• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 26 Mei 2024

Keislaman

Punggahan, Tradisi Islam Nusantara Menjelang Puasa Ramadhan

Punggahan, Tradisi Islam Nusantara Menjelang Puasa Ramadhan
Punggahan, tradisi yang banyak dilakukan masyarakat jelang Ramadhan (Foto: NU Online/istimewa)
Punggahan, tradisi yang banyak dilakukan masyarakat jelang Ramadhan (Foto: NU Online/istimewa)

Kita akan segera memasuki bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah. Sebelum memasuki bulan suci, umumnya masyarakat Muslim Indonesia banyak melakukan tradisi, salah satunya punggahan/munggahan. 


Tradisi punggahan merupakan tradisi yang selalu dilakukan oleh umat Islam ketika menjelang bulan Ramadhan. Umumnya dilakukan satu minggu sebelum puasa. 


Pada praktiknya, punggahan biasanya dilakukan dengan makan-makan bersama keluarga, teman, atau kerabat di masjid, mushalla dan di suatu daerah tertentu dengan rangkaian tahlil dan doa. 


Tradisi ini sangat tidak bertentangan dengan syariat Islam, justru menjadi salah satu pelengkap dari syiar dan dakwah agama Islam itu sendiri, karena di dalamnya berisi doa, sedekah makanan, silaturahim dan makan bersama. Juga yang paling pentingnya lagi, punggahan merupakan cara umat Islam untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Karena termasuk orang yang beruntung ketika datangnya Ramadhan, ia bergembira untuk menyambutnya.


Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin dikatakan:


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ


Artinya: Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.


Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata "munggah" merupakan sebutan untuk hari terakhir di bulan Ruwah, sehari sebelum dimulai berpuasa Ramadhan.


Sedangkan kata "munggahan" dalam KBBI adalah tradisi berkumpul dan makan bersama dengan keluarga atau teman untuk menyambut bulan Ramadan.


Dan kata "munggahan" menurut bahasa Jawa, memiliki arti naik, yakni menaikkan puasa, atau naik dari bulan Sya'ban menuju bulan  Ramadhan yang mulia. Maka dengan naik ke bulan ramadhan mengindikasikan bahwa, bulan tersebut merupakan puncak dari bulan yang mulia sebelumnya, Rajab dan Sya'ban.


Dalam tradisi punggahan ada beberapa hikmah dan faedah yang dapat kita ambil kebaikan dan kebajikannya.
 

Pertama, sebagai bentuk syukur.
Salah satu hikmah dari tradisi punggahan yakni menjadi salah satu rasa syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita semua, yakni hadirnya bulan suci Ramadhan, bulan yang dinanti-nantikan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia.
 

Dengan dipertemukannya umur kita dengan bulan Ramadhan menjadikan kita untuk menjadi hamba yang lebih baik, karena sejatinya kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk memperbanyak pahala. Sesungguhnya beribadah di bulan suci Ramadhan, pahalanya akan dilipatgandakan. 


Kedua, ajang silaturahim
Dengan bersama-sama hadir di masjid, untuk berdoa dan menyantap makanan bersam kerabat dan masyarakat menjadikan kita saling bersilaturahim. Apalagi jika yang biasanya memiliki kesibukan masing-masing dan sulit untuk bertemu.


Ketiga, momen saling meminta maaf.
Momen saling berkumpul dan bersilaturahim ini, juga bisa dijadikan kesempatan untuk saling memaafkan satu sama lain. Apalagi sebelum menyambut Ramadhan penting bagi kita untuk memohon maaf kepada sesama.


Sudah hal biasa dan dianjurkan bagi kita, untuk selalu membersihkan diri kita baik jasmani maupun rohani ketika menyambut bulan suci Ramadhan, salah satunya membersihkan rohani kita yakni merontokkan dosa dengan cara saling meminta maaf. 

(Yudi Prayoga)


Keislaman Terbaru