• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Opini

Waspada Bahaya Cinta Dunia

Waspada Bahaya Cinta Dunia
foto ilustrasi net
foto ilustrasi net

Waspada Bahaya Cinta Dunia


Oleh: Yudi Prayoga

 

HIDUP di dunia tidak akan lepas dari harta benda. Ia senantiasa akan selalu dicari oleh setiap manusia yang masih menginginkan hidup di dunia.

 

Harta benda sudah menjadi bagian primer bagi manusia. Kadang sekelompok manusia membuat harta benda itu sendiri dan sekelompok yang lainya mencarinya. Itulah dunia kadang aneh tapi juga nyata. Seperti manusia menciptakan uang kemudian dicari oleh manusia yang lainya.

 

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk mencari harta benda, karena jikalau seorang muslim fakir akan menjerumuskan ke kafir dan maksiat. Apalagi sampai meminta-minta, mencuri, merampok, serta menggadaikan iman dan agama demi harta benda yang tidak seberapa. Semua dilakukan karena mencukupi hidup.

 

Namun jika kita mencari harta terus-menerus, maka bisa celaka. Apakah jika kita mencari harta, menumpuk dan menabungnya, termasuk celaka, cinta dunia atau sebaliknya kita malah terpuji?

 

Hal ini dapat kita petakan ciri-ciri bagaimana sikap kita dengan harta benda, apakah termasuk cinta dunia (Hubb ad-Dunya), atau sesuatu yang terpuji. Karena sudah banyak kisah masa lalu orang-orang yang kaya raya, seperti Qarun, Firaun, Utsman bin Affan, Ibn Arabi, dan sebagainya.

 

Hubb ad-Dunya berasal dari bahasa Arab, berarti cinta dunia, yakni menganggap harta benda merupakan segalanya. Atau bisa dikatakan bahwa dunia merupakan prioritas pertama dalam kehidupan.

 

Cinta dunia merupakan penyakit hati yang merambah ke dalam kehidupan manusia, bahkan bisa sampai akut. Sudah banyak orang yang sakit jiwa karena urusan dunia, bahkan ada yang rela bunuh diri, mencuri, korupsi, menipu, membegal, dan lain sebagainya. Itu semua tak lain hanya karena urusan harta benda duniawi semata.

 

Padahal sesungguhnya dunia ini hanya lantaran atau wasilah untuk menuju akhirat. Dunia adalah ladang yang harus kita tanam, dan kita petik buahnya di akhirat. Jika menanam kebaikan maka memetik buahnya di surga, sedang bila menanam keburukan, akan memetik buahnya di neraka.

 

Rasulullah Saw bersabda, “Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan. Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit ya Rasulullah?”.

 

Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa”.

 

Sahabat bertanya kembali, “Apa yang di maksud kelemahan jiwa, ya Rasulullah?”

 

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

 

Tetapi bukan berarti orang yang mencari nafkah harta benda dan mengejar karir termasuk cinta dunia. Ini ciri-ciri umum dan sederhana dari orang yang memiliki penyakit hati mencintai dunia.

 

Pertama, menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana untuk kebahagiaan di akhirat. Dunia beserta isinya merupakan hanya perantara (washilah) menuju akhirat. Apapun yang kita kejar dan banggakan hanya statusnya di dunia, tidak di akhirat, kecuali harta tersebut digunakan dengan kebaikan, maka harta yang kita kejar dan banggakan akan terasa juga diakhirat.

 

Kedua, menghalalkan cara dalam mengumpulkan harta benda. Mengumpulkan harta benda boleh saja, asalkan dengan cara yang halal, bahkan seorang muslim dianjurkan kaya-raya, karena dengan kekayaan dia bisa beribadah ghair mahdlah (ibadah sosial), yang bernama shadaqah harta benda kepada orang yang kurang mampu. Namun yang menjadi sorotan jika kita mengumpulkan harta benda dengan cara bathil dan dzalim, seperti menipu, mencuri, korupsi dll. Maka semuanya menjadi haram.

 

Ketiga, kikir atau pelit, salah satu penyakit cinta dunia, yang tidak menginginkan hartanya berkurang sedikitpun. Jangankan untuk shadaqah, untuk berzakat saja rasanya berat, terutama zakat Mal (harta). Sesungguhnya harta yang kita miliki semuanya dari Allah yang dititipkan kepada manusia untuk digunakan kepada kebaikan. Bahkan sejatinyapun tetap milik Allah, meskipun ada di tangan kita. Harta kita, jasad dan ruh kita juga milik Allah. Jadi sangat rugi jiga harta titipan namun tetap digenggam.

 

Keempat, serakah dan rakus serta tamak. Suatu penyakit hati yang merasa tidak puas dengan apa yang sudah menjadi menjadi bagiannya. Selalu memiliki keinginan lebih dalam memiliki bahkan bagian milik orang lain.

 

Kelima, kufur nikmat, tidak mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Allah kepadanya, tidak sedikit justru banyak yang mencemooh atau memandang remeh harta yang dimilikinya. Harta sedikit atau banyak semunya pemberian Allah yang wajib disyukuri. Jika manusia suka bersyukur ketika memiliki harta yang sedikit, maka dia akan tetap bersyukur meskipun hartanya sudah melimpah banyak.

 

 (Yudi Prayoga/ Dosen di Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Islam (STEBI) Pesawaran, Lampung)

 


Editor:

Opini Terbaru