• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Opini

Mengetuk Pintu Ramadhan, Menjemput Pahala Akhirat

Mengetuk Pintu Ramadhan, Menjemput Pahala Akhirat
Teungku Iswadi, Wakil Katib Syuriyah PCNU Bireun
Teungku Iswadi, Wakil Katib Syuriyah PCNU Bireun

Oleh: Teungku Iswadi, M.Sos


Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Keberadaan Ramadhan sebagai bulan ibadah hendaknya menjadikan kita untuk lebih giat dan produktif dalam bekerja dan beramal kebaikan. Sebagian orang beranggapan bahwa bekerja mencari nafkah bukanlah ibadah, karena menganggap ibadah hanya seputar berzikir, membaca Al-Qur'an, shalat dan zakat.  Padahal, bekerja mencari nafkah juga bagian dari ibadah bahkan menjadi kewajiban kepada mereka yang mempunyai keluarga sebagai tanggungjawabnya. 


Ketika berpuasa, jangan sampai berhenti dari aktivitas bekerja atau bermalas-malasan dengan alasan berpuasa, ini yang keliru. Kita boleh mengurangi kegiatan-kegiatan fisik yang dapat berpotensi membatalkan puasa kita, namun jangan sampai hal-hal yang seharusnya dilakukan untuk kualitas kerja harus dikurangi. Karena bekerja yang ikhlas dan halal mengandung pahala yang besar. Bahkan setetes keringatpun akan  diberi pahala oleh Allah swt. 


Sama dengan tidur. Tidur bisa bernilai ibadah jika tidurnya sebagaimana ucapan Ibnu Rajab, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latha-if Al-Ma’arif)


Intinya, segala aktivitas akan berpahala jika dengan niat yang baik. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.


Keberadaan bulan Ramadhan sebagai bulan produktif dan berjihad telah dilakukan baginda Nabi Muhammad saw. Bahkan Nabi membuktikan saat berpuasa tidak mengendurkan semangat juang dan produktivitas kerja. Hal Ini terbukti ketika Nabi dan para sahabatnya berjuang pada perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, saat pertama kali puasa disyariatkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. Sekitar 313 kaum muslimin, di bawah pimpinan Nabi berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 950 orang di bawah komando Abu Sofyan.


Jika kita menyimak refleksi substansial dari perang Badar tersebut bukanlah pada perang fisiknya, melainkan pada etos kerja dan etos juang yang tak pernah surut meski Nabi dan para sahabatnya waktu itu dalam keadaan berpuasa. Melalui peristiwa perang Badar ini, semakin jelas bahwa puasa yang dilakukan sesuai tuntunan Nabi akan mampu melestarikan dan menumbuhkan etos kerja dan etos juang yang tinggi.


Fenomena lainnya yakni produktif selama Ramadhan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama-ulama terdahulu yang selalu produktif dalam menjalankan aktiftasnya walaupun pada bulan Ramadhan. Seperti Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi, pengarang kitab Riyadh Ash-Shalihin yang menyelesaikan penyusunan kitab yang sangat populer dan besar manfaat serta faedahnya pada tanggal 14 Ramadhan. Contoh lainnya seperti yang dipraktikkan salah seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi'i, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam mensyarahi kitab Asy-Syamail An-Nabawiyah karya Abu Isa Muhammad bin Saurah At-Tirmidzi, atau yang lebih kita kenal dengan Imam Tirmidzi, yang selesai pada tanggal 18 Ramadhan.


Fakta lainnya sebagimana disebutkan dalam sejarah bahwa turunnya ayat suci Al-Qur'an pertama kali pada bulan Ramadhan. Kemenangan pasukan Rasulullah saw dalam Perang Badar, pada 17 Ramadhan tahun ke-7 Hijriah. Tariq bin Ziyad berhasil menaklukkan Andalusia pada Ramadhan tahun 92 Hijriah. Bahkan, Tariq memimpin armada Islam menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa serta berbagai peristiwa penting lainnya.


Tentunya dengan serangkaian peristiwa penting pada bulan Ramadhan tersebut, mengilustrasikan bahwa Ramadhan tidak hanya menjadi sarana penempaan jiwa dan spiritual, tetapi juga dapat menjadi sarana bagi umat Islam untuk meningkatkan produktivitas raganya.


Rasulullah saw lebih menghargai umatnya yang produktif daripada yang bermalas-malasan. Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya, andaikan ada di antara kalian yang berusaha membawa seutas tali dan pergi ke sebuah bukit untuk mencari kayu bakar. Kemudian, kayu bakar itu dipikul di punggungnya untuk dijual. Sehingga dia dapat memenuhi kebutuhannya. Tentunya, tindakan itu jauh lebih terhormat, ketimbang ia meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari).


Spirit yang ingin dibangun Rasulullah saw melalui hadis tersebut, bahwa umat Islam harus menjadi umat yang produktif untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun, harus bekerja kasar mengambil kayu bakar di hutan kemudian menjualnya, daripada terlena dalam kemalasan dan meminta-minta. Oleh karena itu, setiap aktivitas umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan haruslah dilakukan dengan kegembiraan, kesenangan, kekuatan, dan semangat mengharap ridha Allah.


Bahkan jauh sebelum tibanya bulan Ramadhan Nabi Muhammad saw., telah memberikan nasihat dan pesan kepada para sahabat untuk menyiapkan diri semaksimal mugkin dalam menyambut bulan mulia dan berkah ini, agar dapat mengisinya dengan amal ibadah. Sebuah hadis diriwayatkan Salman Al-Farisi berisikan pesan Rasulullah saw di hadapan para sahabat tepatnya di akhir bulan Sya'ban. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezeki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.”


Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa”. Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya, Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada Ilah (tuhan) selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)


Produktivitas selama bulan Ramadhan harus kita tingkatkan, karena setiap ibadah dilipat gandakan amal kebaikannya. Apabila seseorang mengerjakan ibadah sunnah di bulan Ramadhan, imbalannya memiliki pahala yang sama dengan amal wajib. Begitu juga seseorang mengerjakan amaliah wajib di bulan tersebut, maka setara dengan 70 amal wajib. Barangsiapa yang memberi buka puasa untuk seorang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka, dan baginya pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala oarang yang berpuasa tersebut sedikit pun. Dilipatgandakan pahala tersebut sesuai dengan hadist Nabi, yang berbunyi “Wahai sekalian manusia, telah datang pada kalian bulan yang mulia. Di bulan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Puasanya dijadikan sebagai suatu kewajiban. Shalat malamnya adalah suatu amalan sunnah. Siapa yang melakukan kebaikan pada bulan tersebut seperti ia melakukan kewajiban di waktu lainnya. Siapa yang melaksanakan kewajiban pada bulan tersebut seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di waktu lainnya.” (HR. Al-Mahamili dan Ibnu Khuzaimah)


Berdasarkan penjelasan di atas, marilah kita berusaha dan berjihad serta beribadah dengan giat dan produktif selama Ramadhan, dan tentunya tidak menjadi alasan kepada kita untuk bermasalah selama Ramadhan, karena nilai ibadah puasa seorang Muslim bergantung pada seberapa maksimal dan produktif dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sudahkah kita meneladani Rasulullah saw selama Ramadhan untuk giat dan produktif dalam bekerja dan berjihad?


Penulis adalah Wakil Katib Syuriyah PCNU Bireuen, Aceh
 


Opini Terbaru