• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 5 Februari 2023

Warta

Napaktilas Jejak Ratu Menangsi

Napaktilas Jejak Ratu Menangsi
Napaktilas Jejak Ratu Menangsi Oleh: Muhammad Candra Syahputra (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan) ISLAM Nusantara adalah gagasan atau tema pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, yang sempat menuai pro dan kontra. Di sisi lain, gagasan tersebut memberikan angin segar bagi para sejarawan atau penggiat sejarah Islam Nusantara dalam memperkenalkan khazanah ke-Islaman khas Nusantara ke pada dunia. Termasuk saya, mahasiswa UIN Raden Intan yang melakukan penelusuran jejak Ratu Menangsi, bagian dari sejarah Islam Nusantara yang dirasa perlu dipublikasi sehingga dapat dikenal oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Lampung. Khatua Menangsi atau lebih dikenal dengan nama Ratu Menangsi adalah seorang raja di Keratuan Menangsi. Kata menangsi berasal dari kata Menasiba yang artinya datang paling awal. Ia diakui sebagai orang pertama kali yang datang ke daerah Lampung Selatan. IMG-20170809-WA0017 Adapun makam keramat tertua yaitu makam Pamutokh Agung yang masih panglima dari Keratuan Menangsi atau di bawah kepemerintahan Khatu Menangsi, dikarenakan Pamutokh Agung meninggal lebih dahulu dari Khatu Menangsi. Nama asli dari Khatu Menangsi adalah Muhammad Malik Badri. Keratuan Menangsi adalah salah satu keratuan Islam di Lampung. Keberadaan Keratuan Menangsi tidak lepas dari asal Umpu Puyangnya, yaitu Sekala Brak. Dari dataran tinggi Sekala Brak inilah sebagian leluhur bangsawan Lampung menyebar di segala penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai, yaitu Way Komering, Way Kanan, Way Semaka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulangbawang. Salah satu keturunan Sekala Brak yaitu khadin kunyaian berjulukan Kahai Handak dengan istrinya Putri Dewi Saman Kuning yang berasal dari Keratuan Pugung mendirikan mendirikan kerajaan di Hulu Way Balau atau sungai di Krui Lampung Barat pada awal abad ke 15. Keratuan Balau pindah ke wilayah teluk Lampung. Pada masa kejayaan Keratuan Balau khadin kunyaian yang bergelar Ratu Sai Ngaji Saka dan Istinya Saman Kuning membentuk suatu kebudayaan, yaitu Buay Kuning dan menganut sistim pemerintahan adat Sai Batin atau ke Sai Batinan. Generasi kepemimpinan Keratuan Balau penerus dari Khatu Sai Ngaji Saka yaitu Khatu Mungkuk, Khatu Jangkuna, Khatu Pujaran, dan Khatu Lengkara. Pada masa Khatu Lengkara ini Keratuan Balau mengalami kekacauan karena pengaruh dari Tulangbawang dan Selagai untuk memperebutkan Putri Khatu Lengkara yang terkenal sangat cantik jelita pada pertengahan Abad Ke-15 M yaitu pada Tahun 1552-1580 M. Pada saat itu dua orang puteri Khatu Lengkara dipersunting oleh putra Khatu dari Selagai Lampung Utara dan Minak Patih Prajurit dari Tulangbawang. Namun setelah kekacauan tersebut Keratuan Balau mulai terbawa sistim pemerintahan adat Pepadun atau Kepenyimbangan yang menyebabkan keturunan Khatu Lengkara berpencar mendirikan Keratuan baru. Pada awal abad ke-16 M keturunan Khatu Lengkara yang memisahkan diri yaitu Khatu Wirasaka di Relung Balak atau Gedung di Way Sulan. Khatu Menangsi mendirikan keratuan di Tanjung Selaki pada akhir abad ke-15 M tahun 1599 M dengan tetap menegaskan sistim pemerintahan adat Sai Batin. Kemudian pindah di Pekon Taman Saka, yang sekarang keturunannya bermukim di Pekon Binting atau Desa Taman baru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Relung Katibung bermukim di Tanjungan Ketibung, Relung Balau di Way Kunang yang mendirikan Keratuan Pemanggilan marga pesisir Rajabasa Way Handak ada yang ke Bumi Waras Telukbetung yang menurunkan Pangeran Dewangsa. Dan ada yang pindah ke wilayah Punduh Pidada. Sejarah Keratuan Menangsi berpindah-pindah untuk mencari wilayah strategis, tentunya untuk dijadikan pemukiman. Pertama di Tanjung Selaki, pindah ke dataran Kenali Gunung Rajabasa dan yang terakhir di Pekon Taman Saka. Di Pekon Taman Saka pada awal abad 16 M Keratuan Menangsi mencapai kejayaannya karena pemerintahannya didukung oleh putra pertama Khatu Menangsi, Muhammad Abdullah yang kemudian diangkat sebagai Pepatih Keratuan dengan gelar Pepatih Lebuh Kacca. Artinya pepatih yang banyak kawan atau saudara dan pasukan pada tahun 1634-1665 M. Pada masa kepemimpinan Pepatih Lebuh Kacca, Keratuan Menangsi kehidupan masyarakatnya sangat damai dan tentram. Hubungan terjalin harmonis dengan Kacca-kacca atau saudara dari beberapa pekon. Seperti dengan Pekon Rajabasa di Pesisir, Pekon Maja, Pekon Dantaran, Pekon Kahai, Pekon Luji, Pekon Alongan, Pekon Pematang, dan Pekon Katibung Abung bahkan dengan pekon-pekon marga yang ada di Teluk Lampung sampai ke daerah Semaka Tanggamus. Semua pekon sangat rukun dan bersatu karena sama-sama menanamkan rasa saling angkon atau mengakui sehingga persatuan dan kesatuan menjadi sangat kuat. Persatuan pekon-pekon ini atau keluarga besar Way Handak terdengar ke seluruh daerah Lampung, bahkan sampai ke Kesultanan Banten yang pada masa itu Kesultanan Banten sedang menghadapi peperangan dengan Kerajaan Pajajaran kuno, yang masih beragama Hindhu. Karena mendengar persatuan Keratuan Menangsi dengan saudara-saudaranya sangat kuat, Kesultanan Banten mengirimkan utusan menghadap Khatu Menangsi untuk meminta bantuan para pendekar Way Handak untuk membantu pertempuran Kesultanan Banten melawan Pajajaran yang berpusat di Karawang Jawa Barat. Karena permintaan sahabatnya inilah dari Kesultanan Banten, Khatu Menangsih memerintahkan kepada patihnya atau putra pertamanya, Pepatih Lebuh Kacca untuk mengajak Kacca-kaccanya atau teman-teman untuk membantu. Dipimpin langsung oleh Patih Lebuh Kacca, berangkatlah para pendekar Lampung ke tanah Jawa untuk membantu Kesultanan Banten perang meng-Islamkan kerajaan Pajajaran di Karawang. Perangpun akhirnya pecah pada abad ke 16 M. Pada perang itu Pajajaran dapat ditaklukan sampai organ tubuh jantung dan hati Raja Pajajaran dapat diambil oleh pendekar-pendekar Keratuan Menangsi. Setelah merayakan kemenangan di Kesultanan Banten, para pendekar Way Handak pulang ke Lampung. Karena rasa bangganya Kesultanan Banten menyatakan seangkonan atau mengangkat saudara dan memberikan suatu wilayah untuk dijadikan pekon atau desa untuk saudara-saudaranya yang dari Lampung. Sampai saat ini daerah itu dikenal dengan Pekon Cikoneng. Asal mula nama Cikoneng diambil dari Pepatih Lebuh Kacca yang memimpin pendekar-pendekar dari Lampung adalah dari Buay Kuning yang artinya Buay itu air atau garis keturunan, dan kuning artinya kuning. Maka jadilah Cikoneng dalam bahasa Banten sampai saat ini. Sedangkan bagi para pendekar yang kembali ke Lampung diberi suatu hadiah sebagai simbol suatu kemenangan, yaitu Batu Panjang atau Batu Alif yang diletakkan di Taman Keratuan Menangsi berikut tumbuhan untuk ditanam di Taman Keratuan, Liyoh atau alang-alang dan burung berkepala putih. Ikut juga dibawa jantung dan hati raja Karawang serta emas setajau atau emas satu gentong yang dibawa oleh marga Dantaran yang terkenal dengan sebutan Tupai Tanoh. Setelah para pendekar Way Handak tiba di tanah Lampung, Khatu Menangsi mendengar kabar Karawang atau Pajajaran akan melakukan serangan balik ke Way Handak Lampung. Karena kabar tersebut, Khatu Menangsi menjadi Gipih atau cemas. Maka dibangunlah sebuah benteng yang dipimpin Patih Lebuh Kacca. Saat ini, benteng dikenal dengan Benteng Raja Gipih dan menjadi permukiman anak keturunan Khatu Menangsi atau lebih dikenal dengan Pekon Binting Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Selain membangun Benteng Raja Gipih sebagai pusat benteng Patih Lebuh Kacca, juga membangun benteng-benteng lain sebagai titik pertahanan. Diantaranya Benteng Loji, Benteng Kenali, Benteng Ketimbang, Benteng Kedadaan, Benteng Merambung, Benteng Hawi Bekhak, Benteng Way Kawoh atau Pekon Rajabasa dan Benteng Bendulu di Pekon Pangkul Pesisir Rajabasa. Pada akhir abad ke 16 M yaitu tahun 1666-1682 M putra Patih Lebuh Kacca yaitu Nur Alam yang bergelar Patih Ulu Khaga menggantikan kepemimpinan orang tuanya membina rasa persaudaraan atau seangkonan dengan pekon-pekon lain dari beberapa pekon dari wilayah Tanjung Selaki sampai Tanjung Tua. Ia membentuk suatu himpunan keluarga besar atau kemuakhian atau yang dinamakan kemuakhian Sai Batin Way Handak dengan pembagian wilayah yang disebut Marga Khatu atau Keratuan yang berdiri di pekon Binting Desa Taman Baru. Marga Dantaran berdiri di Pekon Penengahan. Lalu Marga Pesisir yang berdiri di pekon Rajabasa Pesisir, Marga Legun yang berdiri di Kesugihan Kecamatan Kalianda, dan Marga Ketibung yang berdiri di Desa Tanjungan Kecamatan Katibung. Kelima marga ini yang sampai sekarang dikenal yang dikenal dengan Sai Batin Lima marga Way Handak atau Kalianda. Rasa angkon atau persaudaraan tetap terjalin baik dari lima marga Way Handak dengan keturunan Keratuan Balau yang ada di Telukbetung, dan Kampung Kedamaian Tanjung Karang dan bahkan dengan keturunan Umpu Puyang Sai Batin Way Handak di Sekala Brak yang saat ini dikenal dengan kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak. Berdasarkan peninggalan-peninggalan dan makam-makam keramat yang ada di daerah penengahan seperti di dusun Taman Saka, yaitu makam Khatu Menangsi dan Istrinya. Di dekat makam Khatu Menangsi terdapat makam Patih Lebuh Kacca dan Patih Ulu Khaga yang termasuk generasi penerus Keratuan Menangsi. Makam keramat di dekat pantai Kahai yaitu makam Pamutokh Agung, termasuk salah satu panglima perang dari Keratuan Menangsi saat perang melawan Pajajaran di Karawang. Kemudian Makam Pangeran Ngepih di Umbul Liyoh yang terkenal dengan nama Keramat Luji. Pangeran Ngepih adalah seorang yang menjaga benteng. Beliau juga masih termasuk dalam kerabat Keratuan Menangsi. Makam Elang Beruas di sekitaran Gunung Rajabasa. Ia adalah seorang yang dipercaya oleh Khatu Menangsi. (*) Referensi [1] Wawancara dengan Bapak Bahri/Pangeran Marga Khatu Menangsi 03 Agustus 2017  [2] Wawancara dengan Bapak Safruddin/Pangeran Cahaya Marga 03 Agustus 2017  3. Syamsuri.2016. Makalah sejarah keraguan Menangsi


Editor:

Warta Terbaru