• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 26 Mei 2024

Syiar

Tetaplah Memberi Nasihat, Meski Kita Masih Maksiat

Tetaplah Memberi Nasihat, Meski Kita Masih Maksiat
Kita harus saling nasihat-menasihati dalam kebenaran (Ilustrasi: NU Online)
Kita harus saling nasihat-menasihati dalam kebenaran (Ilustrasi: NU Online)


Agama Islam merupakan agama nasihat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw, bahwa ad-dinu an-nasihat "agama adalah nasihat". Sehingga umat Islam dianjurkan untuk memberi nasihat kepada sesama muslim dan mengingat dalam kebaikan. Dan hal tersebut sebenarnya kewajiban bagi umat muslim. 

 

Dalam Islam memberi nasihat bisa berupa ceramah, tausiyah, pidato, puisi, cerpen, drama, dan obrolan biasa di tempat-tempat umum.  Intinya sesuatu obrolan jika mengandung ajakan kebaikan kepada sesama muslim berarti memberi nasihat. 

 

Selain dengan lisan, memberi nasihat bisa berupa tulisan di berbagai media, baik media kertas, kayu, kulit, batu, maupun media sosial seperti Short Message Servis (SMS) WhatsApp (WA), Facebook (FB), dan sebagainya.

 

Memberi nasihat bisa dilakukan oleh siapapun, di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun, asalkan dengan bijak. Ada pepatah Arab mengatakan "undur ma qala wala tandur manqola". Artinya "lihatlah apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan". Serta sabda nabi yang paling populer, "ballighuni walau ayat", artinya "sampaikan dariku meski hanya satu ayat.” 

 

Pepatah dan sabda nabi ini menandakan bahwa siapapun boleh memberi nasihat, meski seorang ahli maksiat sekalipun. Maka tidak ada kata tidak, bahwa yang berhak memberi nasihat hanya ahli ibadah saja, dan ahli ilmu saja, sedang yang lain menjadi minder karena banyak dosa. Sehingga ketika ia melihat kemungkaran ia akan cuek dan masa bodoh karena hanya memikirkan dirinya yang banyak dosa. 

 

Padahal Allah swt telah memerintahkan kepada kita untuk saling menasihati, entah kita sudah menjadi orang yang benar dan lurus ataupun masih istikamah dalam kemaksiatan dan dosa.
 

Sebagaimana tercantum dalam surat al-‘Ashr ayat 1 s/d 3 sebagai berikut: 

وَٱلْعَصْرِ

 

Wal-‘aṣr

 

Artinya: Demi masa.

 إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

 

Innal-insāna lafī khusr

 

Artinya: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

 

Illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr

 

Artinya: Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.

 

Selain surat Al-Asr, ada juga surat dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang nasihat. Diantaranya adalah surat An-nisa ayat 58, surat Yunus ayat 57, surat Al-Ghasiyah ayat 21, Al-Imran ayat 110, surat Al-Isra’ ayat 22-39 dan surat Luqman ayat:13-19.

 

Maka dari itu, semua manusia merupakan makhluk Allah yang berhak mendapatkan hidayah dan kasih sayang Allah, maka berilah mereka nasihat ketika mulai lupa kepada Allah. Dan kepada siapapun ketika diminta untuk memberi nasihat, maka berilah nasihat yang baik. 

 

Ketika kita memberi nasihat kepada orang lain, telinga kita mendengar juga, maka otomatis kita juga sedang menasihati diri kita sendiri. Dan bisa jadi ketika kita memberi nasihat kepada orang Allah, justru Allah memberikan hidayah yang besar kepada kita.

(Yudi Prayoga)


Syiar Terbaru