• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Keislaman

Jangan Katakan, Tuhan Orang Kafir Bukan Allah

Jangan Katakan, Tuhan Orang Kafir Bukan Allah
kaligrafi tauhid
kaligrafi tauhid

Banyak di masyarakat yang terjerumus menjadi murtad atas ketidaktahuan ucapan mereka. Meski hal tersebut terlihat sepele dan bahkan tidak terpikirkan sama sekali oleh kebanyakan orang.

 

Seperti halnya sejak sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), kita diajari pada pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) tentang toleransi beragama. Saat itu kita akan diajarkan materi yang berkaitan dengan agama-agama beserta nama-nama Tuhannya. 

 

Okelah jika itu memang sekolah umum yang notabenenya muridnya dari berbagai agama, bisa menjadi toleransi. Akan tetapi hal yang berbeda dengan sekolah madrasah yang siswanya semua beragama Islam dan landasannya menggunakan Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Hal ini bisa menjerumuskan kepada kemusyrikan, yakni menyekutukan Allah swt. Kenapa bisa?

 

Semua orang Islam bersyahadat dengan dua kalimat syahadat, pertama syahadat tauhid, asyhadu an la ilaha illallah, tiada Tuhan selain Allah. Dan yang kedua, syahadat Rasul, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah”. 

 

Dari lafaz syahadat tersebut, kita meyakini dengan seyakin-yakinya bahwa tiada Tuhan selain Allah. Artinya kita menafikan, meniadakan adanya Tuhan selain Allah dalam keadaan dan kondisi apapun.

 

Seperti kita tahu, ada makhluk Allah yang iman ataupun yang ingkar, yang muslim ataupun yang kafir. Yang beriman, meyakini Allah sebagai Tuhannya, sedang yang kafir tidak meyakini Allah sebagai tuhannya. Bagaimana sikap kita?

 

Sikap kita sebagai seorang muslim yakni tetap meyakini bahwa Tuhannya orang Islam sekaligus orang kafir adalah Allah swt. Jangan sampai kita terjerumus dengan mengatakan bahwa Tuhannya umat agama A adalah A, Tuhannya umat agama B adalah B, dan sebagainya. 

 

Jika yang ditanya adalah mereka (non-Islam), ya wajar saja jika mereka mengatakan bahwa Tuhannya mereka adalah Tuhan yang mereka percayai. Dan tidak mengakui Tuhan Allah sebagai Tuhan mereka. Akan tetapi, jangan sampai kita, umat Muslim mengikuti perkataan atas keyakinan mereka. 

 

Jika yang ditanya adalah kita, dan kita merupakan umat Muslim, yang juga telah bersyahadat dengan mengatakan tiada Tuhan selain Allah, maka sudah sewajarnya kita mempertahankan keyakinan kita dengan selalu mengatakan bahwa Tuhan umat Islam adalah Allah, Tuhan umat agama A, B, C, dan sebagainya juga Allah swt. Atau paling ringkasnya kita mengatakan bahwa Tuhannya umat Islam dan non-Islam adalah Allah swt. 

 

Apakah ada dalinya yang mudah dipahami?

 

Tentu ada. Kita cukup sering mendengar, membaca dan mengucapkan lafaz Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Dari lafaz tersebut kita bisa menghayati dan merenungi bahwa Allah merupakan Tuhan semesta alam, langit bumi beserta seisinya. Tuhannya seluruh makhluk, manusia, hewan, tumbuhan. Tuhannya manusia yang beriman (Islam) dan Tuhan yang ingkar (kafir). 

 

Bukti bahwa Allah menjadi Tuhannya orang kafir yakni, Allah tetap memberikan hidayah kepada mereka, memberikan rezeki, kesehatan, kelapangan, kebahagiaan, kesembuhan, dan sebagainya. Jika mereka berdoa kepada Tuhannya, maka yang mengabulkan tetap Allah swt.

 

Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Tuhan-Tuhan yang mereka sembah sesungguhnya juga menyembahku, kata Allah. Itu artinya segala kehendak di alam semesta merupakan kehendak Allah swt yang mutlak. 

 

(Yudi Prayoga, Sekretaris MWCNU Kedaton, Bandar Lampung)


Keislaman Terbaru