• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Opini

Jihad Gus Yaqut dan Pesannya Meraih Haji Mabrur

Jihad Gus Yaqut dan Pesannya Meraih Haji Mabrur
foto Gus Yaqut
foto Gus Yaqut

Oleh: Prof. Dr. Misri A Muchsin, M. Ag*

 

Perjuangan dan jihad tanpa lelah yang dilakukan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas atau sering disapa Gus Yaqut terkait ibadah haji, memberikan hasil menggembirakan, karena calon jamaah haji yang telah mendaftar dan tercatat sebelum Covid-19 diberangkatkan tahun ini.

 

Gus Yaqut telah menandatangani Keputusan Menteri Agama (KMA) No 405 tahun 2022 tentang Kuota Haji Indonesia tahun 1443 H/ 2022 M. Dalam (KMA) tersebut, ditetapkan bahwa kuota haji Indonesia tahun 1443 H/ 2022 M berjumlah 100.051, terdiri atas 92.825 kuota haji reguler dan 7.226 kuota haji khusus. 

 

Menteri Agama melepas kloter pertama Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG 01) pada Sabtu (4/6/2022) di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Di hadapan 393 jamaah haji asal DKI Jakarta, Gus Men  memberikan sejumlah pesan kepada jamaah.

 

Pertama, mengajak para Dhuyufurrahman untuk kembali menata niat ke tanah suci untuk beribadah, untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. 

 

Kedua, meminta jamaah haji Indonesia untuk menjaga kesehatan karena cuaca panas di Saudi. Memperbanyak minum air putih, serta mengkonsumsi vitamin.

 

Ketiga, mengimbau jamaah untuk membatasi kegiatan di luar ibadah. Hendakanya fokus untuk ibadah saja. sedangkan kegiatan di luar ibadah, hanya seperlunya. Semua berharap ini benar-benar diperhatikan, agar selama pelaksanaan ibadah haji bisa berjalan lancar, serta bisa melaksanakan semua syarat dan rukun haji. 

 

Keempat, para Dhuyufurrahman tidak segan-segan untuk bertanya kepada petugas bila mengalami kendala selama pelaksanaan ibadah haji. Serta jangan segan-segan bertanya kepada petugas bila mengalami kendala. Hal ini dilakukan karena Kementerian Agama sudah menugaskan banyak sekali petugas di sana untuk membantu kelancaran ibadah haji.  Petugas yang disiapkan, meliputi pendamping kloter dan petugas yang tergabung dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. 

 

Selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji, tiap kloter disertai empat orang petugas yang terdiri dari satu orang Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), satu orang Tim Pembimbing Ibadah haji Indonesia ( TPIHI), serta dua orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Kebijakan tersebut disiapkan untuk membantu para jamaah dalam pelaksanaan ibadah, agar lancardan kondusif. 

 

Jihad (perjuangan) Gus Men bukan hanya sebatas apa yang telah diraih hari ini, akan tetapi Gus Men juga melakukan beragam terobosan lainnya demi kebaikan dan perbaikan jamaah haji Indonesia khususnya. Gus Men juga berharap pelaksanaan ibadah haji tahun depan bisa diberlakukan untuk semua usia tanpa ada pembatasan. Terkait masalah haji, Kementrian Agama sudah melakukan pendekatan dengan kerajaan  Arab Saudi agar pembatasan usia 65 tahun diberlakukan hanya tahun ini saja. Untuk tahun berikutnya, semoga sudah diberlakukan normal tanpa ada batasan usia. 

 

Semua orang sangat mendambakan haji mabrur, meraih titel tersebut bukanlah hal yang mudah. Ungkapan mabrur berasal dari bahasa Arab, yaitu "barra-yaburru-barran", yang artinya taat berbakti.

 

Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, mabrur berarti ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah swt. Dalam kitabnya yang berjudul Fadhilah Haji, Maulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi mengutip sebuah hadits yang berbunyi, "Haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali surga”. (HR. Bukhari dan Muslim). 

 

Dalam penjelasannya, Maulana Zakariyya mengatakan, haji mabrur adalah haji yang dilakukan tanpa diikuti perbuatan-perbuatan maksiat di dalamnya. Karena alasan inilah, para ulama mengatakan bahwa haji mabrur sebagai haji maqbul (Haji yang diterima).

 

Dengan alasan ini pula mereka mengartikan bahwa seseorang yang sedang haji hendaklah memperhatikan adab-adab dan syarat haji di samping menghindari segala yang dilarang. Haji mabrur adalah haji yang maqbul atau diterima dan diberi balasan berupa al-birr yang berarti kebaikan atau pahala.

 

Menurut Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Syarhus Suyuthi li Sunan an-Nasa’i, salah satu bukti bahwa seseorang telah berhasil meraih haji mabrur adalah ketika ia kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan terus berusaha mengurangi perbuatan maksiat.

 

Kiat Meraih Haji Mabrur

 

Rasulullah saw menjelaskan, Allah swt telah menjanjikan balasan nyata bagi mereka yang mendapat mabrur, yakni surga yang abadi, "Umrah ke umrah berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya. Dan, tiada balasan bagi haji mabrur, melainkan surga" (HR Bukhari: 1683, Muslim: 1349).

 

Terkait permasalahan haji mabrur, ulama memiliki beberapa pendapat tentang makna mabrur. Beberapa ulama menilai haji mabrur adalah pahala yang diterima di sisi Allah. Imam Nawari dalam syarah Muslim menjelaskan, haji mabrur tidak tercampuri oleh kemaksiatan atau dosa karena imbalannya adalah surga Allah. Imam Nawari juga menjelaskan bahwa haji mabrur juga diartikan sebagai haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah dan tidak ada kesombongan di dalamnya. 

 

Selain itu, haji mabrur dapat merujuk kepada kondisi tanpa dosa yang diambil dari akar kata al-birr, yang berarti kebaikan atau ketaatan. Sementara menurut ulama ahli tafsir Al-Qur’an Profesor Quraish Shihab, definisi haji mabrur bukan sekadar sah perihal pelaksanaan ibadah haji. Namun, makna mabrur adalah ketika jamaah haji telah pulang dari tanah suci dan ia tetap menaati janji-janji yang telah ia buat sewaktu di Makkah untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Itu sesuai dengan asal kata dasarnya yaitu barra yaburru.

 

Menurut para ulama dikutip dari sumber terpercaya diantara kiat dan bekal atau usaha yang harus disiapkan calon haji mabrur yaitu: Pertama, membawa bekal yang terbaik. Dan sebaik-baik bekal untuk menunaikan ibadah haji adalah takwa, yakni melaksanakan segala yang diperintahkan Allah swt dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Tanpa takwa, tak akan mendapatkan haji mabrur.

 

Kedua, sebelum menunaikan ibadah haji, hendaknya ia membereskan masalah hutang-piutang. Karena orang yang dalam perjalanan ibadah haji bagaikan orang yang masuk ke liang kubur, hendaknya ia membereskan masalah-masalah yang bersangkutan dengan manusia. Misalnya masalah utang-piutang, juga memohon maaf jika mempunyai kesalahan kepada orang lain.

 

 Ketiga, bertobat kepada Allah dengan taubatan nasuha (tobat yang sebenar-benarnya). Tobat itu meliputi hati, lidah, serta perbuatan. Ini dilakukan sebelum berangkat ke tanah suci. Keempat, biaya haji yang halal. Harta halal itu adalah harta yang bukan dari pencurian, korupsi, penipuan, riba, menjual barang yang haram (babi, darah, binatang disembelih bukan atas nama Allah swt). Harta yang halal ialah harta yang didapat dari mata pencaharian yang halal, upah atau gaji, honoraium, hasil perdagangan yang halal, pemberian, hibah, wasiat, sedekah, infak, dan lain-lain harta yang tidak dilarang dalam Islam. 

 

Imam Ahmad menegaskan bahwa tidak sah haji dari harta yang haram. ''Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik''. Harta yang halal itu tidak hanya untuk yang pergi menunaikan ibadah haji, melainkan juga bagi keluarga yang ditinggalkan. 

 

Kelima, sabar. Sifat yang satu ini memegang peranan sangat penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Seluruh aspek ibadah haji memerlukan unsur sabar. Sifat sabar itu terutama diperlukan pada saat thawaf, mencium hajar aswad, melontar jumrah, dan berusaha shalat atau zikir dekat Ka'bah. Jamaah haji harus selalu menjaga kesehatan, makan yang bergizi, tidak bergadang, serta memperbanyak shalat dan dzikir di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

 

Beranjak dari paparan di atas, kita mengapresiasi perjuangan dan diplomasi Gus Men dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini dan berharap tahun kedepannya lebih baik. Juga berharap para dhuyufurrahman (tamu Allah) sebagaimana harapan kita semua dan pesan Gus Men mampu meraih haji mabrur. 


Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq



(Penulis adalah Ketua LP Ma’arif PWNU Aceh dan Penasehat Ansor Aceh Selatan serta Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
 


Opini Terbaru