• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Opini

Kisah Anjing dan Orang-orang Saleh

Kisah Anjing dan Orang-orang Saleh
ilustrasi ulama dan anjing
ilustrasi ulama dan anjing

ANJING merupakan hewan yang sering dijumpai di sekitar kita. Sebagian penduduk bumi memeliharanya. Sebagian lagi tidak, terutama orang yang beragama. Mungkin mereka menjauhi hewan tersebut, karena merasa jijik dan memandang buruk terhadapnya karena mengandung najis.  

 

Tetapi ada juga beberapa kaum agamawan yang tetap memeliharanya karena banyak memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, seperti untuk penjaga, pelacak dan hiasan rumah. 

 

Sebagian manusia ada yang membenci anjing, bahkan ada yang menyiksanya dengan melempari batu dan mengikat keempat kakinya kemudian menenggelamkannya di sungai, entah karena iseng, jengkel atau fanatik terhadap agama. 

 

Padahal, dalam Islam hanya diperintah untuk menjauhi hewan tersebut, dan apabila tersentuh cukup dibilas tujuh kali dengan air dan satu bilasan menggunakan tanah.  Tidak ada dalil untuk menyiksa anjing karena najisnya apalagi sampai membunuhnya. 

 

Sebaliknya, secara empati dalam pandangan makhluk Allah, anjing tidak pernah menilai buruk teehadap manusia, terutama manusia yang bersalah dan berdosa seperti koruptor, Islam label KTP, mencuri dan pelaku dosa lainya.

 

Meski hewan anjing tetap menjadi polemik bagi manusia khususnya kaum agamawan (Islam), tetapi tidak bisa dipungkiri juga dalam sejarah umat manusia, ada beberapa kisah yang masyhur tentang  anjing yang ikut serta menghiasi hidup orang-orang saleh. 

 

Diceritakan dalam kitab Mauizhat al-Mukminin, halaman 240, suatu ketika Abdullah bin Ja’far melihat seorang budak yang memberikan sepotong roti kepada anjing. Setelah habis, roti ia lempar lagi pada si anjing, sampai tiga potong roti habis. 

 

‘‘Kau makan berapa potong sehari?’’ tanya Ibn Ja’far. ‘‘Seperti yang kau lihat tadi," jawab si budak. 

 

‘‘Kenapa kau berikan ke anjing semua?’’ 

 

‘‘Anjing ini datang dari tempat yang jauh dalam keadaan lapar. Aku membenci melihat diriku kenyang, sementara ia kelaparan.’’

 

Juga diceritakan didalam kitab Maulid al-Barzanjiy, kita menemukan bahwa kakek Nabi Muhammad Saw yang ke-5 bernama Kilab yang bermakna Anjing-anjing. Nabi sangat bangga menyebut dan mencantumkan nama kakeknya tersebut.

 

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Banten dalam kitabnya Madarijus Su’ud Ila Ikhtisa al-Burud yang merupakan syarah kitab Maulid al-Barzanjiy, mengutip ahli sejarah,  nama Kilab adalah laqob yang masyhur. Julukan tersebut diberikan lantaran beliau sering berburu di hutan dengan membawa anjing buruan.

 

Syekh Muhammad bin Abdul Lathif mengutif perkataan Imam Ibnu Saad, seorang pakar sejarah pengarang kitab Thabaqat yang terdiri dari 15 jilid, menyebutkan bahwa  nama asli dari Kilab adalah al-Muhadzzab yang artinya orang pilihan.

 

Di Indonesia ada juga kisah seorang ulama Sufi bernama Mutamakkin dari Pati Jawa Tengah yang juga sangat fenomenal tentang kisah anjingnya. Dalam kitab Serat Cebolek yang disusun Yasadipura I, dalam rangka melatih jiwa dari hawa nafsu, ia menempuh berbagai cara. Diantaranya dengan mengurangi makan, minum dan tidur.

 

Puncaknya melakukan puasa 40 hari, dan malam pada hari ke-40 itu, ia meminta istrinya untuk menghidangkan makanan yang lezat di depannya dengan tubuh diikat erat di tiang rumah.

 

Setelah itu ia mengendalikan hawa nafsunya sekuat tenaga. Dan berhasil. Anehnya, saat nafsu dan syahwatnya keluar menjelma dua ekor anjing. Kedua anjing tersebut ingin masuk kembali, namun ia tolak. Yang membuat geger, Mbah Mutamakkin menamai kedua anjingnya tersebut dengan nama Abdul Qohar dan Qomaruddin.

 

Beliau pernah ditentang oleh para kiai di Kajen, karena memberi nama anjing dengan nama manusia dan konon salah satu nama ulama masyhur kala itu. Menurut beliau, manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya sama seperti anjing. 

 

Tidak hanya berhenti di situ kisah tentang anjing dan orang saleh. Nabi Muhammad Saw pernah bercerita tentang wanita tuna susila dan seekor anjing di zaman Bani Israil yang termaktub di dalam Hadits Bukhori, bahwasanya dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah Saw bersabda, ‘‘Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. 

 

Dia berkata, ‘‘Anjing ini hampir mati kehausan’’. (Melihat itu) si wanita  melepaskan sepatunya, lalu diikatkan dengan kerudungnya, lalu dia mengambil air untuk minum anjing tersebut. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari). 

 

Ada juga yang lebih menarik lagi, yakni kisah sufi moderat, Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Suatu ketika beliau berjalan sendiri di malam hari. Lalu beliau melihat seekor anjing berjalan lurus ke arahnya. Ketika anjing itu menghampiri beliau, Abu Yazid mengangkat jubahnya khawatir tersentuh anjing yang katanya najis itu. Anjing itupun berhenti dan memandangnya. 

 

Entah bagaima Abu Yazid mendengar anjing itu berbicara kepadanya. ‘‘Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis kepadamu, kalaupun terkena najis, cukup dibilas tujuh kali dengan air dan tanah, maka najis ditubuhmu akan hilang. Tapi jika engkau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu lebih mulia, lalu menganggapku anjing yang hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walaupun engkau membasuhnya dengan tujuh samudera lautan’’. 

 

Mendengar itu, Abu Yazid tersentak dan meminta maaf kepada anjing tersebut. Sebagai tanda permohonan maafnya, Abu Yazid mengajak anjing untuk bersahabat dan berjalan bersamanya. Namun anjing tersebut menolak. 

 

‘‘Engkau tidak patut berjalan denganku, karena mereka yang memuliakanmu akan mencemooh dan melempariku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku hina, padahal aku berserah diri kepada Sang Pencipta Wujud ini. Lihatlah aku tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum.’’ 

 

Anjing memang seekor hewan namun mereka adalah makhluk Allah, jika kita menghina wujudnya, berarti kita juga menghina penciptanya. Dan yang boleh menghinanya hanya penciptanya saja. Wallahua’lam.  

 

Yudi Prayoga, Santri Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung.


Opini Terbaru