• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Warta

Saat Mas Puji Sowan Abah Sujadi dan Ngobrol Moderasi

Saat Mas Puji Sowan Abah Sujadi dan Ngobrol Moderasi
Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo (Mas Puji) melakukan kunjungan ke kediaman Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi. (Foto: Aziz)
Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo (Mas Puji) melakukan kunjungan ke kediaman Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi. (Foto: Aziz)

Pringsewu, NU Online Lampung
Sore itu, Kamis (9/6/2022) Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo (Mas Puji) melakukan kunjungan ke kediaman Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi. ‘Sowan Kiai’ ini merupakan tradisi yang selalu dilakukan Mas Puji di sela-sela kunjungan kerja ke daerah. Selain menyambung silaturahmi, dalam pertemuan dua santri alumni pesantren dari Jawa ini juga membahas berbagai hal untuk kemaslahatan umat.


Seperti sowan kali ini, Mas Puji yang merupakan Alumni Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur ini ngobrol tentang moderasi beragama dengan Abah Sujadi yang merupakan Alumni Pesantren Al-Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo Jawa Tengah.


Mas Puji menyebut bahwa moderasi beragama merupakan pilihan dalam cara pandang, sikap dan  perilaku yang tengah-tengah di antara berbagai pilihan, selalu bertindak adil, seimbang, tidak ekstrem dan berlebihan  dalam beragama. Menurutnya, sikap pandang ini sebenarnya sudah diwariskan oleh para ulama, tokoh dan pendahulu bangsa yang mampu diteladani oleh umat.


Namun seiring dengan perkembangan zaman, nilai-nilai moderasi dalam beragama sudah tereduksi. Sikap toleransi dalam perbedaan sudah mulai pudar terlebih di era digital. Pasalnya, saat ini banyak ditemukan di media sosial tindakan saling hujat, saling menyalahkan dan merasa paling benar sendiri.


“Dulu umat Islam bisa saling menghormati perbedaan yang tidak bersifat prinsip. Paling yang terlihat muncul hanya terkait ibadah shalat shubuh pakai qunut atau tidak. Tapi sekarang semua perbedaan disamakan dan tidak mengedepankan toleransi,” ungkapnya.


Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap sekelompok orang yang membuat seolah-olah agama khususnya Islam di Indonesia baru saja datang kemarin. Mereka membawa paham-paham baru Islam yang tidak mengusung empat indikator moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal.


Kondisi ini tentu harus disikapi dengan terus menguatkan moderasi agama dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan beragama. Masyarakat saat ini, umat Islam khususnya, harus kembali memegang teguh prinsip moderat yang dicontohkan Wali Songo. Mereka memberikan ruang terhadap tradisi lokal seiring dengan memodifikasinya ke dalam ajaran Islam yang tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama Islam. Sehingga ajaran baru ini pelan-pelan diterima oleh setiap lapisan masyarakat, baik bangsawan maupun rakyat biasa.


Di era digital dan media sosial saat ini, moderasi beragama juga harus terus digaungkan secara virtual di ruang-ruang dunia maya. Kaum moderat harus terus memproduksi konten-konten moderasi sekaligus untuk menghalau narasi paham-paham intoleran. Media digital bisa menjadi lahan dakwah yang efektif dan efesien.


“Oleh karena itu, Kementerian Agama Lampung terus melakukan penguatan penguasaan media digital dengan konten-konten syiar moderasi beragama,” ungkapnya.


Senada dengan Mas Puji, Abah Sujadi yang pernah menjadi Bupati Pringsewu dua periode ini mengajak kepada seluruh masyarakat khususnya umat Islam untuk peka terhadap efek-efek perubahan zaman. Bukan hanya efek positif, perubahan zaman juga memberi dampak efek negatif yang harus disadari masyarakat.


“Seiring dengan perubahan zaman, paham-paham yang intoleran juga terus bergerak dengan berganti-ganti baju,” katanya mengingatkan masyarakat.


Oleh karenanya, belajar sejarah (jejak digital di era modern) menjadi hal yang sangat penting sehingga apapun warna baju yang digunakan paham-paham yang tidak selaras dengan esensi dari ajaran Islam bisa terdeteksi dan bisa dihalau. Memang menjadi budaya luhur bangsa Indonesia yang permisif dengan kehadiran orang baru. Namun terkait dengan paham-paham baru, Abah Sujadi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam menerimanya.


Obrolan santai, serius, namun penuh kehangatan ini menyimpulkan bahwa penting saat ini untuk terus menggaungkan moderasi beragama sebagai solusi untuk terciptanya kesejukan dan kedamaian dalam berbangsa dan beragama. (Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru