• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 5 Februari 2023

Pernik

Keberhasilan Pesantren Mendidik Para Santri

Keberhasilan Pesantren Mendidik Para Santri
foto ulama, Mbah Wahab Hasbullah
foto ulama, Mbah Wahab Hasbullah

KITA tidak akan pernah bisa menghitung, seberapa banyak ulama dan kiai yang ada di Indonesia, mulai dari penyebar Islam pertama hingga era Wali Songo dan diteruskan oleh kiai-kiai sampai sekarang ini. Mungkin jumlahnya sangat jutaan, bahkan lebih. Mulai dari kiai yang masyhur ataupun yang mastur. Baik yang disebut dengan kiai kampung yang mengurus masjid dan TPA atau kiai yang memiliki lembaga pendidikan pesantren dan madrasah diniyyah. 

 


Bagaimana para ulama dan kiai tersebut bisa sukses menuntut ilmu dan berdakwah dimasyarakat. Apakah karena otodidak belajar sendiri. Membaca kitab-kitab agama, kemudian mengamalkanya? Jawabanya tidak. Mereka lahir dari pesantren yang ilmunya terjaga oleh sanad para guru dan kitab kuning.

 


Karena 99 persen ulama dan kiai di Indonesia lahir dari rahim lembaga pendidikan bernama pesantren. Secara historis juga, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sebelum ada lembaga formal yang meniru kolonial Belanda. Dari Rahim pesantren yang kuno itulah, banyak melahirkan ulama dan kiai-kiai yang tersebar di Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan sebagainya. 

 


Tidak berhenti disitu, para santri yang sudah boyong atau pulang ke rumah, karena sudah menyelesaikan pendidikannya di pesantren, biasanya ikut melanjutkan dakwah kiainya dengan mendirikan pondok pesantren juga. Menggembleng dan melahirkan ulama dan kiai yang baru. 

 


Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama dan sosial semata, melainkan juga sebagai titik dasar dari penggemblengan akhlak yang baik dan sopan santun kepada pencipta, manusia dan alam semesta. 

 


Memang kita tidak bisa menjamin, bahwa semua pendidikan menghasilkan 100 persen muridnya berhasil atau baik. Namun pesantren menawarkan habitat yang baik bagi para santri itu sendiri. Meski secara sosial, hampir semua lembaga pendidikan baik pesantren maupun formal, memiliki persoalan yang sama, yang tidak bisa dilepaskan dengan adanya kenakalan remaja sebagai murid atau santri. 

 


Didalam lingkungan pesantren, peraturan sangat tegas, yang kadang membuat santri baru kaget, bahkan memberontak. Karena memang sebelumnya belum pernah merasakan mondok sama sekali. Seperti santri diwajibkan untuk tunduk dan patuh terhadap kiai dan guru. Dilarang membantah atau menyela perkataan kiai, ketika sendang memberikan nasehat dan pelajaran. 

 


Karena dari modal taat dan mengikuti arahan kiai tersebut, banyak santri yang lulus atau berhasil menguasai ilmunya. Bahkan keilmuanya melebihi gurunya sendiri. Bukan hanya atas dasar anak tersebut pintar atau rajin belajar. Melainkan juga atas dasar ikhlas dan ridho guru ketika memberikan ilmunya. 

 


Ketika santri tidak membantah sang guru atau kiai, tidak berisik di kelas, tidak melawan ketika diingatkan dan dinasehati, maka guru atau kiai tersebut akan ikhlas memberikan ilmu kepada muridnya di kelas. Dari ikhlasnya sang guru dan kiai memberikan ilmu, maka ilmu akan menancap kuat didalam hati para santri. Karena ilmu yang didapat dari keikhlasannya guru, maka ilmu tersebut selamanya akan berkah dan manfaat. 

 


Namun berbeda hal jika sebaliknya, banyak murid yang belajar di sekolah namun seperti tidak mendapatkan apa-apa. Apa yang dipelajari selama dikelas hilang tidak membekas, padahal sudah 3 tahun bahkan ada yang 6 tahun. Mungkin dahulu ketika dikelas pernah memberikan kesan buruk terhadap guru, seperti membangkang, melawan dan sembrono. Sehingga banyak guru yang malas mengajar di kelas tersebut. Ada yang memberikan materi namun kurang atau bahkan tidak ikhlas, sehinggal ilmu hanya selewatan saja, selesai dikelas selesai juga di akal dan di hati. 

 


Didalam pesantren, sangat ketat dalam segi pembelajaran dikelas, karena berkaitan dengan adab. Meskipun sebenarnya kiai tidak anti kritik, namun ada forum sendiri bagi santri untuk kritis dan berbicara sepuasnya. Seperti di lembaga bahsul kutub atau bahsul masail. Forum yang membahas persoalan seputar ilmu pengetahuan yang diajarkan dikelas dan persoalan yang berkembang dimasyarakat. Disinilah para santri diadu argument dan pengetahuanya.  Mulai dari tarkib, murad dan masalahnya. 

 


Lembaga pesantren memang sudah mendesain sedemikian rupa bentuk pembelajaran yang efisien untuk melahirkan ulama dan kiai-kiai kondang yang mumpuni serta kritis didalam bidangnya. 

 


Adakalanya santri menulis, mendengarkan, membaca, menyetor hapalan dan adakalanya kritis serta mengkritisi. Sebenarnya pesantren tidak anti kritik, seperti yang sudah saya katakana diatas. Pesantren memberikan ruang kritis pada forum bahsul masail atau bahsul kutub. Bahkan ketika santri berbeda dengan kiai, bisa diadu di forum dengan cara tabayyun. Apakah argument santri tersebut benar atau tersesat dan keliru.  

 


Pesantren memang lembaga tua yang kuno, namun pesantren juga tetap menjadi lembaga masa kini dan masa yang akan datang. Karena dari pesantrenlah banyak melahirkan peradaban bagi bangsa Indonesia dan dunia. Melahirkan cahaya-cahaya yang memancar dan menjadi paku di penjuru bumi. 

 


Kadangkala pesantren kelihatan sederhana dimata pendidikan formal yang serba modern. Namun kita tidak pernah berfikir lebih mendalam, bahwa pesantren bisa merubah habitat dan karakter manusia. Merubah pola pikir dan tingkah laku. 

 


Senakal-nakalnya anak dirumah. Ketika dipesantren ia akan merasakan shalat berjamaah, istighazah, puasa sunah, hafalan surat dan nadzam, shalawatan, manaqiban, dan berbagai rutinitas yang mendekatkan diri kepada Allah. Meski ketika sudah lulus dan pulang ke rumah, hal-hal semacam itu jarang dilaksanakan kembali. Namun intinya selama anak berada di pesantren, Amaliah ibadahnya meningkat, ilmunya bertambah, dan sopan santunnya berlaku. 

 


Pondok pesantren yang ada di Indonesia tidak hanya memberikan ilmu secara otodidak atau asal-asalan, melainkan tetap pada jalur sanad keilmuan, yang tujuanya agar ilmu tersebut jelas dan tetap terjaga. Diambil dari siapa, dapat dari mana dan siapa gurunya. Karena sanad merupakan kekuatan ilmu itu sendiri. 

 


Belajar agama tidak bisa asal-asalan yang bisa didapat dari bertapa atau merenung semata atau cukup membaca tanpa guru. Akan tetapi belajar ilmu agama Islam, harus bersumber dari guru yang gurunya tersebut bersambung sampai Rasulullah Saw. Karena ada riwayat yang masyhur. Jika ada seseorang belajar tanpa guru, dikhawatirkan gurunya adalah Setan. 

 


Pesantren selalu memberikan motivasi dan landasan penuh bagi santri, untuk selalu berdakwah dan mengamalkan ilmunya ketika sudah pulang. Yakni seperti mengajar, memimpin doa, mengurus mushalla dan masjid serta kegiatan-kegiatan lainya, yang tujuanya sebagai pengabdian ilmu di masyarakat. 

 


Kiai Abdul Karim Lirboyo Kediri, selalu mewanti-wanti para santrinya untuk selalu "Ngadep Dampar" ketika sudah boyong atau pulang kerumah. Istilah ngadep dampar merupakan bentuk kiasan untuk selalu mengajarkan ilmu yang telah didapat di pesantren. Untuk mengabdi kepada masyarakat. Entah bisanya hanya berdoa, mengajar tajwid, fiqih, wirid, dan sebagainya. 

 


Kesuksesan pesantren menjadi lembaga pendidikan bagi bangsa Indonesia telah terbukti dari segi intelektual dan akhlak. Kita sudah banyak menjumpai intelektual yang lahir sebagai santri. Berpengaruh di Indonesia dan dunia. Serta banyak ulama Indonesia yang menjadi guru para ulama dunia, seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Isa Al-Fadani, Syekh Khatib Sambas, dan sebagainya. 

 


Dari segi negatifnya, kita juga jarang menjumpai sesama santri tawuran dijalanan atau lapangan. Pondok A tawuran dengan pondok B. Kemungkinan ada, tetapi selama ini penulis belum pernah menjumpainya. Karena tawuranya santri ada di forum debat bahsul masail lintas pondok pesantren. Disinilah tawuran sesungguhnya. 

 

Yudi Prayoga, santri pondok pesantren Al Hikmah Kedaton Bandar Lampung.
 


Pernik Terbaru