• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Jumat, 12 April 2024

Warta

Ini 3 Tantangan Umat Beragama di Era Modern

Ini 3 Tantangan Umat Beragama di Era Modern
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Lampung H Puji Raharjo. (Foto: Kemenag Lampung)
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Lampung H Puji Raharjo. (Foto: Kemenag Lampung)

Bandarlampung, NU Online Lampung

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Lampung H Puji Raharjo mengungkapkan tiga tantangan yang dihadapi umat beragama terkait pemahaman dan cara beragama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini perlu disikapi agar tidak berdampak negatif dalam kehidupan karena agama adalah solusi bukan malah menjadi masalah.  


Tantangan yang pertama adalah adanya cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang berlebih-lebihan yang dalam Islam disebut dengan istilah Ghulluw. Sikap ini mengakibatkan umat beragama mengesampingkan martabat kemanusiaan.

 
"Jadi kita dalam beragama harus menghargai martabat kemanusiaan. Contoh, jika ada kecelakaan, kita harus menolong tanpa melihat agamanya apa," ungkapnya saat menjadi pembicara pada Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Fase E kelas X  di SMA 10 Bandar Lampung, Rabu (21/2/2024). 


Untuk mengatasi tantangan ini lanjutnya, umat beragama harus memperkuat esensi ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Di Indonesia bisa terlihat dari kesepakatan semua agama pada falsafah Pancasila yang memuat esensi beragama.


Tantangan kedua lanjutnya adalah berkembangnya klaim kebenaran subjektif dari sekelompok golongan dan pemaksaan kehendak atas tafsir agama yang dipengaruhi oleh kepentingan seperti politik, ekonomi, dan sejenisnya yang berpotensi memicu konflik.


"Kita harus mengelola keragaman dalam tafsir keagamaan dengan upaya mencerdaskan kehidupan keberagamaan," katanya dalam paparan yang mengangkat tema Bhineka Tunggal Ika dan Topik Sekolah Aman Ramah Asik Harmoni.


"Kalau kalian belajar agama maka belajarlah dengan ada pendamping atau guru. Belajarlah ilmu agama dengan cara yang baik," imbuhnya Ketua PWNU Lampung ini.


Tantangan yang ketiga adalah berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia pun mengingatkan bahwa NKRI ini didirikan oleh para tokoh politik dan tokoh dari berbagai agama.  


"Oleh karena itu kita tidak boleh membeda-bedakan apapun agamanya dan tidak boleh bercita cita mendirikan negara selain NKRI. Kita harus merawat keindonesiaan kita. Agama dan negara tidak boleh dihadap-hadapkan. Beragama dan berbangsa serta bernegara harus dilakukan dalam satu tarikan nafas," ungkapnya.


Untuk itu, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang masuk dalam kurikulum pendidikan saat in, diharapkan mampu meningkatkan kecintaan kepada bangsa. Dengan P5 ini juga diharapkan mampu menjadikan para pelajar dan pemuda yang merupakan generasi penerus tongkat estafet eksistensi Indonesia memiliki pemahaman agama yang moderat. 


Ia juga mengajak para pelajar untuk terus belajar dan tidak gampang puas dengan apa yang telah diketahuinya. "Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka,” pungkasnya mengutip sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi. (Muhammad Faizin)


Editor:

Warta Terbaru