• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Keterkaitan Antara Hari Santri dan Hari Pahlawan

Keterkaitan Antara Hari Santri dan Hari Pahlawan
Peringatan hari santri dan hari pahlawan itu saling berkaitan
Peringatan hari santri dan hari pahlawan itu saling berkaitan

Belum lama ini, tepatnya 22 Oktober 2022, kita memperingati Hari Santri Nasional (HSN). Dan pada hari ini 10 November 2022, kita semua bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional.

 

Waktu yang sangat berdekatan antara akhir Oktober dan awal November. Seperti semuanya telah diatur dan ada benang merahnya.

 

Memang keduanya memiliki historisasi yang saling berkesinambungan. Bukan hanya sebuah kebetulan atau rekaan belaka. Akan tetapi bukti keterkaitan antara 22 Oktober dan 10 November bisa dilacak dengan sejarah yang terdokumentasikan. 

 

Sejarah pertempuran 10 November 1945 di kota Surabaya, tidak terlepas dari resolusi jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945 di kampung Bubutan, Surabaya. 

 

Peristiwa itu bermula ketika tentara Inggris datang kembali ke Indonesia membonceng  pihak Netherlands Indies Civil Administration (NICA). 

 

Dan resolusi Jihad sendiri bermula saat Presiden RI Pertama, Soekarno mengirim utusan kepada KH Hasyim Asyari, menanyakan bagaimana hukumnya dalam agama Islam membela tanah air dari ancaman penjajah.

 

Kemudian pada tanggal 21-22 Oktober 1945, KH Hasyim Asyari mengumpulkan wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya untuk membahas bagaimana hukumnya membela tanah air. 

 

Dari pertemuan tersebut  melahirkan Resolusi Jihad yang berisikan keputusan penting, yakni hukum melawan penjajah NICA adalah fardlu ain (kewajiban individu) dan mati dalam perlawanan adalah syahid. 

 

Maka sejak itulah kiai dan kaum santri mulai melawan penjajah, hingga puncaknya pada 10 November di Surabaya. 

 

Ratusan santri di Pulau Jawa dan Madura bertemu dan bertempur di Surabaya. Mulai dari Cirebon pimpinan Kiai Abas Buntet sampai para santri Kediri pimpinan Kiai Mahrus Ali Lirboyo. 

 

Dengan berbekal bambu runcing dan benda tajam lainnya, para santri memenuhi Kota Surabaya untuk membela bangsa dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

 

Selain dibantu para santri dan kiai, tentara Indonesia yang dipimpin Bung Tomo juga dengan gigih bertempur sampai titik darah penghabisan. 

 

Bung Tomo memiliki andil besar dalam mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo, memompa jiwa nasionalisme lewat pidato-pidatonya yang menggugah dan memompa semangat.

 

Sebelum membacakan pidato yang melegenda itu, Bung Tomo terlebih dahulu sowan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada saat itu. Bung Tomo izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan manifestasi dari resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama NU.


Para kiai dan santri merupakan pahlawan bagi bangsa ini. Mereka merupakan pondasi dasar dari terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan semangat cinta tanah air, kiai dan santri tetap membangun peradaban dan mengisi kemerdekaan Indonesia. 

 

Oleh karena itu hari santri dan hari pahlawan merupakan satu paket dalam pencatatan sejarah. Karena di dalamnya ada peran yang besar dari kaum muslimin, khususnya para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. 

 

Kita sebagai santri jangan sampai melupakan sejarah tersebut. Justru kita harus selalu mengenang, menceritakan, dan menulis secara istikamah kisah dari peran ratusan santri terhadap perang besar di Surabaya. 

 

Untuk zaman sekarang para santri tetap diwajibkan untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara mengaji kitab-kitabnya para ulama salaf di pondok pesantren, madrasah diniyyah, TPA dan TPQ. 

 

Dan yang dilawan oleh para santri sekarang adalah penjajah yang bernama "kebodohan". Imam Syafi'i pernah berkata bahwa "Jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan  perihnya kebodohan."

 

Yudi Prayoga, Redaktur Keislaman NU Online Lampung


Opini Terbaru