• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Pernik

Mengenal Endorfin, Hormon Bahagia sebagai Penguat Imun

Mengenal Endorfin, Hormon Bahagia sebagai Penguat Imun
Dr. dr. Khairun Nisa Berawi, M.Kes, AIFO, Sekretaris Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung
Dr. dr. Khairun Nisa Berawi, M.Kes, AIFO, Sekretaris Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung

Oleh : Dr. dr. Khairun Nisa Berawi, M.Kes, AIFO

 

Era pandemi telah memicu berbagai kasus kesehatan yang bukan hanya berdampak secara fisik tetapi juga secara mental. Peningkatan kualitas hidup membutuhkan bukan hanya terapi fisik yang membangun tetapi juga berbagai pola hidup yang berdampak bagi kesehatan mental.


Berbagai hormon atau neurotransmiter dalam tubuh memberikan pengaruh yang bermakna dalam membangun kesehatan mental. Hormon endorfin merupakan salah satu hormon yang dikenal sebagai "hormon bahagia", berpotensi mengatur mood booster dan meningkatkan respon imun tubuh.


Hormon endorfin membuat perasaan menjadi lebih baik. Endorfin adalah neurokimia yang diproduksi dalam tubuh di kelenjar hipofisis sebagai respons terhadap stres dan rasa sakit.


Endorfin merupakan jenis senyawa seperti opiat yang secara alami dihasilkan oleh tubuh termasuk sel- sel otak, menjadi penghilang rasa sakit alami dengan cara berinteraksi dengan reseptor opiat di dalam tubuh, yang kemudian menurunkan rasa sakit.


Endorfin adalah opiat alami tubuh, yang dirancang untuk menghilangkan stres dan meningkatkan kesenangan (bahagia). Pelepasan endorfin, zat kimia di otak menstimulasi perasaan bahagia, bahkan euforia, dapat dipicu dengan membangun pola hidup "bahagia" seperti olahraga dan asupan makanan yang memicu dihasilkannya hormon endorfin oleh tubuh. 


Para peneliti telah menemukan bahwa sebenarnya ada banyak kegiatan termasuk asupan yang dapat menyebabkan peningkatan endorfin dalam tubuh, yaitu dengan cara beryoga/meditasi, tertawa, makan cokelat, makanan pedas, teh, ginseng, teh herbal, kacang-kacangan, biji-bijian, vanila, buah alpokat, termasuk teratur berhubungan seksual setelah melahirkan dan olahraga. 


Olahraga memicu pengeluaran endorfin secara optimal karena endorfin terutama dikeluarkan sebagai respon terhadap stres dan rasa sakit.  


DR Matthews menyatakan bahwa saat berolahraga efektifitas kerja endorfin dioptimalkan dengan dikeluarkannya serotonin dan norphenylepinefrin pada menit ke 30 hingga 45 aktivitas olahrasa tersebut.  Peningkatan produksi endorfin maksimal 1 jam setelah latihan. Peningkatan endorfin dengan berolahraga bisa menjadi sangat kuat bahkan sama efektifnya dengan terapi konseling atau pengurangan depresi.


Aktivitas fisik seperti olahraga atau kegiatan lain yang dilakukan di sekolah seringkali menstimulasi anak untuk menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Aktivitas fisik intensitas tinggi diawal sekolah memacu peningkatan kadar endorfin sehingga anak akan merasa nyaman dengan berbagai aktivitas yang dilakukan. Selain meningkatkan imunitas hal ini juga meningkatkan optimasi proses belajar pada anak. 


Penelitian pernah menyatakan bahwa pengeluaran endorfin akan optimal dengan latihan berat intensitas tinggi dalam 1 jam, tetapi ternyata pada orang yang melakukan olahraga lari marathon atau joging endorfin juga sudah ditemukan pada 15 menit pertama aktivitas.


Bahkan penelitian terbaru menemukan bahwa kadar endorfin akan meningkat setelah 15-20 menit berolahraga dan pelepasannya menjadi suatu mekanisme yang stabil bagi tubuh khususnya saat berolahraga, bila berolahraga rutin secara rutin.


Ada beberapa pola hidup yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pengeluaran hormon endorfin dalam tubuh. Pertama, dengan makanan tertentu. Diantaranya makan cokelat, makanan pedas, karbo, ginseng, dan ekstrak aroma vanili.

Kedua, menguatkan hubungan sosial yaitu dengan memperbanyak alasan untuk tertawa, senyum sejati, bergosip, dan terbuka dengan perasaan kasih sayang tulus.


Ketiga, yaitu dengan berolahraga.  Beberapa jenis olahraga yang mengoptimasi keluarnya endrofin antara lain, berjalan, hiking, jogging, bersepeda, atau berenang. Kemudian olahraga tim seperti softball, basket, dan sepak bola. Demikian juga olahraga berkelompok, seperti menari apa pun, zumba, kickboxing, karate atau seni bela diri lainnya. Termasuk pilates dan yoga.


Aktivitas yang memicu adrenalin juga bisa meningkatkan hormon endorfin, seperti terjun payung, bungee jumping, hang gliding/gantung meluncur, roller coaster. Aktivitas di rumah juga bisa memicu endorfin, seperti  menanam bunga, berkebun dan membersihkan halaman.


Itu artinya, banyak pilihan yang dapat kita lakukan dalam memproduksi hormon bahagia tersebut. Karena untuk meningkatkan kesehatan mental perlu mengoptimalkan pola hidup sehat dan bahagia.


Penulis adalah Sekretaris Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Provnsi Lampung dan Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Lampung


Pernik Terbaru