• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 27 November 2022

Opini

Pentingkah Mengetahui Nasab Leluhur?

Pentingkah Mengetahui Nasab Leluhur?
Pentingnya mengenal nasab leluhur (ilustrasi dok bincang syariah.com)
Pentingnya mengenal nasab leluhur (ilustrasi dok bincang syariah.com)

Seberapa pentingkah mengetahui nasab leluhur, kakek nenek buyut kita? Jawabannya pasti ada yang bilang penting, ada yang bilang tidak. 


Jawaban berbeda karena sebab faktor di belakangnya. Di dunia ini ada seseorang yang mati-matian mencari nasab keluarganya dan ada yang mati-matian menutup siapa dirinya. Ya karena segala sesuatu pasti ada nilai baik dan buruknya. 


Bagi orang yang berkemelut berbagai masalah, bisa karena faktor politik dan kekeluargaan di masa lampau, sehingga menjadikannya terusir dari tanah kelahiran dan terasingkan dari keluarga, biasanya ia akan menutup jati dirinya selamanya.


Berbeda dengan orang yang lahir menjadi orang yang biasa, biasanya ia akan menanyakan siapa dirinya, siapa leluhurnya, dan lain sebagainya. 


Saya ulangi lagi, apakah penting mengetahui nasab leluhur? Saya jawab penting. Karena nasab leluhur bisa menjadi motivasi dan spirit kehidupan bagi keturunannya. Banyak orang yang menjadi alim karena tafaulan (mengikuti jejak leluhurnya) kepada kakek buyutnya yang alim juga.


Seperti contohnya, seorang cucu mengetahui bahwa buyutnya anggota TNI, maka dia akan semangat ingin juga masuk atau bergabung dengan TNI karena memiliki semangat juang, ingin seperti buyutnya.


Ada juga yang buyutnya seorang pengusaha sukses pada masanya, meski hanya tinggal cerita dari mulut kedua orang tuanya dan paman-pamannya, akan tetapi jika sang cucu mengagumi kehebatan buyutnya, ia akan terpatri ingin sukses juga seperti leluhurnya. 


Di Indonesia kita kenal dengan yang namanya habib dan syarifah (keturunan Rasulullah saw). Mayoritas dari mereka alim, saleh dan ahli ibadah. Mengapa bisa demikian? Karena sejak kecil selalu diberitahu dan diajarkan leluhurnya itu orang-orang saleh, sehingga malu jika anak dan cucu tidak mengikuti jejak leluhurnya. 


Mereka selalu diceritakan bahwa mereka memiliki nasab mulia yakni dari Nabi Muhammad saw, seorang nabi dan rasul, memiliki akhlak yang baik dan sempurna, yang membawa agama Islam di muka bumi. Karena sering diceritakan terus menerus dari kisah Nabi dan perjuangannya, sehingga di dalam hati sang cucu menginginkan kepribadian seperti Rasulullah saw. 


Atau seorang anak yang selalu diceritakan oleh orang tuanya bahwa nasabnya tersambung dengan raja-raja di nusantara, seperti Demak dan Mataram Islam.


Selalu diceritakan kehebatan leluhurnya dalam memimpin negeri dan mengusir penjajah, kehebatan dalam melestarikan budaya, kehebatan dalam ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Karena sering diceritakan terus menerus dalam setiap momen, baik nasehat pribadi maupun forum keluarga, maka memicu seorang cucu yang juga ingin memiliki kepribadian leluhurnya. 


Hal ini menjadi bukti, bahwa orang tua yang mengenalkan nasab kepada anak keturunannya bisa menjadikan suri tauladan, meski biasanya ada negatifnya, yakni, seperti memiliki sifat gumede, atau sombong karena memiliki nasab mulia.


Sehingga banyak yang hanya membanggakan nasab tetapi tidak menjadi baik, tidak meneladani leluhurnya yang baik, dan bahkan ada yang memperbudak manusia yang lainnya dengan dalih dia orang mulia karena nasabnya/keturunannya orang yang mulia, maka wajib dimuliakan.


Dan ketika tidak dimuliakan ia akan berdoa jelek kepada orang tersebut. Dan lebih parahnya lagi banyak masyarakat yang tunduk dengan orang yang seperti ini, padahal akhlaknya tidak baik, tidak mencontoh leluhurnya.


Jika memang menginginkan keadilan, maka bersikaplah humanis, hormati semua manusia beserta hak-haknya, baik yang nasabnya tersambung dengan leluhurnya, maupun yang terputus karena mati obor.


Akan tetapi maksiat semacam itu bisa diubah. Sifat sombong bisa diubah sedari kecil, ketika orang tua menceritakan tentang kehebatan nasab dan leluhurnya, juga wajib mengajarkan bahwa  manusia tidak boleh sombong dengan nasabnya, karena nasab tidak menjamin kebaikan jika seorang tidak berusaha baik dan meniru leluhurnya. 


Maka hasilnya akan menjadikan seorang sosok yang tawadlu, rendah diri, meski seorang yang alim dan memiliki nasab yang mulia. Karena mengetahui nasab bisa mendapatkan tiga kemuliaan, yakni meneladani leluhur yang dijadikanya ibrah, mengetahui banyak saudara dan sanak famili dan juga menjadikan banyak silaturahmi.


Seperti kita melihat film Serigala Terakhir, seorang anak yang mewarisi organisasi ilegal, bisa dibilang kriminal, milik ayahnya, baik dari Laba-laba merah ataupun Naga Hitam. Anak-anak mereka bisa menjadi kuat karena selalu diceritakan kehebatan ayahnya dalam memimpin orgnisasi. 


Sehingga menjadikan mereka juga bisa meneruskan organisasi bisnis tersebut seperti yang orang tuanya lakukan. Meskipun itu hanya film akan tetapi sepertinya tidak jauh berbeda dengan realita. 


Berbeda juga dengan orang yang dididik oleh orang tuanya di pondok pesantren seperti para Ning (sebutan bagi anak perempuan kiai) dan Gus (sebutan bagi anak laki-laki kiai), pasti selalu dibawa ke majlis ilmu dan majlis zikir, selalu diceritakan kesalehan-kesalahen kakek buyutnya. Maka dengan cerita dan rutinitas tersebut menjadikan ia tumbuh mengikuti lingkungan dan pandangan pikiran orang tua dan leluhurnya. 


Jika dilihat dari substansi nilai kemanusiaan, semua manusia memiliki kebaikan dan keburukan. Baik diri sendiri, kedua orang tua, kakek nenek, buyut dan leluhur. Maka sebaik-baiknya keturunan yakni yang bisa mengambil ibrah dari kebaikan kedua orang tua dan leluhur. 


Mulailah dengan menuliskan kebaikan dari kisah-kisah kedua orang tua dan leluhur, simpan rapi, kemudian ceritakan dan ajarkan kepada anak cucu. Maka dengan cara itu, insyaallah anak cucu kita akan meniru kebaikan leluhurnya.


Karena nasab yang baik bukan ditentukan pekerjaan seorang leluhur, seperti raja, bupati, presiden, perdana menteri, akan tetapi dari akhlak yang baik, suri tauladan yang baik, serta khusnul khotimah dan istiqamah dalam hidupnya. 


Contohnya jika ayahnya seorang petani, maka ceritakanlah kepada anaknya bahwa kakeknya sangat ulet bekerja, tidak pernah jahil dengan sawah tetangga, selalu beribadah meskipun sedang di sawah dan kebun, serta selalu bersyukur dari setiap hasil panen.


Yang ayahnya pedagang, maka ceritakanlah kebaikannya kepada anak cucunya, bahwa kakek dahulu orang yang rajin menabung, ulet bekerja, selalu shalat lima waktu, dan sebagainya. Jangan ceritakan keburukannya, karena jika diceritakan justru melemahkan mental keturunannya. Biarkan anak dan cucu hidup dan tumbuh meneladani kebaikan kakek buyutnya.


Bahkan kata KH Bahauddin Nursalim, kita bisa suul adab (adab yang buruk) jika kita selalu menyalahkan kakek kita, Nabi Adam as, karena diturunkan dari surga. Karena semua manusia pasti memiliki lupa dan kesalahan. 


.Yudi PrayogaSekretaris MWCNU Kedaton, Bandar Lampung.


Opini Terbaru