• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Memahami Makna Dukun, Apakah Semua Dukun itu Negatif? 

Memahami Makna Dukun, Apakah Semua Dukun itu Negatif? 
ilustrasi dukun
ilustrasi dukun

Sekarang Indonesia sedang ramai dengan berita yang berbau perdukunan dan sulap, yakni antara Samsudin Jadab atau masyhur di dunia maya dikenal dengan Gus Samsudin dengan Pesulap Merah, yang selalu mengenakan wig berwarna merah. 

 

Lebih konyolnya lagi netizen tiktok di Indonesia mengaitkan kedua tokoh di atas dengan karakter dua yonko di anime one piece. Gus Samsudin sebagai Marshal D Teach (Kurohige), karena memiliki jenggot hitam panjang dan lebat dan Pesulap Merah dengan Akagami no Shanks, karena memiliki rambut berwarna merah. 

 

Yang menjadi titik permasalahannya yakni pada kata “perdukunan”, yang pada hal ini disematkan kepada Gus Samsudin yang membuka praktik pengobatan di padepokan miliknya, Padepokan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. 

 

Karena pengobatannya dicampur dengan trik sulap dan disebarluaskan di media sosial, sehingga mengundang reaksi bagi Pesulap Merah yang juga seorang pesulap ingin membongkar penipuan tersebut, sehingga bisa menjadi edukasi dan pelajaran bagi masyarakat yang gampang percaya dengan perdukunan trik sulap. 

 

lalu apakah dukun atau perdukunan itu salah? Kita tidak bisa langsung menghukumi dan menghakimi kelompok tersebut apalagi hanya sekedar berupa kata "dukun". 

 

Lebih jelasnya kita lihat secara definisi, sejarah dan praktiknya apa itu dukun. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dan sebagainya). 

 

Dari definisi tersebut kita bisa melihat bahwa peran dukun juga sama dengan dokter atau tabib. Dan persamaan kata dokter sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah dukun, mantri, medikus, sinse, dan tabib. 

 

Jennifer Nourse, salah satu peneliti dari Inggris pernah menulis dalam temuannya bahwa kata "dukun" itu berasal dari bahasa Persia děhqn atau dukkan, yang memiliki kemampuan untuk mengobati. 


Berdasarkan kamus Inggris-Melayu yang diterbitkan pada 1701 Masehi, dukun tidak didefinisikan dan diidentikkan sebagai orang yang memiliki kekuatan spiritual, akan tetapi orang yang memiliki keahlian khusus. 

 

Pada awal abad ke-20, kata dukun dalam ensiklopedi (1917) didefinisikan sebagai praktisi pribumi yang memiliki segala keahlian termasuk medis. Di sini dukun digambarkan sebagai profesi resmi yang didominasi perempuan daripada laki-laki. 

 

Kenapa banyak perempuan, karena deskripsi dukun pada waktu itu bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia, seperti kelahiran bayi, membuat ramuan herbal, merawat ibu bayi, merawat bayi sampai balita. Di sini tidak ada unsur unsur magis negatif melainkan kesehatan atau medis. Adapun magis itupun sebuah mantra atau doa yang dimunajatkan kepada Allah swt. 

 

Secara sejarah, kapan pandangan tentang dukun mulai negatif dan buruk? De Haan mencatat, orang-orang Eropa yang tinggal di Batavia saat itu, lebih banyak memilih pergi ke dukun, ketimbang ke dokter, karena penanganan yang akurat, simpel dan lebih murah biayanya, sehingga kasus ini menjadi saingan dari dokter. 

 

Karena ada rasa ketakutan tersendiri dengan kemampuan dukun. Mereka khawatir orang-orang Eropa akan lebih memilih ke dukun dibandingkan ke dokter, sehingga membuat propaganda dengan stigma bahwa dukun lebih banyak tahayul dan musyrik dibandingkan ilmiahnya. 

 

Padahal kita tahu, semua kitab mujarobat di dalamnya berisi berbagai doa kepada Tuhan dan resep dari setiap ramuan herbal yang alami tanpa proses kimiawi. 

 

Antropolog dari Belanda menuliskan hasil penelitiannya bahwa pada abad ke-20, dukun memiliki pengetahuan anatomi tubuh manusia dan fungsi organ. Mereka memiliki kemampuan untuk mendiagnosis penyakit dan menanganinya. 

 

Sejak kapan kata dukun bergeser makna? Segala sesuatu di dunia tidak ada yang abadi, tidak ada yang stagnan, selalu bergeser, dinamis, begitupun dengan sebuah kata-kata yang disematkan kepada benda atau yang lainnya. 

 

Biasanya perubahan pandangan terhadap nama terjadi karena ilmu, sosio kultur dan doktrin pola pikir manusia itu sendiri.  Dahulu, ketika melihat bulan sabit, manusia menganggap bahwa bulan dimakan oleh kala berbentuk buto (makhluk raksasa). 

 

Mungkin ajaran dahulunya benar, karena pengaruh sesuatu sehingga pemahamannya berubah. Karena arti kala sendiri adalah waktu, dan buto mungkin sesuatu yang mengatur perputaran waktu tersebut. 

 

Begitu juga dengan kata dukun, yang dulunya merupakan profesi tenaga kesehatan tradisional, sekarang bergeser makna menjadi ahli supranatural, karena sudah menjamurnya profesi yang bernama dokter. Andaikata dahulu dukun diperhatikan oleh pemerintah, diberi dana untuk penelitian lebih mendalam dan lebih banyak praktik, mungkin nasibnya akan sama dengan dokter di masa sekarang yang asal usulnya dibawa oleh orang Eropa ke Nusantara. 

 

Mungin awal mula dukun, tabib, dan dokter lahir sama-sama menangani kesehatan, akan tetapi ada yang diperhatikan dan didanai pemerintah sehingga semakin maju dan ada yang tidak, sekedar hanya mengandalkan kitab mujarobat warisan turun temurun dari nenek moyang. Karena pada zaman kerajaan, sebelum adanya dokter, para dukunlah menjadi rujukan. 

 

Di sini saya tidak mencatut tabib, karena sama saja, kata tabib juga dari bahasa Arab, artinya dokter atau dukun. 

 

Setelah mendapatkan citra negatif pengaruh Eropa secara herbal, kata dukun kembali negatif karena pengaruh doktrin Islam yang lebih mempositifkan ahli hikmah karena doa berbahasa Arab yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini mejadi cambukan dua kali kepada kata dukun yang semakin memojokkan. 

 

Memang untuk di zaman sekarang, gambaran beberapa dukun memang seperti itu, penuh dengan magic dan pengkultusan benda-benda bertuah, meski tidak semua, karena masih ada dukun bayi, yang bekerja secara alami. Namun sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah dukun yang mengajarkan kemusyrikan, kejahatan, dan kemaksiatan. 


Yudi Prayoga, Santri Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandar Lampung


Opini Terbaru