.


Sedangkan bocah itu terus meraih perahunya, tetapi perahu itu malah terbalik diiringi pekikan. Ia terus berusaha untuk tidak tenggelam dengan menahan tubuhnya supaya tidak tenggelam, tetapi beberapa waktu kemudian bocah malang itu tetap tenggelam. Lenyap, menyisakan gelembung-gelembung kecil.


Lelaki tua tercengang. Hanya bisa melihat anakmu tenggelam. Sementara di sekitar danau tidak ada orang satu pun. Ia sering melihat anakmu bermain perahu di danau. Sendirian dan selalu menyendiri. Dan, tampak murung. Berlama-lama di atas perahu, duduk berkaca pada air yang tenang, terlihat hidungnya datar, rambutnya jarang. 


Sesekali melempar kerikil ke permukaan danau. Setiap kali datang ke danau, ia selalu bersedih. Ia juga sering menengok sumur tua yang kedalamannya sekitar 15 meter. Sumur itu tak berair. Gelap. Ditumbuhi tanaman menjalar dan lumut-lumut tak beraturan di sisi dinding-dinding yang mulai termakan usia. 


Pak tua itu sering melarang agar tidak menengok ke dalam sumur itu, tetapi anak itu, selalu abai dengan perkataannya. Pak tua itu sering menakut-nakuti dengan menceritakan keangkeran sumur itu.  Pada malam hari, di dalam sumur itu sering muncul suara-suara yang membuat bulu bergidik. Suara-suara jeritan, mengerang kesakitan, lirih tangisan. 


Pak tua juga menceritakan, jika danau ini sering menenggelamkan banyak orang.  Orang-orang menyebutnya dengan danau kematian, sebab sudah banyak penduduk yang menjadi korban. 


Hampir setiap hari, anakmu ke danau. Setelah senja akan tenggelam, ia kembali ke pondok. Kembali ke pondok dengan wajah cemas. Gelisah dan ada perasaan takut. Ia sering tertekan, karena sering dibully oleh teman-teman sekamarnya, bahkan satu asrama. 


Ia tidak betah di kamarnya sendiri. Selalu waswas ketika masuk kamar, merasa takut dan gelisah. Kerap kali ia dikerjai oleh teman-temannya. Di suatu malam, selepas kegiatan asrama, ia dikerumuni oleh teman-temannya. Diturunkan sarungnya, kemudian dilempar ke sana ke mari.


Tidak cuma itu, ia juga sering diperlakukan tidak baik oleh mereka. Membuat ia  sampai menangis. Ia sering mendapat ancaman, jika sampai melaporkan pada pengurus pondok. Mereka tidak segan-segan untuk berbuat lebih buruk dari sebelumnya. 


Ia sering murung dan tampak selalu menyendiri dan menutup diri. Kerap kali, ia ingin keluar dari pesantren, tetapi ibunya selalu menahannya. 


“Tidak betah di pesantren itu hal yang wajar. Jika kau ingin  menuju keberhasilan, maka lewatilah semua itu. Tidak ada perjuangan yang mudah. Bersabarlah di sana,” ucapmu.


“Aku sudah tidak betah di pesantren Bu. Aku sudah tidak tahan dengan perlakuan teman-temanku,” keluhnya. 


Kau hanya bisa menenangkannya dengan memberikan semangat dan bisa menyuruhnya untuk bertahan. 
Kau berharap besar pada anakmu. Kau banting tulang untuk membiayai anakmu di pesantren. Kau berharap, anakmu menjadi penyelamat untukmu di suatu hari kelak. Anakmu keluarga satu-satunya yang kau miliki setelah suamimu meninggal dunia akibat kecelakaan.


Beberapa bulan yang lalu, kau pasrahkan anakmu kepada Kiai Sobar untuk menimba ilmu di pesantrennya. Lelaki setengah abad lebih itu, menghela napas panjang. Dahinya mengkerut. Ada gejolak dalam hatinya. Selebihnya, ia menahan amarah yang apabila dikeluarkan akan seperti air bah yang tidak bisa dibendung. 


Tetapi Kiai Sobar sungguh orang yang bisa mengendalikan diri. Seringkali, ia merapalkan zikir yang bisa melunakkan amarahnya.  Sedangkan wajahmu tertunduk lesu.


Tak berani menatap Kiai Sobar saat kau berterus terang dengan silsilah keluargamu. Kau bicara terbata-bata, ketika kau jujur apa adanya. Apa adanya dengan kenyataan yang ada. 


Terasa berat kau mengatakannya seperti menahan bongkahan batu dengan ratusan biji. Tetapi Kiai Sobar mengizinkan anakmu menimba ilmu di pesantrennya. 


***


Danau itu tampak tenang. Bagitu damai dengan air yang mengalir, kebiru-biruan. Airnya sangat sejuk. Di tumbuhi pohon-pohon jati di tepi-tepi danau. Terdapat jembatan yang menghubungkan dua desa; Kanigoro dan Cigrok. Danau itu menjadi sumber irigasi ladang-ladang para warga. 


Lelaki tua itu bernama Kusman. Ia menggarap ladangnya yang tidak terlalu jauh dengan danau itu. Bertelanjang dada sibuk mencangkul. Tulang dada begitu nampak dan kulit yang sudah tidak kencang. Setiap hari, tidak ada pekerjaan lain selain menanam jagung dan tembakau.


Ia selalu membawa rantang berisi nasi pecel buatan istrinya. Kusman tinggal bersama keluarga dan anak semata wayangnya yang lumpuh. 
Di sekitar danau, terdapat sumur tua. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, ada peristiwa lampau yang menyedihkan. Peristiwa keji dan bengis.


Kusman menjadi saksi atas kekejaman orang-orang biadab itu. Ia sering mengintip orang-orang itu, melakukan pembantaian kepada orang-orang yang malang itu. Orang-orang itu dieksekusi dengan kejam. Masyarakat,  pejabat atau pun tokoh agama dibunuh. Peristiwa itu tidak pernah terlupa oleh benaknya.


Seringkali, ia melihat membantaian masal.
Ia sering melihat orang-orang digiring ketempat dekat sumur tua itu. Tepatnya di dekat danau. Setelah penyerbuan ke tempat ibadah yang lalu, seringkali orang-orang digiring ke tempat itu. Beberapa orang mengenakan pakaian hitam dan memakai ikat kepala berwarna merah itu membawa senjata api.


Orang-orang di dalam tempat ibadah itu panik tak terkira. Orang-orang bersenjata itu memporak-porandakan isi masjid. Kitab suci injak-injak. Ada seseorang mencoba melawan dan akhirnya dahinya tertembus timah panas. Mengalir darah di lantai.  Beberapa orang dibawa oleh sekelompok bersenjata.


Kelompok bersenjata itu berunding atas pembagian tanah pamong-pamong desa dan membujuk agar mau bergabung bersama. Tetapi sebagian mereka menolak rundingan itu. Akibatnya mereka disiksa dengan kejam. Dipukul menggunakan gagang senjata berkali-berkali. Jari tangan mereka dipotong. 


Kusman sering mendengar jeritan orang-orang yang tidak mau diajak bekerja sama.  Siksa itu pun berakhir dengan penjagalan satu persatu orang-orang naas yang kemudian dimasukkan dalam sumur dengan kondisi sekarat atau pun meregang nyawa. 


Kusman masih ingat betul waktu itu, salah satu korban yang dimasukkan ke dalam sumur itu melantunkan adzan di lubang sumur itu. Salah satu korban yang melantunkan adzan adalah seorang tokoh agama desa setempat.


Jam malam. Waktu itu mulai diberlakukan jam malam. Penduduk tidak berani ketika malam hari keluar dari rumah. Orang-orang bersenjata itu tidak segan-segan meluncurkan peluru tepat di kepala penduduk, jika ada yang melanggar. 


Bunyi adzan tak pernah terdengar di masjid atau surau. Penduduk ketakutan. Hanya bisa berdiam diri di rumah. Sejak penyerbuan beberapa hari yang lalu,  tidak ada yang berani keluar malam. Kusman juga sering melihat kereta lori mengangkut tawanan untuk dibantai lalu dimasukkan ke dalam sumur itu. 


“Kapan orang-orang itu musnah? Kapan Allah akan menurunkan malaikat-malaikatnya untuk membasmi orang-orang bengis itu.”  


“Jangan bicara keras-keras, di luar sana ada patroli malam.”


Seketika terdengar suara dobrakkan pintu. Derap langkah mengentak lantai. Orang-orang bengis itu masuk ke dalam rumah. Mereka mengacungkan senjata. Terdengar suara tembakan beberapa kali, disusul jeritan memecah malam. Hening. 


Mayat sekeluarga itu diseret keluar dari rumah, dibawa ke sumur itu. Di sumur itulah, kebiadaban orang-orang laknat itu melakukan kekejaman. Sumur itu, diperkirakan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda untuk mengambil air para penduduk, tetapi pada waktu itu digunakan untuk pembuangan mayat.  


Langit kemerah-merahan. Suara gemuruh api bekerja. Orang-orang berteriak. Jilatan api membakar tempat ibadah. Membakar beberapa sekolah-sekolah agama. Suara takbir tak henti-hentinya berkumandang. 


Beberapa orang tak rela tempat ibadah mereka dibakar. Sekuat tenaga, mereka menghalangi dan mencoba melawan dengan senjata seadanya. 


Segerombolan pemuda ikut membantu menghalau orang-orang yang ingin membakar tempat itu. Mereka berjuang keras untuk mempertahankan tempat mereka. Namun tak sedikit Dari mereka yang rebah satu persatu. 


***


Kini kau hidup sendiri. Kau bermaksud untuk menyedekahkan hartamu kepada Kiai Sobar untuk pesantrennya. Kau bermaksud untuk meminta maaf kepada keluarga Kiai Sobar atas kesalahan di masa lampau. Atas pembantaian yang menewaskan ayah Kiai Sobar. 


Kiai Sobar menerima permintaan maafmu. Ia pun memberikan sebuah wejangan kepadamu agar selalu memperbaiki diri dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. 


Kau mengatakan bahwa, kau tidak punya apa-apa saat kematian tiba. Kau sadar, bahwa kematian adalah janji yang paling setia dari segala janji di dunia ini. 
Kiai Sobar memberikan sebuah bungkus yang berisi jimat berupa tulisan dari kayu kecil yang terlafalkan shalawat. 


“Semoga dengan menyedekahkan harta ini, saya menjadi orang beruntung setelah saya mati. Semoga harta saya bisa menolong saya di akhirat kelak. Saya berharap Pak Yai menerima harta saya yang tidak seberapa untuk pesantren Pak Yai,” ucapmu. 


“Yang sudah terjadi biarlah menjadi masa lalu. Masa depan adalah hari esok.  Kau beruntung,  karena ampunan Allah sangat luas. Saya sudah memaafkan tetapi untuk lupa tidak mungkin.” 

 

Annas Sholahuddin, lahir di Bojonegoro, 16 Juli 1997. Menuntut ilmu di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, program stusi Teknologi Hasil Pertanian (THP).


Seni Budaya Terbaru