• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 23 April 2024

Syiar

Perlu Diperhatikan, Adab-Adab dalam Bertamu

Perlu Diperhatikan, Adab-Adab dalam Bertamu
Saat bersilaturahim harus memperhatikan adab saat bertamu
Saat bersilaturahim harus memperhatikan adab saat bertamu

Silaturahim sangat dianjurkan dalam agama Islam karena dapat meluaskan rezeki dan memperpanjang umur. Ada banyak bentuk dan ragam silaturahim, salah satunya dengan berkunjung ke rumah seseorang, baik itu keluarga, kerabat, saudara, maupun tetangga.

 

Namun ketika kita sedang berkunjung ke rumah orang lain, ada adab atau etika yang harus kita perhatikan saat bertamu. Jangan sampai kedatangan kita membuat ketidaknyamanan bagi tuan rumah atau justru meninggalkan kesan tidak baik.


Berikut adab-adab dalam bertamu ke rumah orang lain seperti dilansir dari Adab-adab dalam Bertamu:

 وَأَمَّا آدَابُ الضَّيْفِ فَهُوَ أَنْ يُبَادِرَ إلَى مُوَافَقَةِ الْمُضِيفِ فِي أُمُورٍ : مِنْهَا أَكْلُ الطَّعَامِ ، وَلَا يَعْتَذِرُ بِشِبَعٍ ، وَأَنْ لَا يَسْأَلَ صَاحِبَ الْمَنْزِلِ عَنْ شَيْءٍ مِنْ دَارِهِ سِوَى الْقِبْلَةِ وَمَوْضِعِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ . وَلَا يَتَطَلَّعُ إلَى نَاحِيَةِ الْحَرِيمِ ، وَلَا يُخَالِفُ إذَا أَجْلَسَهُ فِي مَكَان وَأَكْرَمَهُ بِهِ . وَلَا يَمْتَنِعُ مِنْ غَسْلِ يَدَيْهِ ، وَإِذَا رَأَى صَاحِبَ الْمَنْزِلِ قَدْ تَحَرَّكَ بِحَرَكَةٍ فَلَا يَمْنَعُهُ مِنْهَا 

 

Artinya: Adab bertamu adalah sesegera mungkin beradaptasi dengan tuan rumah dalam beberapa hal,  antara lain:

 

1. Menyantap makanan (yang dihidangkan), tak perlu beralasan sudah kenyang.
2. Tidak bertanya pada tuan rumah tentang sesuatu di rumahnya kecuali arah kiblat dan toilet.
3.  Tidak mengintip ke arah tempat wanita
4. Tidak menolak ketika dipersilakan duduk di suatu tempat dan (tidak menolak) ketika diberi penghormatan.

5. Membasuh kedua tangan (ketika hendak makan dengan tangan).
6. Ketika melihat tuan rumah bergerak untuk melakukan sesuatu, jangan mencegahnya.

 

Keenam adab tersebut dituliskan oleh Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, dalam Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, halaman 117).

 

Selain itu, ada juga adab-adab yang lain dalam bertamu, yakni: 

ومن آداب الضيف أن لا يخرج إلا بإذن صاحب المنزل وأن لا يجلس في مقابلة حجرة النساء وسترتهن وأن لا يكثر النظر إلى الموضع الذي يخرج منه الطعام 

 

Artinya: Sebagian adab dalam bertamu adalah tidak beranjak keluar kecuali atas seizin tuan rumah, tidak duduk di hadapan ruangan perempuan, tidak banyak memandangi ruangan tempat keluar makanan (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 17, halaman 407).


Kemudian ada juga adab yang lain dalam bertamu adalah ketika seseorang hendak menginap, hendaknya tidak melebihi dari tiga hari, hal ini sesuai dengan anjuran dalam hadits:

 وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ 

 

Artinya: Jamuan hak tamu berjangka waktu tiga hari. Lebih dari itu, jamuan adalah sebuah sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkannya (HR. Bukhari Muslim). 


Saat akan bertamu, kita juga perlu memperhatikan waktu dan kondisi orang yang akan kita kunjungi. Misalnya, jangan bertamu pada waktu istirahat atau pada saat dia sedang bekerja. Atau buatlah perjanjian terlebih dahulu supaya pihak yang dikunjungi tidak merasa keberatan.

 
Berbagai adab di atas hendaknya dapat kita perhatikan dan dilaksanakan saat bertamu ke rumah orang lain. Hal itu agar maksud dan tujuan dalam bersilaturahim, diantaranya mempererat persaudaraan dan persahabatan dapat tercapai.


Editor:

Syiar Terbaru