• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Pernik

Makna Lebaran Ketupat Pada 8 Syawal

Makna Lebaran Ketupat Pada 8 Syawal
Ilustrasi lebaran ketupat
Ilustrasi lebaran ketupat

Pada hari ini, Senin 9 Mei 2022 yang bertepatan dengan 8 Syawal 1443 H sebagian umat muslim merayakan Lebaran Ketupat. Di beberapa daerah, perayaan Lebaran Ketupat atau disebut juga Syawalan itu, tak kalah meriah dari lebaran 1 Syawal. 

 

Lebaran ketupat merupakan tradisi yang diwariskan sejak zaman kesultanan Demak dan dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri. 

 

Kenapa dinamakan lebaran? Karena setelah hari raya Idul Fitri, umat Islam disunahkan puasa Syawal selama enam hari. Ketika hari kedelapan dari puasa Syawal maka diadakan makan ketupat bersama-sama atau Lebaran Ketupat tersebut. 

 

Tradisi ini biasanya dilakukan sebagian besar masyarakat muslim Indonesia khususnya di Pulau Jawa dan daerah-daerah transmigrasi yang ada komunitas Jawa-nya. Tradisi ini sudah menjadi kegiatan yang sangat penting dan rutin, mengingat banyaknya kemanfaatan di dalamnya. 

 

Pertama, berkumpulnya semua masyarakat desa di serambi masjid untuk berdoa bersama, mensyukuri nikmat karena telah menjalankan puasa wajib Ramadhan selama sebulan dan puasa sunah Syawal selama enam hari. Hal ini berdasarkan sunah Nabi Muhammad saw yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa sunah enam hari di bulan Syawal.

 

Kedua, mempererat tali silaturahim sesama keluarga dan tetangga dengan saling menukar makanan ketupat dan sayur santan yang dibawa. Dalam bahasa Jawa, ketupat yang dicampur dengan lauk bersantan disebut “kupat santen”. Istilah kupat santen berasal dari kata "kulo lepat nyuwun ngapunten" atau berarti “saya bersalah, dan mohon maaf”. 

 

Makanan ketupat merupakan makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan daun kelapa muda (janur) yang dianyam sedemikian rupa dengan indah dan berseni. 

 

Orang Jawa dan Sunda menyebutnya dengan kata “kupat”. Orang Bali dengan kata “Tipat”. Orang Minangkabau dengan kata “katupek”. Orang Madura dengan kata “katopak”. Orang Makassar dengan kata “katupa”. Dan lain sebagainya. 

 

Filosofi Ketupat 

 

Penggunaan istilah ketupat dalam Lebaran Ketupat tentu bukan tanpa filosofi yang mendasarinya. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” (mengakui kesalahan).

 

Prosesi "ngaku lepat" umumnya diimplementasikan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orang tuanya. Dengan begitu, kita diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang yang lebih tua. Entah karena tua secara umur atau tua secara nasab. 

 

Sebagian masyarakat juga memaknai rumitnya anyaman bungkus ketupat dengan mencerminkan kompleksitas masyarakat Indonesia yang selalu diletakkan dengan silaturahim dan kekeluargaan. 

 

Beras, sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah hari raya. Kemakmuran ekonomi dan kemakmuran pangan.

 

Janur, jatining nur atau hati nurani. Berharap dimulainya bulan Syawal dan bulan-bulan sesudahnya agar tetap selalu memiliki hati nurani. Sehingga segala aktivitasnya selalu dalam kebaikan dan keberkahan. Atau ada juga yang menyebut janur dengan akronim “jannah nur” atau cahaya surga. 

 

(Yudi Prayoga, Santri pondok pesantren Al Hikmah Bandar Lampung)


Pernik Terbaru