• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 25 September 2022

Seni Budaya

Tafsir Budaya Wayang Kulit; Lakon Astrajingga Ngangsu Kaweruh 

Tafsir Budaya Wayang Kulit; Lakon Astrajingga Ngangsu Kaweruh 
foto wayang
foto wayang

Oleh: Wahyu Iryana

 

Viralnya kasus salah satu merek sepatu Adidas terkait dari mana asal wayang yang sebenarnya membuat heboh masyarakat Indonesia. Adidas merilis koleksi sepatu Ultraboost DNA city Pack yang berkolaborasi dengan individu kreatif dari Asia Tenggara pada 11 November 2021. Sang Desainer grafis asal Malaysia, Jaemy Choong mengklaim bahwa wayang kulit sebagai warisan budaya Malaysia. 

 

Hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia berang. Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, UNESCO mengakui pertunjukan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intengible Heritage of Humanity dari Indonesia, sejak 7 November 2013 lalu. Ini perlu dijadikan patokan dasar agar negara Jiran tidak asal mengklaim sepihak. Karena pengakuan dari UNESCO menjadi pembuktian bahwa wayang sebagai warisan budaya asal Indonesia yang diamini oleh seluruh dunia (kompascom). 

 

Inilah pentingnya menarasikan kembali tafsir budaya dari lakon pertunjukan Wayang yang dilakukan oleh para dalang dan budayawan sebagai upaya pelestarian budaya. Seperti artikel penulis yang berjudul Tafsir Budaya Wayang Kulit Lakon Astrajingga Ngangsu Kaweruh berikut. 

 

Penulis mengartikan wayang sebagai budaya warisan benda, baik terbuat dari kulit ataupun kayu.  Tujuanya sebagai dakwah dan hiburan bagi masyarakat. Karena dalam pertunjukan wayang penonton bukan hanya akan disuguhkan alur kisah penokohan saja, melainkan juga amanah pepeling hidup atau nasehat, narasi nyanyian, instrumen musik, humor, dan sebagainya.

 

        Di era masa Walisongo misalnya, masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa meyakini budaya wayang yang diadopsi dari India dalam kisah Mahabarata dan Ramayana kemudian dipadu-padankan oleh Raden Umar Said atau Sunan Kalijaga menjadi sebuah hiburan, tontonan sekaligus tuntunan. 

        

Astrajingga Ngangsu Kaweruh

 

Awal Kisah diceritakan bahwa Zeitgest benar-benar memberikan persiapan kepada Astrajingga untuk memenuhi panggilan zaman. Ada dua arti penting perlunya mengenyam pendidikan. Pertama, pendidikan adalah wujud kongkrit dari upaya menggiring masyarakat awam ke ruang wahana pembelajaran ilmu pengetahuan berkarakter. Menjamurnya perguron-perguron baru di dunia pendidikan turut menyemarakkan eforia pendidikan pasca tumbangnya rezim Korawa Astina. 

 

Kedua, pendidikan juga berarti partisipasi publik dalam rangka ikut berperan aktif dalam memecahkan persoalan bangsa. Orang kecil, Seperti Astrajingga bisa mengenyam dunia pendidikan juga sudah bersyukur, setidaknya dengan menuntut ilmu (sabdaguru), hidupnya dapat berubah ke arah yang lebih baik. 

 

Permasalahannya sekarang, keinginan orang-orang seperti Astrajingga yang mempunyai keinginan tinggi untuk mengubah nasibnya, acapkali paradoksal dengan realitas pendidikan bangsa saat ini. Terjadi kontradiksi antara aspek potensial yang hendak dikembangkan dengan aspek riil yang berkembang di lapangan. Seperti cita-cita Astrajingga untuk menjadi orang berpangkat seperti junjunannya Raden Arjuna dan Prabu Pandu Dewanata, akan mustahil, dan ibarat kata hanya punduk merindukan bulan.

 

Sejatinya menuntut ilmu, wajib hukumnya bagi laki-laki dan perempuan. Inilah yang menjadi landasan dasar keinginan Astrajingga untuk Ngangsu Kaweruh. Permasalahan keluarga terkait pamitnya Astrajingga dari Ndalem Karang Tumaritis tidak direstui oleh Semar, sehingga niat tulus Astrajingga untuk mencari pengalaman di kota seakan sirna. 

 

Hari-hari yang berlalu seperti biasa, namun tidak begitu dengan Astrajingga yang berharap ingin hidup layak seperti Gusti Pandawa, walaupun secara hirarki dalam kasta dan stuktur pemerintahan berbentuk kerajaan apa yang dilakukan Astrajingga sangat tidak mungkin terjadi, inilah mungkin yang akan dilakukan Astrajingga, yaitu mendobrak kepakeman yang ada di masyarakat, bahwa semua berhak memiliki hidup yang layak baik dalam hal pendidikan, kesehatan ataupun kaitan ekonomi. 

 

Mengetahui bahwa ayahnya tidak mengizinkan untuk pergi ke ibukota kerajaan,  justru menjadikan Astrajingga untuk pergi dari rumah semakin bulat. Apalagi Pagusten Prabu Amarta sedang dilanda gerah (sakit) termasuk hilangnya Jamus Layang Kalimasahda dari keraton Amarta yang membuat geger Negeri Astina dan Batara Guru di Kesangyangan Manikloka. 

 

Malam hari ketika saudara-saudaranya sedang terlelap tidur Astrajingga pergi dari rumah menyusuri jalan setapak. Lalu di sebuah Padepokan Guruloka yang dihuni Begawan Batre langkah Astrajingga terhenti untuk menimba ilmu. Di sini Astrajingga menimba Ilmu Makrifatullah. Setelah cukup, ia pamit kepada gurunya, dan kemudian menciptakan sebuah kerajaan dari bukit dan alang alang yang diberi nama kerjaan Tebela Suket dan menamakan dirinya dengan sebutan Prabu Anom Astrajingga. Karena ternyata tanpa banyak yang tahu Jamus Layang Kalimasahda yang hilang dari Kerajaan Amarta datang sendiri padanya.

 

Pada tahap cerita kedua, kerajaan Amarata yang dipimpin oleh Prabu Duryodana beserta Sangkuni dan Resi Dorna mengetahui kalau Tebala Suket menjadi kerajaan besar, begitupun Batara Guru dan patihnya, Batara Narada datang untuk menggugat Astrajingga yang telah melanggar pepakem pewayangan dengan mendirikan negara baru di wilayah kerajaan Amarta milik Pandawa. 

 

Peperangan pun tidak dapat dihindari pihak Korawa yang sudah dikompori oleh Begawan Dorna dan Sangkuni tanpa ampun menyerang Prabu Anom Astrajingga walaupun sudah bisa diperkirakan pasti kalah telak dengan Prabu Astrajingga. Ahirnya Batara Guru minta Bantuan Kresna yang mempunyai Kaca Ogan Lubian, untuk melihat siapa orang yang bisa mengalahkan Prabu Astrajingga. Ternyata orang itu Sang Resi, yang sedang bertapa di Goa Srikandil. Ketika Batara Guru dan Kresna datang untuk meminta bantuan, Sang Resi pun mengetahui duduk permasalahan yang dihadapi Kresna dan Batara Guru. Selidik punya selidik, Resi tersebut sesungguhnya adalah Semar yang sedang menyamar. 

 

Sang Resi akhirnya bertarung dengan Prabu Astrajingga yang merupakan anaknya sendiri. Peperangan dalam posisi imbang karena dari Kayangan turun Sang Hyang Wenang, kakek Semar sendiri. Kemudian Prabu Astrajingga disirep oleh Sang Hyang Wenang sampai dia merasa lemas dan orang yang berada pada diri Astrajingga ternyata Prabu Amarta sendiri. Kisah Astrajingga menjadi raja, ditutup dengan pulih kembali kesehatan Prabu Amarta dan kembalinya pusaka Jamus Layang Kalimahsahda ke Amarta.    

 

(Penulis adalah Ketua Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung).


Seni Budaya Terbaru