• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Syiar

Ciri-Ciri Lailatul Qadar Berdasarkan Hari Awal Ramadhan

Ciri-Ciri Lailatul Qadar Berdasarkan Hari Awal Ramadhan
ilustrasi malam lailatulqadar
ilustrasi malam lailatulqadar

Oleh: Ustadz Helmi Abu Bakar el-Langkawi, M. Pd

 

Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan banyak keistimewaan yang telah Allah anugerahkan. Mulai dari ampunan dosa, dilipatgandakan pahala, diturunkannya Al-Qur'an, dan masih banyak lagi kelebihan serta keistimewaannya. Termasuk di dalamnya adanya Lailatulqadar. Malam yang menurut Muhyiddin Ibnu Arabi dalam Ahkamul Qur'an-nya, sebagai kado istimewa bagi umat Nabi Muhammad saw yang nilainya tidak tertandingi oleh apapun.

 

Kapan terjadi Lailatulqadar? Kita tidak ada yang tahu pasti, dan itu poin pentingnya. Ketidakpastian waktunya mengandung hikmah yang sangat besar, yaitu membuat manusia terus beribadah setiap malam, dengan harapan mendapatkan kemuliaan Lailatulqadar.

 

Jika waktunya pasti, kita hanya cukup menunggu dan kemudian melaksanakan ibadah di waktu tersebut, seperti halnya shalat Jumat atau ibadah-ibadah lainnya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, banyak dari kita yang masih enggan melakukan ibadah yang sudah jelas waktunya, apalagi yang tidak jelas waktunya seperti qiyamul lail

 

Meskipun demikian, terkait ciri-ciri Lailatulqadar, para ulama dengan petunjuk dari hadits Rasulullah saw hanya mampu menjelaskan ciri-cirinya saja. Bahwa pada malam tersebut ditandai dengan hawa dan kondisi tenang dan tidak terlalu dingin atau terlalu panas. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadist yang berbunyi: “Lailatulqadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan).” (H.R. At-Thabrani ).

 

Diantara ciri lainnya, yakni terjadi di dalam mimpi, seperti yang dialami oleh sebagian sahabat Nabi saw. “Dari sahabat Ibnu Umar radliyallahu’anhuma bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi saw diperlihatkan malam Qadar dalam mimpi (oleh Allah swt) pada 7 malam terakhir (Ramadhan), kemudian Rasulullah saw berkata,”Aku melihat bahwa mimpi kalian (tentang Lailatulqadar) terjadi pada 7 malam terakhir. Maka barang siapa yang mau mencarinya maka carilah pada 7 malam terakhir,” (HR Muslim).

 

Diantara ciri-ciri umumnya berupa gejala alam yang terjadi pada malam tersebut atau bahkan keesokan harinya. Namun kita tidak boleh terfokus dengan mengintip ciri-cirinya saja. Justru yang kita fokuskan adalah untuk memperbanyak ibadah pada 10 terakhir Ramadhan dan memperbanyak amalan yang baik.

 

Dari sudut pandang kemuliaannya, Lailuatulqadar lebih utama dari seribu bulan (alfu syahrin). Surat al-Qadr menggambarkan adanya Lailuatulqadar dengan turunnya para malaikat di malam itu untuk mengurus berbagai urusan, kedamaian dan kesejahteraan malam tersebut hingga fajar menyingsing.

 

Menurut perhitungan Syekh Abdul Halim Mahmud, seribu bulan (alfu syahrin) setara dengan 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia (dzalika ‘âdah ‘umril insân). Beliau menulis: “Seribu bulan adalah delapan puluh tiga tahun empat bulan. Itu merupakan standar umum umur manusia. Lailuatulqadar (alfu syahrin) lebih baik dari umur setiap manusia, baik umur manusia di masa lalu maupun umur manusia di masa mendatang. Intinya, Lailuatulqadar lebih baik dari (usia) zaman.” (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadhân, h. 21).

 

Memburu Lailatulqadar Sepuluh Akhir

 

Keberadaan Lailatulqadar menurut hadis nabi kemungkinan terjadi di akhir 10 Ramadhan. Rasulullah saw selalu memperbanyak beribadah di sulus (sepertiga) akhir Ramadhan. Sebagaimana disebutkan dalam Imam Muslim, beliau meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha,Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya”.

 

Dalam shahihain disebutkan, Rasulullah beriktikaf di akhir 10 Ramadhan secara terus menerus. Disebutkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sampai Allah mewafatkan beliau”.

 

Lantas dimana 10 akhir itu, apakah malam 21, 22, 25 atau kapan? Sudah ditegaskan lagi, bahwa malam Lailatulqadar itu terjadi pada malam-malam ganjil sebagaimana sabda Nabi, “Carilah Lailatulqadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha).

 

Kapan Lailatulqadar?

 

Malam Lailatulqadar merupakan malam yang sangat istimewa di bandingkan dengan malam biasa. Tidak sadikit hadist yang menguraikan dan menjelaskan fenomena dan kelebihan malam tersebut. Namun penulis pada kesempatan ini hanya menukilkan beberapa pendapat ulama mengenai prediksinya malam Qadar.

 

Diantaranya seperti yang dijelaskan dala kitab Tafsir Shawi, pertama, Jika awal Ramadhan hari Ahad maka Lailatulqadar malam 29. Kedua, jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatulqadar malam 21. Ketiga, jika awal Ramadhan hari Selasa maka Lailatulqadar malam 27.

 

Keempat, jika awal Ramadhan hari Rabu maka Lailatulqadar malam 19. Kelima, jika awal Ramadhan hari Kamis maka Lailatulqadar malam 25. Keenam, jika awal Ramadhan hari Jumat maka Lailatulqadar malam 17. Ketujuh, jika awal Raamadhan hari Sabtu maka Lailatulqadar malam 23. ( Kitab Tafsir Shawi:IV:337).

 

Sementara itu dalam prediksi ulama yang lainnya agak berbeda.  Perbedaan tersebut tentu memiliki alasan tersendiri dan mungkin juga pengalaman para ulama tersebut. Diantaranya, pertama, jika awal Ramadhan hari Jumat maka Lailatulqadar malam 29. Kedua, jika awal Ramadhan hari Sabtu maka Lailatulqadar malam 21. Ketiga, jika awal Ramadhan hari Ahad maka Lailatulqadar malam 27.

 

Keempat, jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatulqadar malam 29. Kelima, jika awal Ramadhan hari Selasa maka Lailatulqadar malam 25. Keenam, jika awal Raamadhan hari Rabu maka Lailatulqadar malam 27. Ketujuh, jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20. ( Kitab Bajuri: I: 304).

 

Dalam kitab Ianah Ath-Thalibin menjelaskan prediksi lain tentang terjadinya malam Lailatulqadar. Disebutkan, pertama, jika awal Ramadhan Ahad atau rabu,maka Lilatul qadar malam 29. Kedua, jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatulqadar malam 21. Ketiga, jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka Lailatulqadar malam 27. Keempat, jika awal Ramadhan hari Kamis maka Lailatulqadar malam 25. Kelima, jika awal Ramadhan hari Sabtu maka Lailatulqadar malam 23. (Kitab Ianah Ath-Thalibin: II: 257).

 

Berdasarkan penjelasan para ulama, tahun ini pemerintah telah menetapkan bahwa awal Ramadhan jatuh pada hari Minggu, merujuk dari petunjuk di atas kemungkinan Lailatulqadar malam 27 Ramadhan atau malam 29 Ramadhan. Terlepas dari itu, hendaknya kita selalu berusaha setiap malam mengisi dengan ibadah. Wallahualam. 

 

Penulis Adalah Ketua Ansor Pidie Jaya dan Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
 


Syiar Terbaru