• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 1 Maret 2024

Kiai Menjawab

Meminta Maaf pada Orang Lain, Haruskah Menyebut Daftar Kesalahan?

Meminta Maaf pada Orang Lain, Haruskah Menyebut Daftar Kesalahan?
Sebagai manusia kita harus saling memaafkan
Sebagai manusia kita harus saling memaafkan

Assalamualaikum wr wb
Pengasuh kanal Kiai Menjawab NU Online Lampung

 

Saya ingin bertanya tentang permohonan maaf. Apakah saat kita meminta maaf pada seseorang, baik pada momen lebaran atau pada momen sehari-hari,  kita harus menyebut permintaan maaf  itu atas kesalahan kita yang mana? Baik permintaan maaf pada orang tua, teman, saudara, tetangga,  pasangan, dan lainnya.

 

Bila harus menyebut daftar kesalahan bukankah itu agak risih dan makin membuat sulit minta maaf. Tapi bila minta maaf secara global saja, apakah dosanya bisa terampuni? Mohon penjelasannya.

 

Endang, Bandar Lampung

 

Waalaikumsalam wr wb

Meminta maaf dan memaafkan di dalam islam adalah sangat dianjurkan dan wajib dilakukan setiap insan manusia, baik yang melakukan kesalahan, kekhilafan kepada orang lain baik yang disengaja atau yg tidak di sengaja. Baik kesalahan secara lisan ataupun perbuatan yang dapat merugikan orang lain. 


Begitupun bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain, yang telah menzaliminya, memfitnahnya, dan sebagainya, maka diwajibkan untuk memaafkan dengan tulus dan ikhlas karena Allah swt kesalahan orang lain tersebut. Apabila telah meminta maaf namun masih menyimpan dendam, maka permohonan maafnya masih menyimpan amarah.

 

Allah Swt berfirman dalam QS: Al-A'rof : 199 yang Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.

 

Rasulullah juga pernah mengingatkan kita dalam sebuah hadist riwayat Ahmad: Bahwasanya ketika seorang wanita Yahudi telah datang kepada Nabi saw membawa daging kambing yang diracuni. Nabi lalu memakannya, lalu dibawanya lagi daging itu kepada wanita tersebut. Ada yg bertanya kepada Nabi,  "Bagaimana kalau kita bunuh wanita itu?"

 

Beliau menjawab: "Jangan!"

 

Anas berkata, "Aku masih mengetahui racun tersebut dari sisa-sisa makanan beliau." 

 

Lalu beliau bersabda, "Berilah maaf, perintahkan yang makruf dan hindarilah orang-orang yang bodoh". 

 

Ia berkata, " Demi Allah perintah tersebut tidak dianjurkan selain untuk memperbaiki akhlak manusia, dan demi Allah aku pasti mempraktekkannya terhadap merek yang aku temani."

 

Adapun cara yang perlu diperhatikan ketika  meminta maaf atas kesalah kita terhadap orang lain yaitu:
1. Meminta maaf dengan tidak menyebutkan kesalahan yang pernah kita lakukan  terhadap orang, misalnya maafkan saya, karena sudah membicarakan kejelekanmu di belakangmu. Sangat tidak dianjurkan hal seperti itu, karena bisa membuat orang yg dimintakan maaf akan marah, dan bisa jadi tidak akan memaafkan. 

 

Jadi adab meminta maaf terhadap sesama manusia tidak perlu disebutkan kesalahan kita terhadap orang yang kita mintakan maafnya, namun sebaliknya adab permohonan maaf atau ampunan kita terhadap Allah swt, itu harus disebutkan. Misalnya seperti: "Ya Allah. Ampunilah dosa dan kesalahanku terhadap orang itu karena saya sudah menzoliminya, (dengan syarat sebelum kita mohon ampunan kepada Allah terlebih dahulu kita meminta maaf kepada org tersebut).

 

2. Berjanji tidak akan mengulangi lagi atas perbuatan dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya.

 

3. Ikuti dengan kebaikan dan doa untuk orang lain, yg telah kita zolimi, seperti kita mendoakannya : "Ya Allah, saya telah memaafkan orang itu, maka ampunilah dosa dan kesalahannya ..." 

 

Aisyah ra pernah ditanya oleh salah satu sahabat Nabi saw tentang akhlak Rasulullah saw:  Beliau tidak pernah berbuat jahat, tidak berbuat keji, tidak meludah di tempat keramaian dan tidak membalas kejahatan dan kejelekan melainkan beliau selalu memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain  (HRIbnu hibban).

 

Ingatlah, bahwa memaafkan itu lebih utama dan sifat pemaaf mendekatkan manusia pada takwa.

 

Demikian semoga bisa dipahami. Waallahu 'alam bishawab.

Ustadzah Yulia Ulfah, Spd
Alumni Ashidiqiyah Islamic College, Jakarta


Kiai Menjawab Terbaru