• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 12 April 2024

Opini

Puasa Ramadhan, Menaikkan Derajat Orang Menjadi Lebih Mulia

Puasa Ramadhan, Menaikkan Derajat Orang Menjadi Lebih Mulia
Dekan FDIK UIN Raden Intan, KH Abdul Syukur (Foto: Istimewa)
Dekan FDIK UIN Raden Intan, KH Abdul Syukur (Foto: Istimewa)

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 menjelaskan panggilan penghormatan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah (Mukminin) untuk berpuasa Ramadhan (Shaimin) agar mereka selalu beriman dan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah (Muttaqin).


Ayat 183 di atas menunjukkan kepada Mukminin dan Muttaqin berpuasa bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi  penghormatan untuk meningkatkan derajat iman dan takwa mereka kepada Allah. Implikasinya bagi kehidupan kepada sesama dan lingkungan mereka menjadi baik, rukun, ukhuwah, dan mashlahah sebagai wujud perintah Allah serta terjauhkan dari segala larangan Allah.


Kebaikan bulan Ramadhan yang terus digapai oleh Mukminin dan Muttaqin dengan berpuasa dan menyempurnakan bilangan hari-hari selama Ramadhan untuk selalu berpuasa serta ibadah yang mengiringinya. Seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sunnah-sunnah ibadah lainnya. Juga mereka bersedekah, berinfak, berbagi seperti takjil dan memberi bukaan kepada orang yang berpuasa.


Shaimin yang peduli kepada orang lain naiklah derajat ke Muttaqin dengan dua kriteria, yaitu Pertama, memohon maghfirah kepada Allah, dan Kedua, berharap surga Allah dengan selalu berbuat kebaikan, yang peluang dan kesempatannya begitu luas Allah berikan kepada Muttaqin. Ini dijelaskan pada QS Ali Imran ayat 133.


Begitu juga, dalam Surat Ali Imran ayat 134, naiklah derajat Muttaqin menuju ke derajat Muhsinin jika memenuhi tiga kriteria, yaitu: selalu  berinfak, dalam kondisi apapun, senang ataupun sulit rezeki. Kemudian selalu menahan amarah, mampu mengatur emosi dengan baik. Serta saling memaafkan, punya sifat keterbukaan, siap dikritik orang lain.


Memiliki sifat tidak ujub, tidak pula busungkan dada, tidak takabur,  dan tidak keras kepala. Inilah tiga kriteria menuju ke derajat Muhsinin, dan Allah selalu mencintai Muhsinin, yaitu mereka yang selalu berbuat baik, dalam artian kebaikan yang mengedepankan seimbang, serasi, harmoni dalam memelihara kesalehan individu dan kesalehan sosial.


Kemudian juga menjaga kerukunan, harmonisasi, ukhuwah, musawah, dan maslahah meski berbeda pilihan, kecenderungan, nasib, pendapat dan pendapatan. Meski beda suku, bangsa, budaya, bahasa, dan agama. 


Dijelaskan pula pada QS Adz-Dzariyat ayat 15-19 tentang balasan Muttaqin adalah surga, muttaqin sebuah proses menuju ke Muhsinin. Menuju dan memelihara derajat Muhsinin ada beberapa kriteria yang mesti dijaga dengan baik (istiqamah) sebagai berikut:


Pertama, mereka tidur sedikit, untuk memperbanyak  zikir, doa dan qiyamul lail.


كَانُواْ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ


Artinya: Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (QS Adz-Dzariyat: 17).


Kedua, mereka memohon maghfirah di waktu sahur atau sepertiga malam.


وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ


Artinya: dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) (QS Az Zariyat: 18).


Ketiga, mereka selalu berbagi, peduli orang lain, peduli sosial.


وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ


Artinya: Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta (QS Az Zariyat: 19).


Empat kriteria Muhsinin berdasarkan dalil di atas secara garis besar terbagi dua kriteria yaitu pancarkan iman dalam dirinya menyinar menjadi amal saleh (muttaqin). Selanjutkan pancar-sinarkan sifat-sifat muttaqin merefleksi pada kebaikan dirinya kepada orang lain, dan pantulkan kesalehan individu dengan kesalehan sosial secara serasi, seimbang pada dirinya dan orang lain.


Dengan demikian, berpuasa Ramadhan merupakan tangga-tangga (maqamat atau stations) bagi orang-orang yang berpuasa Ramadhan untuk menaiki derajat ke muttaqin hingga menuju ke muhsinin. Semoga kita bisa menaiki tangga-tangga itu untuk meraih derajat.


KH Abdul Syukur, Dekan FDIK UIN Raden Intan dan Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung
 


Opini Terbaru