• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Kamis, 26 Mei 2022

Opini

Ramadhan dan Kesalehan Sosial

Ramadhan dan Kesalehan Sosial
Teungku Masrur, Komisioner KIP Pidie Jaya
Teungku Masrur, Komisioner KIP Pidie Jaya

Oleh: Teungku Masrur, MA


Kita saat ini berada di bulan yang penuh berkah (syahrul Mubarak) bernama, Ramadhan. Allah swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah dan beramal saleh, serta bulan yang mulia. Di antara kemuliaannya yakni meningkatnya amal kebaikan. 


Rasulullah saw memberi kabar gembira tentang kemuliaan dan kelebihan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath-Thabrani).


Salah satu keutamaan dan keberkahan bulan ini yakni dimana setiap amal ibadah dilipat gandakan oleh Allah swt. Apabila seseorang  mengerjakan ibadah sunnah di bulan Ramadhan, imbalannya memiliki pahala yang sama dengan amal wajib. Begitu juga seseorang mengerjakan amaliah wajib yang dikerjakan di bulan ini setara dengan 70 amal wajib. Barangsiapa yang memberi buka puasa untuk seorang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka, dan baginya pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala oarang yang berpuasa tersebut sedikit pun. Dilipat gandaan pahala itu sesuai dengan hadist Nabi, berbunyi, “Wahai sekalian manusia, telah datang pada kalian bulan yang mulia. Di bulan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Puasanya dijadikan sebagai suatu kewajiban. Shalat malamnya adalah suatu amalan sunnah. Siapa yang melakukan kebaikan pada bulan tersebut seperti ia melakukan kewajiban di waktu lainnya. Siapa yang melaksanakan kewajiban pada bulan tersebut seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di waktu lainnya.” (HR. Al-Mahamili dan Ibnu Khuzaimah)


Berdasarkan hadist di atas Allah memudahkan kita dalam merealisasikan kelebihan dan kemuliaan bulan Ramadhan dengan berbagai instrumen dan perangkat: Pertama, Allah telah membuka pintu surga selebar-lebarnya dan menutup pintu neraka serapat-rapatnya. Kedua, Allah telah membelenggu para setan. Ketiga, Allah mengabulkan doa hamba-Nya pada bulan Ramadhan. Keempat, amal ibadah seorang hamba pada bulan Ramadan akan dilipatgandakan melebihi pada bulan selain Ramadhan. Kelima, terdapat malam Lailatul Qadar (malam kemuliaan) lebih baik dari 1.000 bulan. 


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh setiap orang mukmin, karena bulan Ramadhan merupakan penghulu (sayyidusy syuhur) dari seluruh bulan dalam satu tahun.


Momentum Ramadhan memberikan hikmah tersendiri bagi umat Islam. Anjuran untuk tinggal di rumah membuat setiap keluarga muslim memiliki kesempatan untuk lebih banyak mengerjakan ibadah secara berjamaah. Tidak hanya salat berjamaah, ibadah lain seperti membaca Al-Qur'an, berzikir, dan mengajari anak-anak tentang ilmu agama juga tersedia waktu lebih banyak. Juga banyak membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan. Sebab, puasa yang diwajibkan kepada umat Islam, secara sosiologis, hakikatnya adalah instrumen untuk memberikan kesadaran kebersamaan kepada kita, sehingga kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh fakir miskin. 


Allah swt memerintahkan kita berpuasa bukan tanpa sebab. Karena segala sesuatu yang diciptakan tidak ada yang sia-sia dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti memiliki kebaikan bagi hamba-Nya. Kalau kita mengamati lebih lanjut, ibadah puasa mempunyai manfaat sangat besar, karena puasa tidak hanya bermanfaat dari segi rohani, tetapi juga dalam segi lahiri. Barang siapa yang melakukannya dengan ikhlas dan sesuai aturan, maka akan diberi ganjaran yang besar oleh Allah swt. Puasa mempunyai pengaruh menyeluruh baik kepada semua manusia, secara individu maupun masyarakat. Baik hubungannya kepada Allah (hablun minallah), juga hubungan muamalah kita kepada sesama muslim dan makhluk Allah lainnya (hablun minan-nas)


Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tidak sebatas moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tidak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), akan tetapi juga kesalehan sosial. 


Dari berpuasa kita memiliki dua semangat yang sangat baik. Jika dilihat dari perspektif pendidikan akhlak yakni, pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun) dari hal-hal yang destruktif (al-muhlikat). Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual. Kedua, semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan (hatstsun wa `amalun) terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif, atau dalam bahasa Imam Ghazali dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manuisa (hatstsun ila al-munjiyat). Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial. 


Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal ini. Pertama, orang yang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin. Karena orang yang tidak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain. (A Ilyas Ismail, 2016)


Berpijak dari pembahasan di atas, menunjukkan sangat besarnya keagungan Ramadhan. Allah swt menjadikan Ramadhan sebagai ladang menjemput berbagai macam pahala, karena Ramadan dihiasi dengan bervariasi amal kebaikan, baik hablum minallah (vertikal) maupun hablum minannas (horizontal), Seperti berpuasa, membaca Al-Quran, shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, shalat sunat, qiyamul lail, zikir, ta’lim (belajar), bersedekah, iktikaf dan ibadah-ibadah lainnya. 


Tentunya dengan adanya keberagaman jenis ibadah pada Ramadan menjadikannya bulan ini unik dan istimewa dibandingkan dengan bulan lainnya. Namun, bermacam ibadah di atas hendaklah di dasari dengan ilmu dan niat yang ikhlas karena Allah swt. Dengan unsur tersebut diharapkan ibadah Ramadhan diterima di sisi-Nya dan kita dapat  mengakhiri “Madrasah Ramadhan” tahun ini  dengan husnul khatimah (akhir yang terbaik). Juga dengan puasa ini kita bisa meningkatkan kesalehan sosial meraih ridha-Nya.


Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith  Thariq


Penulis Adalah Komisioner KIP Pidie Jaya.
 


Opini Terbaru