• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 4 Juli 2022

Opini

Siapa dan Apa Makna Pribumi yang Sebenarnya?

Siapa dan Apa Makna Pribumi yang Sebenarnya?
foto manusia di dunia
foto manusia di dunia

Istilah pribumi kerap dibenturkan dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari panggung politik, ceramah agama, seminar,maupun kajian-kajian. Sehingga kadang menimbulkan rasisme, permusuhan dan peperangan. Lahir istilah anti asing China, Arab, Jepang, dan sebagainya. 

 

Padahal secara DNA kita semua keturunan Adam as dan Hawa. Adapun dahulu membenci penjajahan itu wajar, karena memang menyengsarakan. Akan tetapi membenci berdasarkan ras, sesama darah, anak cucu, sangat tidak dewasa dan dibenarkan.

 

Berdasar penelitian Pusat Studi Kelirumologi,  menafsirkan istilah pribumi bersifat diskriminasi ras pada dasarnya keliru alias tidak benar. Karena merupakan bentuk penyelewengan makna dari makna pribumi yang sebenarnya. 

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah pribumi bermakna penghuni asli yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Hal ini sama sekali tidak ada keterkaitan dengan ras, etnis atau suku pada pemaknaan KBBI terhadap istilah pribumi maupun antonimnya yaitu non-pribumi.

 

Karena jika penamaan pribumi berkaitan ras, maka secara DNA kita satu keturunan Adam dan Hawa. Bisa saja ketika kita pergi ke Singapura, Jepang, Belanda anggap saja sedang mengunjungi sesama saudara. 

 

Istilah "pribumi" sendiri muncul di era kolonial Hindia Belanda setelah diterjemahkan dari Inlander (bahasa Belanda untuk "pribumi"), istilah ini pertama kali dicetuskan dalam undang-undang kolonial Belanda tahun 1854 oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu. 

 

Tujuan awalnya hanya agar bisa mengatur masyarakat yang tinggal di wilayah Hindia Belanda, sehingga Belanda membuat peraturan satu ras hanya boleh mendiami satu kampung tertentu secara kelompok. Maka lahirlah kampung Arab, kampung China, Persia dan kampung Belanda itu sendiri. 

 

Dari pengelompokkan ras manusia tersebut, akhirnya memunculkan diskriminasi ras kulit putih lebih mulia, disusul dengan ras China, Arab, Persia, dan terakhir ras pribumi (asli Indonesia). Ini merupakan pembodohan yang terus diwariskan oleh Kolonial Belanda. 

 

Agar lebih jelas dan detail, disini akan dipaparkan tahapan-tahapan migrasinya manusia dari daerah ke daerah lainnya. 

 

Migrasinya Adam dan Hawa

 

Kampung halaman manusia pada awalnya bukanlah bumi, melainkan taman Eden atau Jannatu Adn (surga Adn). Tempat tinggal awal mula bapak Adam dan ibu Hawa. Karena terjadi insiden kala itu, sehingga Adam dan Hawa dipaksa harus turun ke muka bumi. Meski sudah pasti turun ke bumi, akan tetapi tempat di mana Adam dan Hawa diturunkan masih menjadi perdebatan para ulama.

 

Ibnu Abbas, dia berkata: "Adam diturunkan ke bumi tepat di suatu wilayah yang bernama Dahna. Tempat itu terletak antara Makkah dan Thair." 

 

Menurut riwayat lain, Hasan berkata "Adam diturunkan di wilayah India, sedangkan Hawa di Jeddah. Iblis diturunkan di wilayah Dastimyan di Basrah. Sementara itu, ular diturunkan di wilayah Isbahan". Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan seperti ini.

 

Pendapat senada juga disebutkan As-Sa’ddi, "Adam turun di India (yang dimaksud sekarang adalah Sri Lanka) dan bersamanya turun pula Hajar Aswad. Beliau membawa segenggam daun surga di tangannya. Selanjutnya Adam menyebarkan daun itu di India sehingga tumbuhlah pohon yang bagus di sana"

 

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Adam diturunkan di India dan Hawa di Jeddah. Adam pun mencari Hawa hingga tiba di Jama’, lalu Hawa didekatkan kepadanya, karena itulah dinamakan Muzdalifah. Akhirnya, mereka pun bertemu di Jama’'.

 

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Adam diturunkan di India. Dia merasa kesepian. Akhirnya, Jibril pun turun dan mengumandangkan adzan".

 

Ketika mendengar nama Muhammad disebutkan, Adam bertanya kepada Jibril, “Siapa Muhammad ini?’ Jibril menjawab, “Dia adalah anak keturunanmu yang terakhir dari kalangan nabi.”

 

Memang cukup banyak sahabat Nabi Muhammad saw. meriwayatkan bahwa Adam diturunkan di India (sekarang jadi Sri Lanka). Di antara mereka adalah Jabir seperti yang disampaikan oleh Ibnu Abu Ad-Dunya, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Asakir. Lalu, Ibnu Umar seperti yang disampaikan Ath-Thabrani.

 

Selain itu, Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan dunia tanpa emas dan perak di dalamnya. Namun, ketika Adam dan Hawa diturunkan, diturunkan pula bersama mereka emas dan perak. Lalu, kedua barang itu menjadi sumber manfaat di bumi bagi keturunan mereka. Barang itu, emas dan perak pun dijadikan mahar untuk Hawa, sehingga tidak patut bagi seseorang menikah tanpa mahar.” 

 

Dari beberapa riwayat di atas, yang jelas Adam dan Hawa diturunkan dan dikumpulkan seputra Timur Tengah. Setelah menetap di bumi, kemudian mereka berdua memiliki anak keturunan yang banyak, sehingga keturunannya mendiaspora memenuhi seluruh penjuru bumi, dan mempribumisasi.

 

Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 dan surat Al-Baqarah ayat 213.

 

''Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.'' (QS Al-Hujurat [49] : 13).

 

''Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 213).

 

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia berasal dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa). Lalu, Adam dan Hawa melahirkan keturunan hingga akhirnya menyebarlah manusia ke seluruh penjuru dunia.

 

Migrasi Anak Cucu Nabi Nuh as

 

Ketika keturunan Nabi Adam mulai tersebar ke muka bumi, ada yang tetap beriman ada yang tidak. Menurut riwayat, pada zaman Nabi Nuh as yang tidak beriman itu ditenggelamkan oleh Allah melalui banjir besar. Dan saat bahtera Nuh mendarat di puncak gunung, mulai saat itu dipercaya sebagai awal dari penyebaran umat manusia di muka bumi.

 

Mengutip dari Republika, Persebaran Umat Manusia Setelah Banjir Besar, Nabi Nuh mempunyai empat orang anak, yakni Kan'an, Ham, Sam, dan Yafets. Kan'an adalah anak tertua, namun ia tewas diterjang oleh banjir besar, karena tidak mau beriman dengan Nabi Nuh. Dari ketiga anak Nuh (Sam, Ham, dan Yafets) inilah, penyebaran umat manusia periode kedua mulai bermigrasi. Karena itu, Nabi Nuh juga disebut sebagai bapak manusia kedua.

 

Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah menerangkan, hirarki nasab setiap umat manusia yang ada di bumi ini, kembali kepada anak-anak Nuh yang tiga orang, yakni Sam, Ham, dan Yafets.

 

Dalam salah satu hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dikatakan, ''Sam adalah moyang orang Arab, Ham adalah moyang Habsyah (Ethiopia, Afrika), dan Yafets adalah moyang orang Rum (Romawi, Eropa).”

 

Al-Qalaqsyandi dalam Nihayat al-Arab fi Ma'rifat Ansab al-'Arab menyebutkan, telah ada kesepakatan di kalangan para ahli nasab (genealogis) dan para sejarawan, seluruh manusia saat ini adalah setelah Nabi Nuh as, yaitu selain orang-orang yang bersamanya di dalam kapal.

 

''(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.'' (QS Al-Israa' [17]: 3). ''Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.'' (QS Al-Shaffat []:77).

 

Yafets yang merupakan anak tertua, setelah Kan'an, mempunyai tujuh orang anak. Mereka adalah Al-Turk, Al-Khazar, Shaqlab, Tares, Menesk, Kumari (Gomari), dan Shin. Mereka menyebar ke kawasan antara Timur dan Barat Babilonia (wilayah Nuh saat itu), sebagaimana keterangan Abu Hanifah al-Dainuri. Orang Cina dipercaya sebagai keturunan dari Yafets, yakni Shin bin Magog bin Yafets. Dan, Ya'juj dan Ma'juj adalah anak dari Magog bin Yafets.

 

Adapun Ham juga mempunyai anak, antara lain Al-Sind, al-Hindi (India), Zandj (negro), Habasyah (Ethiopia), Nubah, dan Kan'an. Mereka menyebar ke wilayah Selatan dan Dabur (barat).

 

Sedangkan anak-anak Sam bin Nuh adalah Iram, Arpakhsad, Elam, Elifar, dan Asur. Mereka tinggal bersama anak paman mereka Jamm, raja di tanah Babel (Babilonia).

 

Ad-Dainuri berkata, ''Ketika anak-anak Nuh keluar, tergeraklah hati seluruh anak Nuh untuk keluar dari Babel. Maka, Khurasan bin Elam bin Sam keluar. Demikian juga, dengan Pers bin Asur, Rum bin Elifar, Armen bin Nouraj, Kerman bin Tarah, Heitjal bin Elam. Mereka adalah cucu Sam bin Nuh. Masing-masing singgah bersama anak-anaknya di daerah yang dinamakan dengan namanya dan dinisbatkan kepadanya.'' 

 

Dari penyebaran keturunan Nabi Nuh as, dengan jelas bahwa umat manusia semua pendatang, selalu bermigrasi dari satu daerah ke daerah lainya. 

 

Migrasi Bangsa Indonesia 

 

Siapa nenek moyang orang-orang Indonesia? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Dalam berbagai buku-buku sejarah disebutkan, Nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut ulung. Sejak tahun 2.000 Sebelum Masehi (SM) sampai 50 SM, terjadi perpindahan penduduk dari bagian Asia (Yunnan), Tiongkok Selatan ke wilayah nusantara. Namun, ada pula yang menyebutkan dari Hindi (India). Sementara itu, nasab Yunan adalah keturunan dari Yafets bin Nuh. Mungkinkah orang-orang Indonesia keturunan dari Yafets bin Nuh?

 

Ada juga yang membagi menjadi 3 ras, yakni Ras Mongoloid: berkulit kuning, tinggi badan sedang, hidung tidak terlalu mancung dan tidak terlalu pesek, banyak menyebar di Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Ras Kaukasoid: berkulit putih, badan tinggi, hidung mancung, menyebar di Eropa dan Asia kecil (Timur Tengah).  Ras Negroid: berkulit hitam, bibir tebal, rambut keriting, banyak ditemukan di Afrika, Australia, dan Iran.

 

Prof Herawati dari Eijkman Institute pada 2017 membuktikan bahwa semua orang Indonesia adalah ‘imigran’, pendatang. Tidak ada orang Indonesia ‘pribumi’. Karena pada sasarnya manusia merupakan pendatang, selalu berpindah dari satu daerah ke daerah yang lainya. Biasanya orang-orang yang datang ke suatu daerah, kemudian bersepakat saling bersinergi dan menciptakan suatu entitas kebudayaan baru. 

 

Pada dasarnya, penduduk asli pribumi, bukan ditentukan oleh ras yang turun menurun, karena asal muasal ras di dunia bukan asli diciptakan dari daerah tersebut, melainkan pendatang. Akan tetapi jika pribumi diartikan sebagai manusia yang lahir di daerah tersebut, makan dari tanaman di sana, meminum dari sumber air alamnya, dan menghirup oksigen dari pepohonan di sana. 

 

Sedangkan pada mulanya semua tanah di muka bumi adalah kosong, kemudian keturunan manusia bermigrasi dari satu daerah ke daerah lain. Seperti Indonesia, awal mulanya merupakan hutan belantara, lalu orang-orang Yunan datang, membuka, menempati dan menjadi bangsa rumpun Melayu. Dari satu rumpun inilah melahirkan berbagai suku-suku yang tersebar di Indonesia dengan berbagai mbahasa dan budayanya. 

 

Kedepannya juga, berabad-abad ke depan, akan lahir ras-ras suku bangsa baru, dengan bahasa baru juga. Dan merekapun akan menganggap kuno bahasa yang kita pakai sekarang, seperti kita menganggap asing bahasa Sansekerta yang zaman kerajaan Hindu-Budha pernah menjadi bahasa internasional. 

 

Manusia yang hidup di zaman sekarang tidak terdiri satu ras suku yang murni, melainkan asimilasi dari berbagai ras suku bangsa terdahulu. Contohnya seperti keturunan kerajaan Mataram Islam di Jawa, yang jika ditarik ke atas akan bertemu dengan leluhur Singasari, kerajaan Sunda, Sriwijaya Palembang, Kutai Kalimantan, Champa, India, Arab, Persia, Aram dll. 

 

Atau juga kerajaan Sekala Brak di Lampung Barat, jika dirunut ke atas sanadnya akan bertemu dengan kerajaan Pagaruyung Miangkabau, Singasari Jawa Timur, dll. 

 

Cerita di atas hanya sebagian saja. Maka jika diteliti lebih mendalam, semua ras suku bangsa di dunia, dan khususnya di Indonesia saling berkaitan satu sama lain. Dan semua manusia saling melengkapi dan berpindah-pindah, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan manusia itu sendiri. 

 

(Yudi Prayoga, Sekretaris MWCNU, Kedaton, Bandar Lampung)


Opini Terbaru