Syiar

Jihad Pagi: Ashabul Ukhdud dan Kuatnya Mempertahankan Iman

Ahad, 31 Agustus 2025 | 08:07 WIB

Jihad Pagi: Ashabul Ukhdud dan Kuatnya Mempertahankan Iman

KH Sujadi dalam Jihad Pagi. (Foto: Faizin/NU Online)

Al-Qur’an memberi kita banyak pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga iman hingga akhir hayat. Salah satunya terekam dalam kisah Ashabul Ukhdud, dan kaum beriman yang disiksa dengan cara dilemparkan ke dalam parit berapi karena mereka menolak meninggalkan keyakinannya kepada Allah.


Dalam awal SuratĀ Al-Buruj, Allah bersumpah demi langit yang mempunyai gugusan bintang, yaitu dua belas rasi bintang yang juga disebut dalam Surah Al-Furqan. Allah juga bersumpah demi hari yang dijanjikan, yakni hari kiamat, serta demi yang menyaksikan dan yang disaksikan, yaitu hari Jumat yang menyaksikan amal perbuatan manusia, dan hari Arafah yang disaksikan oleh manusia serta para malaikat.Ā 


Sumpah-sumpah ini menunjukkan bahwa peristiwa yang akan diceritakan berikutnya adalah peristiwa agung yang penuh pelajaran. Allah kemudian menyebutkan, ā€œTelah dilaknat orang-orang yang membuat parit, yang berapi penuh bahan bakar.ā€ (QS. Al-Buruj: 4-5). Mereka adalah kaum yang menggali parit besar, menyalakan api di dalamnya, lalu menyiksa orang-orang beriman dengan cara melemparkan mereka ke dalam kobaran api.


Kaum beriman dipaksa untuk murtad, namun mereka lebih memilih mempertahankan keyakinannya walaupun harus mati terbakar. Para penyiksa itu duduk di tepi parit dan menyaksikan langsung kekejaman yang mereka lakukan.


Akan tetapi, riwayat menyebutkan bahwa Allah justru menyelamatkan para mukmin. Nyawa mereka dicabut sebelum tubuh mereka benar-benar jatuh ke dalam api, sehingga mereka terbebas dari rasa sakit. Sebaliknya, api keluar dari parit dan membakar para penyiksa itu sendiri.


Para mufassir menyebutkan bahwa kisah ini terjadi di wilayah Najran (sekarang bagian dari Arab Saudi bagian selatan) sekitar abad ke-6 Masehi. Seorang raja zalim yang memeluk agama menyimpang memerintahkan rakyat untuk meninggalkan iman mereka kepada Allah Yang Maha Esa. Namun, sekelompok kaum beriman menolak tunduk.


Sebagai bentuk kekejaman, raja tersebut menggali parit-parit besar, menyalakan api, lalu melemparkan kaum mukmin ke dalamnya. Jumlah korban disebutkan ribuan orang. Kisah ini kemudian diabadikan dalam SuratĀ Al-Buruj sebagai pelajaran sepanjang masa, bahwa mempertahankan iman adalah harga mati, meskipun nyawa menjadi taruhannya.


Kisah ini memberi pesan mendalam bagi setiap Muslim. Iman adalah sesuatu yang harus dipertahankan hingga akhir hayat, tidak ada alasan untuk menukarnya dengan keselamatan dunia yang sementara. Kesabaran dan keberanian para Mukmin menjadi teladan sepanjang zaman, sebab mereka lebih memilih kematian dalam iman daripada hidup dalam kemurtadan.


Selain itu, kisah ini menegaskan bahwa Allah pasti menolong hamba-Nya. Sekalipun tampak kalah di dunia, orang beriman sejatinya dimuliakan Allah dengan surga yang abadi. Sementara itu, kezaliman pasti berakhir dengan kebinasaan. Orang-orang yang menindas agama Allah akan menerima balasan setimpal, baik di dunia maupun di akhirat.


Setiap Muslim sepatutnya menjadikan doa ini sebagai pegangan: ā€œYa Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan beriman, dan gabungkanlah kami dengan orang-orang saleh.ā€ Hidup penuh ujian, iman pun selalu diguncang. Namun kisah Ashab Ukhdud mengajarkan bahwa harga diri seorang mukmin adalah iman yang dijaga sampai napas terakhir.


Maka, jangan pernah mati kecuali dengan mempertahankan keyakinan kepada Allah. Allah berfirman:Ā 

 

ŁŠŁ°Ł“Ų§ŁŽŁŠŁ‘ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų§Ł°Ł…ŁŽŁ†ŁŁˆŲ§ Ų§ŲŖŁ‘ŁŽŁ‚ŁŁˆŲ§ Ų§Ł„Ł„Ł‘Ł°Ł‡ŁŽ Ų­ŁŽŁ‚Ł‘ŁŽ ŲŖŁŁ‚Ł°Ł‰ŲŖŁŁ‡Ł– ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŁ…ŁŁˆŁ’ŲŖŁŁ†Ł‘ŁŽ Ų§ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ§ŁŽŁ†Ł’ŲŖŁŁ…Ł’ Ł…Ł‘ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŁˆŁ’Ł†ŁŽĀ 


Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS AliĀ Imran: 102).


***

Disarikan dari Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan rutin setiap Ahad padi pukul 06.00 - 07.00 WIB di Gedung NU Pringsewu.