• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Dua Maksiat Akal Manusia

Dua Maksiat Akal Manusia
Ilustrasi akal manusia
Ilustrasi akal manusia

Akal merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia. Dengan akal itu pula manusia berbeda dengan makhluk Allah yang lainnya. 

 

Akal berarti daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang digambarkan Al-Qur'an untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitar. Bahkan dalam Al-Qur'an kata akal diulang sebanyak 46 kali. 

 

Dengan akal manusia bisa mengembangkan peradaban yang ada di muka bumi, dan semakin berpikir terus menerus untuk menemukan sesuatu hal yang lebih maju dan modern. Mulai dari berburu, bertani, berdagang, dan industri. Semua dikembangkan dengan akal manusia. 

 

Selain itu dengan akal juga manusia bisa membedakan mana yang benar (hak) dan mana yang salah (batil). Dengan perantara akal, kitab suci Al-Qur’an dan Hadits bisa menjadi pembimbing manusia ke jalan yang benar. 

 

Akan tetapi meskipun manusia bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, masih banyak juga manusia yang membenarkan dirinya sendiri meski sudah terbukti bersalah. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor.

 

Bisa karena memang sudah mengerti dan paham, akan tetapi dipolitisasi dengan nafsunya sehingga kebenaran hanya dijadikan kepentingan pribadinya. Ada juga yang memang acuh tidak mau mengerti dan membiarkannya tetap bodoh. 

 

Padahal selalu mengulang kesalahan dan tidak ingin berubah sama sekali, merupakan sesuatu yang keliru dan bodoh. Ini seolah-olah tidak ingin menggunakan akal dengan semestinya. Atau membiarkannya tetap bodoh dan keliru dalam kemaksiaatan. 

 

Padahal membiarkan akal tetap bodoh merupakan salah satu maksiat. Ketika Allah swt sudah menciptakan akal dan dititipkan kepada manusia, sudah sepantasnya manusia bersyukur dengan menggunakan akalnya secara maksimal. 

 

Ada beberapa yang termasuk dalam maksiat akal.

 

Pertama, membiarkan akalnya tetap bodoh. Manusia akan terjerumus ke dalam maksiat akal ketika dia tidak menggunakan akalnya dengan maksimal. Seperti malas membaca tanda-tanda, malas berpikir, serta tidak peduli (cuek) terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya, dirinya tetap dalam keadaan bodoh dan semakin terjerumus dalam kesesatan. 

 

Akal tidak boleh cuek dalam ilmu hal (keadaan yang saat itu wajib diketahui dan dikerjakan), seperti syariat Islam. Syariat Islam merupakan ilmu hal yang wajib diketahui oleh seluruh umat muslim. Terutama yang dilakukan sehari-hari seperti shalat lima waktu. 

 

Wajib bagi akal kita untuk mengetahui ilmu tentang shalat, seperti syarat dan rukun shalat, sesuatu yang membatalkan shalat, sesuatu yang makruh ketika shalat, dan sebagainya. 

 

Ilmu hal dalam kehidupan sehari-hari yang lainnya yakni sesuatu yang sedang kita kerjakan. Seperti seorang petani yang harus mengetahui ilmu bertani. Jangan sampai petani membiarkan akalnya bodoh terhadap ilmu pertanian. 

 

Ilmu hal-nya santri yakni mengaji, jangan sampai santri membiarkan akalnya bodoh dari mengaji. Begitu pula dengan pejabat, pedagang, dosen, dan lain sebagainya

 

Kedua, akal hanya digunakan untuk keburukan. Setelah diberikan akal yang indah oleh Allah, jangan sampai akal tersebut digunakan untuk keburukan, karena itu hanya menjadikannya maksiat. 

 

Seperti berpikir dan berprasangka buruk kepada Tuhan, berpikir merasa tidak adil dengan keputusan Tuhan, dan sebagainya. Karena sampai kapanpun akal manusia tidak akan pernah sampai menjangkau kekuasaan Tuhan. 

 

Oleh karena itu ketika kita sudah diberikan anugerah akal yang sempurna oleh Allah swt sudah sepantasnya kita gunakan untuk kebaikan dan selalu mencari kebaikan juga. Jika kita menyia-nyiakan titipan-Nya berarti kita telah zalim dan berdosa. 

 

(Yudi Prayoga, Santri Al Hikmah Kedaton Bandar Lampung)


Opini Terbaru