• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 26 Mei 2022

Warta

Pengasuh Pesantren Al Hikmah, Tuntun Non Islam dalam Pembacaan Dua Kalimat Syahadat

Pengasuh Pesantren Al Hikmah, Tuntun Non Islam dalam Pembacaan Dua Kalimat Syahadat
Proses pembacaan dua kalimat syahadat
Proses pembacaan dua kalimat syahadat

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Pengasuh Pesantren Al Hikmah Kedaton Bandar Lampung, KH Basyaruddin Maisir menuntun ikrar dua kalimat syahadat non Islam bernama Femila Mega Sari di Kantor yayasan Al Hikmah pada Selasa (10/5/2022). 


Wanita tersebut dituntun pembacaan ikrar oleh Kiai Maisir dan disaksikan oleh 4 saksi, berdasarkan hal tersebut Femilia sudah menjadi seorang muslimah. 


Wanita kelahiran 1999 ini sebelumnya beragama Kristen dan berencana akan menikah dengan seorang laki-laki yang beragama Islam. Karena peraturan menikah di negara Indonesia harus memiliki agama yang sama. 


Mualaf yang beralamatkan di Kecamatan Teluk Betung Selatan itu membawa dua saksi, yakni kakak kandungnya sendiri yang beragama Islam, dan kakak calon mempelai pria. 


Pengasuh Pesantren Al Hikmah, Kiai Maisir mengatakan, untuk masuk agama Islam itu mudah, tinggal bagaimana komitmennya nanti.


“Masuk Islam itu mudah, akan tetapi setelah masuk Islam baru ada beberapa kewajiban yang harus dikerjakan dan dipenuhi secara terus menerus dan dilakukan secara konsisten,” ujarnya. 


Kiai juga menerangkan sedikit gambaran dari Islam dan tuhan Allah bahwa tuhan Allah itu ada dan berbeda dengan tuhan-tuhan dalam pandangan agama lain. Dengan menganalogikan makhluk-Nya bernama angin.


“Tuhan Allah itu ada, dan tidak bisa dilihat oleh mata kepala manusia, akan tetapi dapat kita rasakan. Jangan bertanya tentang zatnya, akan tetapi ciptaannya. Contohnya semua di ruangan ini merasakan angin dari kipas angin, apakah kita melihat anginnya? Tentu tidak. Apakah bisa memegang anginnya? Tidak juga. Akan tetapi kita bisa merasakan hadirnya angin. Ini hanya analogi sederhana dari makhluk Allah swt,” ungkapnya.


Sambil mengangkat kertas, Kiai menganalogikan dan mempraktikan tentang Tuhan itu sangat dekat.


“Wujud-Nya tidak kelihatan, karena saking dekatnya dengan kita, saking dekatnya maka tidak terlihat. Seperti tulisan jika ditempelkan dekat dengan mata, justru kita tidak melihat tulisan tersebut,” katanya.  


Lebih lanjut ia mengatakan semua contoh tersebut hanya alasan dan dalil secara akal, jika secara kitab suci maka sangat luar biasa. 

(Yudi Prayoga)
 


Warta Terbaru