• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 9 Desember 2022

Pernik

Teladan Sikap Gus Dur Terhadap Para Pembenci

Teladan Sikap Gus Dur Terhadap Para Pembenci
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Siapa yang tidak tahu dengan tokoh publik Indonesia bernama Gus Dur, atau yang  bernama lengkap KH Abdurrahman Wahid, presiden Indonesia keempat. Seorang yang memiliki kepribadian santai, humoris dan humanis. Bahkan disebut sebagai bapak bangsa dan bapak pluralis Indonesia. 

 

Gus Dur semasa hidupnya memiliki banyak sekali ajaran kemanusiaan yang telah dicontohkan kepada khalayak umum. Dengan slogan “gitu aja kok repot”, menjadikan sosok Gus Dur sebagai pemecah masalah bagi bangsa Indonesia. Salah satu sifatnya yang patut kita tiru yakni, gampang memaafkan kesalahan orang lain, dan sangat cuek dengan hinaan dan caci maki terhadap dirinya. 

 

Salah satu teladan dari sifat Gus Dur tersebut, bisa kita lihat dari kisah berikut ini. 

 

Seorang laki-laki yang berbeda paham dengan Gus Dur mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar meluapkan kebenciannya kepada Gus Dur. Namun Gus Dur hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apapun.

 

Setelah lelaki tersebut pergi, seorang murid yang melihat peristiwa itu dengan penasaran bertanya, "Mengapa Gus Dur diam saja tidak membalas makian lelaki tersebut?"

 

Beberapa saat kemudian, Gus Dur bertanya balik kepada si murid," Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu?"

 

"Tentu saja menjadi milik si pemberi," jawab si murid.

 

"Begitupula dengan kata-kata kasar itu," dawuh Gus Dur.

 

"Karena aku tidak mau menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyadari, karena nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia ataupun akhirat. Karena energi negatif yang muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup."

 

Kemudian lanjut Gus Dur, "Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yang marah-marah kepadamu, biarkan saja. Karena mereka sedang membuang sampah hati mereka."

 

"Jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri. Tetapi kalau engkau tanggapi, berarti engkau menerima sampah itu."

 

Hari ini begitu banyak orang yang hidup dengan membawa sampah di hatinya (sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, dan lainnya dari penyakit hati). Maka jadilah kita orang yang bijak, kata Gus Dur lagi.

 

Gus Dur melanjutkan nasihatnya, “Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil. Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci. Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih. Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat. Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina. Jika engkau tidak suka bersahabat, janganlah bermusuhan. Jadikanlah setiap hari dalam hidup ini sebuah pembelajaran dan mawas diri."

 

Dari kisah di atas, Gus Dur merupakan teladan bagi kita semua, karena dengan cara itu hati kita tidak terkontaminasi oleh keburukan orang lain, sehingga hati kita tetap bersih dan suci. Tidak sedikit murid-murid dan muhibbin Gus Dur, menganggap sosok Gus Dur sebagai wali Allah, karena melihat dari adabnya terhadap makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita bisa meniru segala tingkah laku yang baik dari sosok Gus Dur. 

 

Yudi Prayoga, Redaktur Keislaman NU Online Lampung


Pernik Terbaru