• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 26 Mei 2022

Warta

Halal bi Halal, Momen Berkumpul dan Meminta Maaf Santri Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung

Halal bi Halal, Momen Berkumpul dan Meminta Maaf Santri Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung
Halal bi Halal Pesantren Al Hikmah
Halal bi Halal Pesantren Al Hikmah

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Pesantren Al Hikmah Kedaton Bandar Lampung mengadakan Halal bi halal di Masjid Nurul Yaqin Kedaton. Senin, (9/5/2022). Halal bi halal tersebut dihadiri oleh seluruh santri putra dan putri, dewan pengurus pesantren, dan seluruh keluarga besar Abah Yai Muhammad Sobari. 


Tujuan diadakannya halal bi halal, agar para santri dan asatidz saling memaafkan satu sama lain di momen bulan syawal ini, serta membuka lembaran yang baru. 


Pengajar Pesantren Al Hikmah, KH Abdul Basith menjelaskan, tentang sejarah Halal bi halal secara gamblang dan singkat.


“Istilah Halal bi halal itu tidak ada di Arab, ini budaya Indonesia, yang membuat ulama Indonesia sendiri. Tujuannya untuk kumpul dan saling meminta maaf,” ujarnya. 


Lebih lanjut ia mengatakan karakter orang Indonesia jika melakukan kesalahan kadang tidak langsung meminta maaf, sering dipendam, mungkin malu dan sebagainya. Akhirnya dibuat satu momen, perkumpulan yang isinya bertujuan untuk meminta maaf, sehingga jika bertemu tidak sungkan lagi untuk saling bertegur sapa. 


Kiai Basith juga memaparkan momen Halal bi halal dengan ilmu mantiq tentang ketupat. “Dalam ilmu mantiq, ada tanda secara lafdziyyah dan ghairu lafdziyyah. Orang Indonesia menggunakan tanda ghairu lafdziyyah berupa makanan ketupat pada hari raya, yang memiliki makna nyuwu kelepatan atau meminta maaf,” ungkapnya. 


Pengasuh Pesantren Al Hikmah, Kiai Basyaruddin Maisir mengatakan, pada Halal bi halal ini para santri harus lebih tertib dan disiplin. 


“Semua harus memiliki peci, kitab untuk ngaji yang lengkap, bertambah semangat untuk belajar dan tidak memperbanyak pelanggaran. Para santri juga harus lebih diperhatikan lagi dalam menghormati kitabnya,” katanya.  


Acara Halal bi halal ditutup dengan doa oleh Ustadz Rifai Ali dan bersalaman antar santri dan asatidz. 

(Yudi Prayoga)
 


Warta Terbaru