• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Warta

Apakah Kita Termasuk Orang Moderat dalam Beragama? Ini Cirinya

Apakah Kita Termasuk Orang Moderat dalam Beragama?  Ini Cirinya
Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo. (Foto: Aziz)
Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo. (Foto: Aziz)

Pringsewu, NU Online Lampung
Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo menjelaskan bahwa ciri orang moderat dalam beragama bisa terlihat dari pemikiran (fikrah), perbuatan (amaliah), gerakan (harakah), dan politik (siyasah). Empat hal ini juga yang menjadi aspek moderasi yang harus terus ditanamkan pada masyarakat dalam kaitan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.


Dari sisi pemikiran, orang yang moderat dalam beragama senantiasa menyeimbangkan antara teks dan konteks. Tidak kaku dan tidak lembek dalam memahami ayat-ayat dan dalil agama. Dari perbuatan, mereka mengedepankan dakwah bil hikmah dengan menghormati tradisi dan budaya yang menjadi pilar agama.


Harakah atau pergerakan orang yang moderat dalam beragama selalu berorientasi pada Islahiyah (kebaikan) yang berpijak pada tradisi serta mengimplementasikan amar ma’ruf nahi munkar secara damai dan anti kekerasan,” katanya saat melakukan penguatan moderasi agama bagi ASN Kementerian Agama di Kabupaten Pringsewu, Kamis (9/6/2022).


Terkait dengan politik, orang yang moderat dalam beragama tidak akan mempertentangkan agama dan nasionalisme. Kedua-duanya harus jalan beriringan dan dalam konteks Indonesia memegang prinsip penerimaan Pancasila sebagai ideologi bangsa.


Ia mengungkapkan beberapa pertanyaan jebakan yang sering dilontarkan oleh sekelompok orang yang mempertentangkan antara agama dan negara. Misalnya pertanyaan provokatif yang ditujukan untuk orang Islam di Indonesia: “Anda lebih memilih  Al-Qur’an apa Pancasila? Al-Qur’an sebagai firman Allah atau pancasila sebagai buatan manusia?”.


Pertanyaan seperti ini menurutnya tidak perlu dijawab. Pasalnya, pertanyaannya sendiri bermasalah karena Al-Qur’an sebagai dasar beragama umat Islam dalam beragama tidak bisa dipertentangkan dengan Pancasila sebagai dasar bernegara.


Penjelasan ini pun selaras dengan indikator yang digariskan oleh Kementerian Agama tentang penguatan moderasi beragama. Terdapat empat indikator seseorang yang moderat dalam beragama  yakni memiliki komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal.


Oleh karenanya ia mengajak kepada seluruh umat beragama untuk beragama dengan mengusung isi atau esensinya bukan mengusung casingnya (tampilan). Esensi ajaran agama menurutnya adalah melindungi martabat kemanusiaan. Semua agama yang mulia di dunia ini menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti tidak membenarkan diskriminasi terhadap manusia, tidak melakukan penindasan, tidak memperbolehkan perbudakan dan eksploitasi oleh kelompok mayoritas kepada minoritas. (Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru