• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 2 Desember 2022

Pernik

Napak Tilas Santri Pecinta Alam, Menziarahi Ulama Penyebar Agama Islam di Banten

Napak Tilas Santri Pecinta Alam, Menziarahi Ulama Penyebar Agama Islam di Banten
foto sapala di menaran Banten
foto sapala di menaran Banten

Santri Pecinta Alam (Sapala) mengadakan ziarah akbar atau menapak tilas ke Banten untuk mengenang jasa para leleluhur dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di Banten dan sekitarnya. Kegiatan itu dilaksanakan pada tanggal 7-10 Juli 2022.


Menapak tilas merupakan berjalan kaki dengan menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan, dan sebagainya untuk mengenang perjalanan pada masa perang dan atau sejarah masa lalu.

 

Di tanah Banten, Sapala menziarahi beberapa makam seperti makam Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Abuya Dimyati Cidahu, Syekh Mansyuruddin Cikaduen, Nyi Buyut Sarinten, dan Pemandian Batu Qur’an. 

 

Syekh Maulana Hasanuddin merupakan pendiri Kesultanan Banten yang berkuasa pada 1552-1570 Masehi. Selain sebagai sultan pertama Banten, Maulana Hasanuddin juga merupakan penyebar agama Islam di wilayah tersebut. 

 

Maulana Hasanuddin merupakan putra dari salah satu Wali Songo, majelis penyebar Islam di Jawa pada era Kesultanan Demak, yaitu Asy-Syaikh Maulana Sultan Syarif Hidayatullah Al-Azhamatkhan Al-Husaini atau Sunan Gunung Jati Cirebon (1479-1568 M). 

 

Hadirnya kerajaan Islam di Banten, menjadikan agama Islam menjadi kuat di daerah tersebut. Karena penguasa Muslim akan berpengaruh pesat dalam wilayah dan terhadap rakyatnya. Dengan sendirinya Islam mulai tersebar luas sampai ke pelosok Banten, dan rakyatnya berbondong-bondong memeluknya.  

 

Tidak heran, sejak kesultanan berdiri hingga sekarang, kita melihat Islam begitu kuat dan kokoh di tanah Banten. Bahkan semboyan Provinsi Banten sendiri menggunakan istilah "Iman dan Takwa" sebagai landasan pembangunan menuju Banten Mandiri, Maju dan Sejahtera. 

Kuatnya Islam di Banten, ditopang juga dengan maraknya lembaga Islam, seperti pondok pesantren di berbagai daerah.  Ketika Sapala mamasuki wilayah Pandeglang, disambut dengan slogan di gapura “Selamat Datang di Pandeglang Berkah”. Istilah berkah merupakan kata yang identik dengan Islam tradisional atau santri salafiyah. 


Tokoh berikutnya yang makamnya diziarahi Sapala adalah KH Muhammad Dimyathi atau yang kerap disapa dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim. Lahir pada tahun 1925 di Banten, dari pasangan H Amin dan Hj  Ruqayah. Beliau wafat pada malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M atau bertepatan dengan 7 Sya’ban 1424 H. Dimakamkan di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.

 

Hausnya dalam menuntut ilmu sejak kecil, menjadikan Mbah Dim sebagai penjelajah tanah Jawa hingga ke Pulau Lombok untuk memenuhi hasrat keilmuannya. Bahkan ketika telah berkeluarga dan memiliki putera, beliau tetap berangkat mondok bersama dengan puteranya. Ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa. 


Mbah Dim berguru pada beberapa ulama sepuh di tanah Jawa, yang menurut beliau memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri, Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syekh Nawawi al Bantani. 

 

Kemudian Syekh Maulana Mansyuruddin atau biasa dikenal Sultan Haji, adalah seorang 'ulama sekaligus sultan Banten ke-7.  Beliau adalah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa (raja Banten ke-6). Dalam perjalanan menyiarkan Islam beliau sampai ke daerah Cikoromoy lalu menikah dengan Nyai Sarinten (Nyi Mas Ratu Sarinten) dan dikaruniai seorang putra yang bernama Muhammad Sholih yang memiliki julukan Kyai Abu Sholih. 

 

Kiprah dakwah Islam Syekh Mansyur ke Banten Selatan (Pandeglang), membuat agama Islam di daerah tersebut menjadi kuat dan kental dengan corak Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga ketika masuk Pandeglang, banyak sekali pondok pesantren salafiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pakaian sarung dan peci yang memenuhi jalan raya, pasar, alun-alun, dan tongkrongan-tongkrongan.

 

Kisah Syekh Mansyur juga berkaitan juga dengan situs pemandian Batu Quran di Jalan Cikoromoy, Gunungsari, Mandalawangi, Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Tempat tersebut merupakan bukti karamah dari Syekh Mansyur itu sendiri. 

 

Saking banyaknya makam penyebar Islam di Banten, jumlahnya bisa mencapai ribuan.  Maka tidak akan cukup berziarah dalam waktu empat hari.  Banyaknya makam ulama di Banten, menandakan bahwa syiar agama Islam sangat gencar didakwahkan oleh beberapa kalangan dan beberapa generasi ke generasi. 

 

Dakwah Islam di Banten menjadi bukti melahirkan ulama-ulama kondang, alim dan masyhur tidak hanya sekelas nasional, bahkan internasional, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani yang menjadi guru besar di Masjidil Haram, Makkah. 

 

Di tanah Lampung sendiri, dakwah agama Islam oleh ulama Banten sangat terasa, khususnya di kawasan pesisir Lampung, mulai dari Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran dan Tanggamus. Kita akan menjumpai makam-makam ulama yang berasal dari Banten, seperti Tubagus Mahdum Kuwala Bandar Lampung, Tubagus Yahya Kuripan Bandar Lampung, Tubagus Mahmud Kelumbayan Tanggamus, Tubagus Abdul Muthalib, Tubagus Santri, dan sebagainya. 

 

Maka kita sebagai generasi sekarang, harus bisa meneladani perjuangan para ulama terdahulu dalam mensyiarkan agama Islam dengan berbagai cara. Agama Islam tidak akan tersebar luas tanpa kiprah dan dakwah ulama-ulama terdahulu. 

 

Kita semua harus semangat mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Dan ketika sudah mapan harus siap dan berani berbagi ilmu dengan meneruskan perjuangan serta dakwah para ulama terdahulu. 

 

(Yudi Prayoga, Santri Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandar Lampung)


Pernik Terbaru