• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 2 Desember 2022

Warta

Pesan Kakanwil Kemenag Lampung pada Pergunu

Pesan Kakanwil Kemenag Lampung pada Pergunu
Audiensi Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) Provinsi Lampung. (Foto: Kemenag lampung)
Audiensi Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) Provinsi Lampung. (Foto: Kemenag lampung)

Bandarlampung, NU Online Lampung
Saat menerima audiensi Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) Provinsi Lampung, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo mengajak organisasi Guru NU untuk bersinergi bersama Kementerian Agama. Keberadaan Pergunu menurut Kakanwil sangat penting bagi Kementerian Agama.


Ia berpesan Pergunu bisa berkontribusi bagi pendidikan agama yang moderat dan inklusif, sehingga tercipta tatanan masyarakat madani.


“Maka kita harus saling bersinergi diberbagai jenjang dan dapat memberikan kontribusi positif dalam dunia pendidikan dan harus bisa mendorong para guru untuk menciptakan suasana sejuk. Sebab apa yang disampaikan oleh guru dapat mempengaruhi iklim kehidupan sosial, karena guru itu digugu dan ditiru,” katanya di ruang kerjanya, Selasa (17/5/2022).


Ia juga berpesan kepada Pergunu untuk senantiasa menjadikan para guru Nahdlatul Ulama lebih profesional serta taat pada aturan dan prosedur yang telah ditetapkan.


Sementara Ketua PW Pergunu Provinsi Lampung Imam Syafi'i mengungkapkan bahwa audiensi tersebut diharapkan bisa meningkatkan silaturahmi sekaligus mempererat sinergi dan menyelaraskan program terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan.


“Agar kami dapat memberikan sumbangsih lebih demi kemajuan dunia pendidikan di Provinsi Lampung. Untuk itu, kami siap bergandengan tangan dan menyusun program yang selaras dengan program unggulan Kakanwil Kemenag Provinsi Lampung,” harapnya dikutip dari laman Kemenag Lampung.

 

Mengenal Pergunu
Pergunu adalah badan otonom NU yang menghimpun dan menaungi para guru, dosen, dan ustadz. Secara organisasi, Pergunu dibentuk dari hasil Konferensi Lembaga Pendidikan Ma'arif NU pada tahun 1952. Konferensi merekomendasikan untuk membentuk organisasi guru NU. Selanjutnya, Ma'arif NU Surabaya yang diberi mandat untuk membentuknya berhasil mendirikan PC Pergunu Surabaya pada 1 Mei 1958.


Berdasarkan Ensiklopedia NU, setelah melalui proses yang cukup panjang, Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU berhasil dibentuk pada 14 Februari 1959 dengan Ketua Umum Bashori Alwi. Kongres pertamanya diadakan pada 17-20 Oktober 1959 yang diikuti 27 cabang dan Bashori Alwi kembali terpilih sebagai ketua umum. Kongres kedua diselenggarakan pada 1966 dengan memilih Mardji’in Syam sebagai ketua umum, sekaligus terjadi perpindahan kantor pusat dari Surabaya ke Jakarta.


Pada 1968, Pergunu di Jawa Timur berhasil memperjuangkan 20.000 anggotanya menjadi guru negeri di Departemen Agama. Namun, organisasi ini surut setelah Pemerintah Orde Baru menyatukan berbagai organisasi profesi guru menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pada era reformasi, Pergunu diaktifkan kembali. Sebuah diskusi kecil yang dimotori H. Abdul Latif Mansyur di Jombang menggagas ide tersebut. Sambutan luas pun bergulir dan berproses sampai akhirnya pada 30-31 Maret 2002 terselenggara Musyawarah Guru Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya.


Pertemuan ini menghasilkan kepengurusan Pergunu Wilayah Jawa Timur dan penetapan AD/ART, rekomendasi kepada PBNU, serta pembentukan tim formatur untuk membentuk Pengurus Pusat Pergunu. Setelah melakukan pembentukan cabang-cabang, terutama di Jawa Timur, pada 15 Juli 2003 diselenggarakan pertemuan pembentukan PP Pergunu yang menghasilkan tiga orang pengurus inti harian Pergunu Pusat, yaitu: Drs. K.H. Asep Saifuddin Chalim (Ketua Umum), H Kusnan A. (Sekretaris Jenderal), dan Drs. H. Choiruddin Ch. (Bendahara Umum). Mereka ditugasi menyempurnakan susunan PP Pergunu.


Dalam Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Solo (2004), PP Pergunu berjuang menjadikan Pergunu sebagai salah satu Badan Otonom NU. Tetapi, upaya ini belum berhasil. Baru pada Muktamar Makassar (2010), Pergunu ditetapkan menjadi salah satu Badan Otonom NU. Pada awal berdirinya Pergunu merupakan alat Partai NU. Kini Pergunu mengusung paradigma baru, yaitu profesionalitas dan independensi, tidak berafiliasi dengan partai politik apa pun, dan sejalan dengan Khittah 1926 yang mengembalikan NU sebagai organisasi sosial keagamaan.


Pergunu kini ikut membangun generasi muda NU melalui jalur pendidikan. Kongres I Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, pada 23-24 Juli 2011, memilih KH Asep Abdul Halim sebagai Ketua Umum PP Pergunu Periode 2011-2016. Pada kongres selanjutnya, KH Asep Abdul Halim dengan masa kepemimpinan 2016-2021. (Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru