• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Minggu, 26 Mei 2024

Opini

Mari Cegah Perilaku Seksual Anak yang Menyimpang dengan Mengawasi Gadgetnya  

Mari Cegah Perilaku Seksual Anak yang Menyimpang dengan Mengawasi Gadgetnya  
Mari Cegak Perilaku Seksual Anak yang Menyimpang dengan Mengawasi Gadgetnya. SUmber foto: NU Online  
Mari Cegak Perilaku Seksual Anak yang Menyimpang dengan Mengawasi Gadgetnya. SUmber foto: NU Online  

Pelecehan seksual yang menimpa anak-anak semakin hari semakin tak terbendung. Kejadian demi kejadian masih sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai dari kejadian pelecehan seksual yang dilakukan teman terhadap teman sebayanya, guru terhadap siswanya, dosen terhadap mahasiswanya, bos terhadap karyawanya, ustadz terhadap santrinya. Dilansir dari Detik.news tanggal 29 November 2023 memberitakan di Serdang ada kepala sekolah SMP melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya. 

 

Juga ditambah dengan kabar terbaru dari akun Tiktok yang bernama dr. Amira, SpOG yang diposting tanggal 30 November 2023, menceritakan bahwa ia kedatangan pasien usia 15 tahun bersama orang tuanya serta pihak kepolisian dengan maksud untuk visum sebab alasan anak tersebut merupakan korban pemerkosaan. Setelah visum dilakukan, didapati selaput dara robek, perineumnya memiliki bekas robekan lama yang lebih dari satu bulan, dinding vagina bagian kanan dan kiri semuanya robek-robek. 

 

Setelah melakukan wawancara ternyata anaknya mengakui bahwa dia diperkosa oleh seseorang yang ia kenal dari Facebook. Tapi masalah yang lebih besar terungkap, ternyata sebelum-sebelumnya sejak dia duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar ia sering melakukan aktivitas seksual dengan pacarnya.  Mengejutkan sekali bukan, padahal orang tuanya adalah orang yang sangat disiplin dan paham ilmu agama. 

 

Ada juga yang paling terbaru, terjadi Jum'at, 1 Desember 2023, Detik.news melansir berita tentang adanya kejadian siswa SMAN 1 Sampang, Madura, Jawa Timur melahirkan di sekolah saat sedang melaksanakan ujian di dalam kelas, dan bahkan keluarga tidak bisa mendeteksi perubahan yang terjadi pada anaknya walaupun usia kandungannya mencapai 9 bulan. Kabar ini sangat memprihatinkan untuk didengar, baik oleh dunia pendidikan, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarganya. 

 

Hari ini, kehidupan anak-anak kita tidak bisa terlepas dari gadget yang yang setiap harinya disajikan dengan konten-konten tanpa filter yang tidak bisa dinafikan, seperti konten pornografi. Pemerhati anak, Resto Listyarthi mengatakan konten-konten pornografi berdampak pada perilaku seksual di usia yang sangat muda, bahkan beliau mengatakan bahwa saat ini, hampir 2500 aktivitas pornografi anak di internet setiap harinya. 

 

Maka dari itu, di hari ini, pendidikan seks sejak dini merupakan suatu ketrampilan yang sangat penting dimiliki anak-anak, agar membentuk prilaku yang mampu terhindar dari resiko pelecehan seksual dan perilaku seksual yang menyimpang. 

 

Sebenarnya siapa yang harus menjadi tameng pertahanan anak dari pelecehan seksual yang merajalela, yang jelas kedua orang tuanya. Akan tetapi saat ini masih banyak didapati orang tua hanya memberikan pendidikan seks kepada anak sebatas announchment untuk membedakan toilet wanita dan pria. Sedangkan untuk guru tidak 24 jam bersama anak, mereka hanya bersama anak paling banyak 9 jam, dan ada yang hanya setengah hari saja. Maka tentu orang tua lah yang menjadi garda terdepan guna melindungi anak dari kekerasan seksual, sebab merekalah yang tiap hari berada bersama anak dan lebih dekat dengan anak. 

 

Namun seringkali, keinginan orang tua untuk menjaga anaknya terbatas oleh kegagapannya dalam dunia digital, sehingga tidak bisa memantau aktifitas anaknya di dunia digital. padahal sekarang rata-rata siswa di usia 9-10 tahun sudah memiliki gadget, apakah perlu sebagai orang tua menyita gadget anak sebagai upaya pencegahan?.  Perlu diingat, ada berita terbaru tentang siswa SD yang bunuh diri lantaran gadgetnya disita, bahkan banyak sekali kasus anak depresi dan makin tertutup kepada orang tua sebab gadgetnya disita. 

 

Sikap kita hari ini bukanlah selalu menjadi penjaga anak, itu tidaklah efektif untuk jangka panjang, namun yang perlu kita lakukan saat ini adalah bagaimana caranya agar anak berdaya untuk melindungi dirinya sendiri saat terpapar materi berbahaya, juga saat ada kejadian yang teridentifikasi dapat menimbulkan bahaya untuk anak ketika sedang bersama orang tua maupun tidak. 

 

Sebenarnya mengajarkan anak tentang pornografi bisa dilakukan dengan menyediakan waktu untuk saling berdiskusi, walaupun saat ini masih banyak sekali orang tua yang malu dan ragu ketika mengobrolkan masalah tersebut dengan anak. Bahkan sebagian orang tua justru menutup mata menganggap bahwa anaknya aman dari paparan pornografi, dan itu tidak mungkin terjadi menurutnya. Ini salah besar, karena semua anak pasti mencari tau sendiri, bisa melalui apapun yang ada di lingkunganya, terlebih gadget yang tiap hari bersamanya. Hal tersebut bukan karna anak tersebut jahat, tetapi karna sifat alamiahnya memang ingin mengetahui hal baru. Sangat bahaya sekali jika pornografi tidak terdeteksi di awal sebab ketidak mampuanya dalam mengkomunikasikan terhadap orang tua, atau malu untuk mengatakan kepada orang tua. Itulah kenapa anak sangat membutuhkan orang tua yang proaktif agar mampu membimbing perkembangan anak tersebut. 

 

Seandainya terjadi, anak di sekolah yang ditunjukan foto kelamin oleh OB, kemudian di rumah anak hanya mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia telah melihat foto burung di Hp OB, tentu tidak terjalin komunikasi yang menuju pada tindakan pelecehan seksual kepada anaknya. Karena apa yang digambarkan oleh anak sangat jauh berbeda dari apa yang dipahami orang tuanya. Perlu penulis sampaikan berulang kali bahwa penting sekali orang tua membuka komunikasi seluas-luasnya dengan anak, agar segala sesuatu yang terjadi kepada anak bisa dibimbing dan nantinya akan terbentuk pertahanan diri sendiri. 

 

Perlindungan bisa dimulai dengan sikap kritis orang tua saat melihat perubahan atau perkembangan pada diri anak, karena langkah pertama yang harus kita mulai adalah dari keluarga, yakni lingkungan paling dekat dengan anak. Serta tidak ada waktu yang lebih baik kecuali sekarang juga. Maka jangan sampai orang tua merasa aman-aman saja, sebab orang yang dianggap aman sekalipun terkadang menjadi pelaku kekerasan seksual kepada anak.

 

Ustadz Mahfudz Nasir, M.Pd, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung
 


Opini Terbaru