• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 5 Februari 2023

Warta

Belajar Moderasi Beragama dari Tari Sigeh Pengunten

Belajar Moderasi Beragama dari Tari Sigeh Pengunten
Tim Tari Sigeh Pengunten MAN 1 Pringsewu. (Foto: Istimewa)
Tim Tari Sigeh Pengunten MAN 1 Pringsewu. (Foto: Istimewa)

Pringsewu, NU Online Lampung
Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan  perilaku yang tengah-tengah di antara  berbagai pilihan, selalu bertindak adil,  seimbang, tidak ekstrem dan berlebihan  dalam beragama. Moderasi merupakan kunci terciptanya  toleransi dan kerukunan dalam beragama yang dalam konteks Indonesia sangat penting untuk dimiliki oleh umat beragama di tengah kebinekaan yang ada.


“Moderasi beragama itu bukan agamanya yang dimoderasi. Agama tidak perlu dimoderasi. Yang dimoderasi adalah beragamanya,” kata Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo saat memberi materi pada Penguatan Moderasi Beragama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama Provinsi Lampung yang dipusatkan di Pringsewu, Kamis (9/6/2022).


Ia menyebut bahwa di antara indikator orang moderat dalam beragama adalah akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Hal ini juga yang telah diajarkan dan diwariskan para Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Indonesia dengan memaksimalkan budaya sebagai infrastruktur dakwah.


“Tadi ketika saya datang ke sini disambut dengan Tari Sigeh Pengunten sebagai ucapan selamat datang. Itu bentuk kearifan lokal. Itu tidak harus dibentur-benturkan dengan ajaran agama. Karena itu adalah warisan budaya yang budaya itu lahir juga dari pengejawantahan doktrin keagamaan,” ungkapnya.


Pada acara tersebut, para tamu memang disambut sebuah tarian bernama Sigeh Pengunten yang ditampilkan oleh lima orang siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pringsewu. Generasi muda pelajar madrasah ini mampu mewarisi budaya lokal dengan tarian yang  diperuntukkan untuk penyambutan tamu kehormatan atau tamu penting yang datang.


Dari maksud yang terkandung dari tarian ini, umat beragama bisa mengambil pelajaran bahwa menghormati orang lain merupakan ajaran agama yang mulia. Dalam tarian tersebut, para tamu diberi tepak berisi sekapur sirih sebagai ucapan selamat datang dan terima kasih dari tuan rumah kepada para tamu yang telah hadir dalam acara tersebut.


Dikutip dari laman Kemendikbud dan Wikipedia, proses lahirnya tari Sigeh Pengunten pun tak lepas dari realitas budaya Lampung yang ter-dikotomi (pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan) menjadi Pepadun dan Peminggir. Kedua adat yang memiliki kekhasan tersendiri sama-sama merasa paling layak merepresentasikan Lampung. Namun dengan sikap moderat suku Lampung keduanya bisa digabungkan dan dipadukan sebagai sebuah satu kesatuan tari yang menjadi identitas budaya.


Dalam gerakannya, tari ini menyerap gerak tarian baik dari adat Pepadun maupun adat Peminggir menjadi satu kesatuan yang harmonis dan dapat diterima masyarakat luas. Maka sudah selayaknya, bangsa Indonesia harus belajar dari budaya warisan para leluhur yang telah menghantarkan Indonesia damai dalam kehidupan beragama dan berbangsa yang di antaranya adalah belajar moderasi agama dari Tari Sigeh Pengunten. (Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru