• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 18 Mei 2024

Opini

Lebaran Digital, Menuju Peradaban Baru

Lebaran Digital, Menuju Peradaban Baru
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Agus Hermanto (Foto: Istimewa)
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Agus Hermanto (Foto: Istimewa)

Tidak dipungkiri lagi, bahwa era digital telah banyak mewarnai segala aktivitas kita mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Tidak terlepas juga di momentum lebaran, Idul fitri yang merupakan tradisi melebur segala dosa dan kesalahan, serta segala kekhilafan selama pergaulan.

 

Momentum lebaran dilambangkan dengan ketupat yang sejatinya adalah mohon dimaafkan dari segala kesalahan, yang diimplementasikan dalam empat sudut yang menunjukkan kiblat papat limo pancer atau empat sudut lima pusat yaitu menunjukkan keseimbangan manusia menuju ridha Ilahi rabbi.

 

Bulan Syawal adalah bulan peningkatan, yaitu peningkatan ibadah, kualitas dan peningkatan kerja. Maka sejatinya ada empat unsur yang harus dijaga dalam momentum pasca Ramadhan, yaitu iman, Islam, amal, dan takwa agar manusia dapat istiqamah, yang mana istiqamah adalah perbuatan mulia yang lebih utama dari seribu kemuliaan. Pepatah Arab mengatakan:

 

الاستقامة خير من ألف كرامة

 

Artinya: Istiqamah adalah lebih mulia dari seribu kemuliaan.

 

Seseorang tidak akan dapat dikatakan Islam manakala tidak ada setitik iman yang melekat pada dirinya, ketika iman telah ada, maka barulah dia mengucap dua kalimat syahadat dan akan tergolong sebagai orang Islam.

 

Kemudian seseorang setelah meyakini bahwa Islam adalah agama yang diyakininya maka dia harus menjalankan tiang agama yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji.

 

Amaliah yang senantiasa dijalankan oleh seorang hamba sejatinya dia telah mengumpulkan poin-poin berupa pahala yang akan menghantarkan dirinya kepada ketakwaan kepada Allah swt.

 

Bulan Syawal yang merupakan penguatan amal pasca Ramadhan, karena Ramadhan kita dilatih dan digembleng untuk terus beribadah dan terus menjalankan perintah Allah.

 

Yaitu puasa selama satu bulan lamanya dengan cara menahan dari lapar dan dahaga hingga menjaga diri dari segala kemaksiatan dan segala dosa.

 

Hingga jatuhnya Syawal ibadah itu harus kita kuatkan agar senantiasa melekat dan mendarah daging sampai menjadi kekuatan iman yang istidlal.

 

Jika dikatakan bahwa derajat iman seseorang terbagi pada tiga bagian yaitu taqlidiy, tahqiqiy dan istidlaliy, maka derajat iman istidlal adalah kesempurnaan dari iman. Sedangkan iman manusia akan senantiasa bertambah dan berkurang sesuai amal ibadahnya, sehingga dikatakan.

 

الإيمان يزيد وينقص، يزيد بطاعة الله وينقص بمعاصى الله

 

Artinya: Iman seseorang akan senantiasa naik dan turun, turun karena ketaatan kita kepada Allah dan turun karena kemaksiatan kita kepada Allah (HR Bukhari).

 

Jadi, dapat dikatakan bahwa konsistensi iman seseorang adalah ketaatan kepada Allah, sehingga ia banyak beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kedudukannya bersama orang-orang yang dicintainya. Rasulullah saw bersabda.

 

جدّدوا إيمانكم بقول لا اله إلاّ الله

 

Artinya: Perbaruilah iman kalian dengan berucap la Ilaha illalah (HR Muslim).

 

Maka sesungguhnya bahwa iman seseorang akan  selalu kontemporer dan tidak bersifat temporer yaitu sesaat ramadhan saja, ia harus benar-benar istiqamah meningkatkan hubungan hamba kepada Allah, yaitu hablumminallah dan hambluminannas.

 

Hal ini merupakan keseimbangan yang sempurna sebagai hamba Allah swt. Momentum silaturahim pada bulan Ramadhan adalah langkah mulia yang dilakukan hamba untuk bermuamalah.

 

Jika dulu tradisi lokal dijaga dan dirawat dalam kebersamaan, maka saat ini dunia digital merubah kebersamaan kita tidak saja pada satu ruang melainkan dalam ruang yang berbeda.

 

Digitalisasi inilah yang merubah suatu peradaban baru dengan tetap menjaga tradisi lama yaitu kebersamaan, baik dalam bersilaturahmi maupun dalam berbagi dan merayakan idul fitri yang dimuliakan.

 

Agus Hermanto, Dosen Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung


Opini Terbaru