• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Opini

Rapuhnya Moral Orang-Orang Materialis

Rapuhnya Moral Orang-Orang Materialis
gambar uang Rupiah dan Dolar
gambar uang Rupiah dan Dolar

SALAH satu ciri kehidupan yang menyelimuti dunia modern saat ini adalah sifat materialisme. Semua serba materi uang dan harta benda, atau masyhur disebut dengan matrek. Bahkan sifat tersebut sudah merambah dari kota ke desa. 

 

Semua kehidupan akan sulit jika sudah ditakar dengan uang. Memang hidup tanpa uang banyak rintangan, tetapi banyak yang juga akan menjadikan manusia keras hati, gelap gulita dan tidak bermoral.  Karena jika filosofi hidup harus serba uang maka semuanya akan menjadi individual dan berlomba-lomba dalam kemewahan. 

 

Tidak semua hidup ber-uang itu bahagia, dan tidak juga hidup tanpa uang itu sengsara. Contohnya orang-orang Baduy di Banten yang tetap berbahagia hidup bersama alam. Hidup dengan kesederhanaan dan kearifan lokal. Orang Baduy tidak mengajarkan prinsip berlomba-lomba dalam membangun rumah, membeli kendaraan mewah, berhias dan berlomba-lomba kuliah di perguruan tinggi. Mereka sejak dahulu hingga sekarang bahagia dengan kesederhanaan, hidup bersama alam. 

 

Jika kita mengunjungi Baduy, maka kita akan menyaksikan rumah-rumah mereka sama semua dari kayu, jalan menuju perkampungannya setapak yang tidak bisa dilewati kendaraan, tanpa listrik dan elektronik. Mereka mengajarkan bahwa hidup bahagia tidak melulu soal uang, kemewahan, kesuksesan bekerja dan kuliah. 

 

Mereka terbiasa jalan kaki berkilo-kilo meter tanpa alas kaki yang menjadikan mereka sehat dan kuat, tanpa harus berlomba-lomba berkendara. Karena hidup tidak hanya berselaras dengan uang, tetapi juga harus berselaras dengan alam. 

 

Bagi mereka hidup dengan kesederhanaan itu biasa dan menyenangkan, namun berbeda dengan orang-orang kota, atau yang mengenal kota, atau orang yang meniru gaya kota meski hidup di desa. Bagi mereka hidup tanpa uang itu hampa, dan bisa melahirkan perang dunia bagi keluarga. 

 

Hampir semua aktivitas sehari-hari bergelut dengan uang. Bahkan ada yang tanpa uang tidak akan berjalan. Karena bagi orang modern, uang merupakan barang primer yang harus selalu ada dan terus ada. Bahkan uang di kota bisa mengendalikan hidup dan kehidupan.

 

Sekarang hidup manusia banyak yang dikendalikan uang. Bahkan jiwa manusianya pun sudah ber-uang. Tidak sedikit kita mengalami kerasnya hidup jika dikendalikan dengan uang. Seperti jabatan yang harus diraih dengan menyodorkan beberapa uang, atau masuk instansi yang harus bersaing dengan yang ber-uang. Semua bisa menjadi terbalik jika sudah dengan materi. Yang positif tertindas, yang negatif diatas. 

 

Atau dalam perdagangan kita mengenal yang namanya riba, sesuatu tindakan yang diharamkan Allah Swt. Karena uang manusia kehilangan kesederhanaan, keikhlasan dan moralitas. KH Bahauddin Nursalim Rembang, atau akrab disapa Gus Baha mengatakan bahwa jika ada pedagang yang benar dan jujur, nanti maqamnya akan bersama dengan orang-orang yang mati syahid. 

 

Padahal Allah akan menjamin rezeki  setiap makhluknya. Ada yang banyak dan ada yang sedikit. Semua sudah diatur, sikap kita hanya tinggal bersyukur dari setiap pemberian-Nya. Itupun kadang sulit, karena sifat manusia yang rakus, akhirnya banyak yang mangambil jalan pintas dengan haram seperti riba, suap, menipu, mencuri, dan lain sebagainya.

 

Padahal andaikata semua manusia memiliki sifat qanaah, menerima segala pemberian-Nya dan bersyukur, niscaya manusia akan lebih tentram jiwanya. 

 

Apalagi jika orientasinya untuk ibadah kepada Allah dan mengabdi kepada masyarakat. Yakinlah tidak akan ditemukan kasus suap dan riba. Padahal hidup tanpa suap dan riba akan melahirkan jiwa yang bahagia, berkah dan bermanfaat. 

 

Sifat material akan selalu kita temukan di kehidupan masyarakat. Kadang kita menemukan ada orang yang ahli dan mumpuni dalam bidang tertentu dan akhlaknya juga baik, namun tidak diterima kerja di suatu instansi, karena kalah dengan orang yang kapasitasnya kurang namun bersedia membayar suap. 

 

Kita semua harus yakin, jika orientasi hidup kita karena Allah dan kemaslahatan masyarakat, Allah akan selalu memberikan jalan rezeki bagi kita.

 

Ulama berkata bahwa jika diterima kerja karena suap, maka gaji yang diperoleh dari pekerjaan tersebut selama hidupnya akan menjadi bathil. 

 

Itulah bahayanya jika materialisme sudah menjadi filosofi dalam hidup. Memang semua akan ber-uang pada waktunya, tetapi semua akan menjadi tidak bermoral pada waktunya. 

 

Dalam hidup tidak semuanya kehormatan dinilai dari harta. Masih banyak orang yang dihormati karena alimnya, kecerdasannya, ataupun akhlak baiknya. 

 

Islam tidak melarang umatnya untuk kaya. Tetapi perlu diingat kekayaan tersebut harus dicapai dengan sesuatu yang halal. apalagi sampai melupakan Allah dengan meninggalkan shalat 5 waktu. Karena berlandaskan jika harta dipegang oleh orang yang musyrik dan bathil maka dikhawatirkan harta tersebut akan digunakan untuk kemungkaran dan maksiat. 

 

Dan sebaliknya jika harta kekayaan dimiliki oleh orang yang tepat, maka akan digunakan untuk ibadah, syiar Islam dan kemaslahatan umat. Seperti Imam Malik, Syekh Junaid Al-Baghdadi, Syekh Muhyiddin Ibn Arabi. Mereka semua ulama yang kaya raya, tetapi harta tersebut tidak ditanam di dalam hatinya. Dan hanya menganggap semua hartanya merupakan pelayan, titipan dan sarana atau wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah

 

Yudi Prayoga, Sekretaris MWCNU Kedaton Bandar Lampung


Opini Terbaru