• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 18 Mei 2024

Opini

Idul Fitri, Inilah Esensi dan Arti dari Perayaannya

Idul Fitri, Inilah Esensi dan Arti dari Perayaannya
Dekan FDIK UIN Raden Intan, KH Abdul Syukur (Foto: Istimewa)
Dekan FDIK UIN Raden Intan, KH Abdul Syukur (Foto: Istimewa)

Ungkapan Idul Fitri biasanya mulai mengemuka, mulai memasuki bulan Ramadhan. Bahkan, menjelang akhir Ramadhan dan datangnya 1 Syawal makin santer diucapkan olah kalangan umat Islam, lebih-lebih yang berpuasa (shaimin wa shaimat), sangat senang dan gembira menyambut 1 Syawal yang terkenal dengan sebutan apa momen Idul Fitri. 


Tak ketinggalan, khatib-khatib ketika menyampaikan khutbah Idul Fitri mereka selalu menyebutkan bahkan menerangkan makna Idul Fitri. Namun, kebanyakan mereka, masyarakat dan khatib-khatib memaknai Idul Fitri adalah kembali suci atau kembali pada kesucian, ini makna yang keliru, dan perlu diluruskan dengan benar.


Momen Idul Fitri, utamanya dimulai dari bulan Syawal yang berarti peningkatan, yaitu bulan peningkatan iman dan taqwa. Uraiannya :


1. Arti dan esensi Idul Fifri

Secara etimologis, Idul Fitri adalah kata yang berasal dari kata ‘id dan kata fitri mendapatkan imbuhan/partikel al menunjukkan sifat tertentu (الفطر). Dalam Kamus Bahasa Arab ditulis عيد الفطر (dalam Bahasa Indonesia ditulis: Idul Fitri). 


Kata ‘id bentuk kata benda (isim masdar), berasal dari akar kata ‘ayyada yu’ ayyid ‘id yaitu id berarti hari raya, perayaan, pesta, festival, lebaran, dan berbuka. Jadi, Id bukan bermakna kembali. 


Memang hampir mirip dengan kata ‘id bentuk kata kerja perintah atau fi’ il amar yaitu kembali dan makna ini yang sering diucapkan kebanyakan umat dan ulama (khatib). 


Id yang berarti kembali atau kembalilah berasal dari ‘aada-ya’iidu-‘id) betul berarti kembali. Tetapi makna yang dimaksud pada perkataan Idul Fitri bermakna hari raya berbuka, maksudnya adalah hari berbuka terakhir puasa pada hari terakhir Ramadhan.


Begitu juga kata al-fitri dari idul fitri, bukan berarti suci. Atau dimaknai kembali ke fitrah dan fitrah diartikan suci, ini keliru. Dalam kamus Bahasa Arab, kata  atau futhur  berarti berbuka. Makna fitri artinya berbuka adalah sesuai dengan hadits Nabi riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:


 اللهم لك صمت وعلى رزقك افطرت


Artinya: Ya Allah, bagi-Mu aku berpuasa, dan atas rezeki-Mu aku berbuka


Hadits lain menjelaskan:


 عجلوا الفطر فإن اليهود يؤخرون


Artinya: Bersegeralah kalian berbuka sesungguhnya orang Yahudi mengakhiri berbuka. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah.


Dari uraian di atas jelaslah, bahwa makna Idul Fitri bukan berarti kembali kepada fitrah atau kesucian. Kemudian fitrah diartikan bersih atau suci bagaikan bayi yang baru lahir bagi orang yang telah berpuasa selama Ramadhan. 


Bahkan, fitrah juga bukan berarti suci atau bersih, tetapi fitrah bermakna sifat dasar, potensi diri, atau idea innatea (bahasa Yunani, menurut Filosuf Plato).   Hadits yang berbunyi:


كل مولود يولد على الفطرة فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه 


Artinya: Setiap bayi yang lahir membawa fitrah, maka tergantung (didikan/binaan) kedua orang tua, apakah akan Nasrani, atau Majusi. 


Jadi, fitrah dalam hadits itu berarti Sifat dasar, potensi, atau bagaikan kertas bersih dalam istilah Teori Tabularase Jhon Locke. Dengan demikian, dapat dipertegas bahwa makna Idul Fitri tidak berarti kembali ke fitrah, bukan berarti kembali kepada kesucian. Tetapi, yang lebih tepat Idul Fitri bermakna hari raya berbuka puasa.


2. Interpretasi filosofis makna Idul Fitri.

Uraian di atas menunjukkan makna Idul Fitri secara esensial mengandung makna hari berbuka yaitu hari lebaran, hari pembebasan. Makna filosofisnya pada hari itu, dan mulai hari itu pula, manusia (umat Islam) bebas dari belenggu hawa nafsu, manusia tidak mau diperbudak oleh hawa nafsu, manusia merasa bebas dari perusakan hawa nafsu. 


Kita saksikan dan kita sadari, adakah seseorang muslim atau mukmin pada hari itu, 1 Syawal khususnya, pada hari raya berbuka (idul fitri) yang mengaku tidak bersalah. Karena kebanyakan mereka mengaku bersalah, mengaku khilaf, mengaku banyak dosa, maka mereka mengucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin, kullu amm wa antum bi khair, taqabbalallahu mi na wa minkum taqabbal ya karim, dan ungkapan lainnya.


Inilah bukti manusia mampu membebaskan dirinya dari belenggu dan budak hawa nafsu, sehingga kesadaran dari hati yang mendalam, sikap bersalah dari bawah sadarnyapun terungkap ke permukaan jiwa yang terefleksi diucapkan dan perbuatan. 


Selain itu, pada suasana Idul Fitri kebanyakan umat Islam jiwa, hati, perasaan, akal dan pikirannya yang terselimut adalah kasih sayang kepada dirinya, orang lain, keluarga, handai taulan? 


Bebas dari belenggu hawa nafsu memancar kasih sayang, menyadar atas kesalahan, mengharap asa ke depan yang lebih baik lagi dari pada tahun lalu, dan idul fitri yang sudah berlalu pada tahun-tahun yang lalu.


Idul Fitri yang mengandung makna hari lebaran, hari pembebasan, maka jadikanlah momen awal, gerbang peningkatan amal ibadah, pintu utama masuk pada peningkatan iman dan takwa kepada Allah. 


Sesuai dengan nama bulannya yaitu Syawal berarti peningkatan yaitu bulan manusia memperoleh kemenangan, yakni manusia (umat Islam yang berpuasa) supaya senantiasa meningkatkan iman dan takwa, iman dan amal saleh, ibadah hanya kepada Allah dan ditujukan hanya untuk dan karena-Nya. 


Manusia tidak boleh menghamba kepada nafsu, tak juga menghamba kepada hawa nafsu, jangan mau diperbudak oleh nafsu, angkara murka, dan terjerumus dalam kemaksiatan dan permusuhan yang tertipu dan terperdaya oleh hawa nafsu.


Manusia beriman, mukmin yang telah berpuasa Ramadhan, jadikanlah momen Idul Fitri sebagai gerbang awal manusia yang telah memperoleh pembebasan dan mendapatkan kemenangan. Maka Idul Fitri pada bulan Syawal ini kita bisa bisa  kita jadikan momen dan gerbang peningkatan iman dan takwa kepada Allah. 


Di mana iman dan takwa  sudah kita didik, bimbing, gembleng selama Ramadhan. Semoga kita meningkat derajatnya dari mukminin menjadi muttaqin dan muhsinin, yakni minal aidin wal faizin. 


KH Abdul Syukur, Dekan FDIK UIN Raden Intan dan Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung


Opini Terbaru