• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Senin, 30 Januari 2023

Warta

Tanggapan Plh Ketua PWNU Lampung Soal Boleh Buka Bersama, Namun Dilarang Ngobrol

Tanggapan Plh Ketua PWNU Lampung Soal Boleh Buka Bersama, Namun Dilarang Ngobrol
Prof Alamsyah, Plh Ketua PWNU Lampung
Prof Alamsyah, Plh Ketua PWNU Lampung

Bandar Lampung, NU Online Lampung
Pelaksana Harian (Plh) Ketua PWNU Lampung, Prof Alamsyah mengatakan, hal yang wajar jika dalam berbuka puasa bersama dibatasi intensitas berbicaranya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari diri dari terpapar virus Covid-19.


“Bukan berarti setelah vaksin kedua atau sudah booster, maka sudah bebas dari Covid-19. Tetap harus berhati-hati dan menerapkan protokol kesehatan, karena virus ini belum benar-benar hilang di Indonesia,” katanya kepada NU Online Lampung, Selasa (5/4/2022).


Prof Alam menyatakan, saat berbuka puasa, ngobrolnya jangan terlalu dekat, meskipun sudah divaksin dan merasa yakin dalam keadaan sehat. 


“Buka bersama dalam Islam itu yang penting makan dan minum bersama-sama setelah seharian berpuasa. Bukan ngobrolnya yang lebih diperbanyak. Dalam hadis juga dijelaskan, falyaqul khairan au liyasmuth, berkatalah yang baik atau diam,” ujarnya.


Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan itu mengatakan, apabila dalam obrolan buka puasa bersama tersebut menimbulkan lawan bicara merasa tersinggung atau tidak enak, maka dianjurkan untuk diam. 


“Maksud dari tidak boleh mengobrol itu bukan tidak boleh ngomong sama sekali, namun harus dibatasi. Jika dibatasi intensitas mengobrolnya juga akan mengurangi durasi acara buka bersamanya, yang biasanya berjam-jam, ini cukup satu jam saja,” ungkapnya.  


Hakikat puasa adalah menahan, dengan menahan diri dari ucapan atau obrolan yang tidak baik adalah salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam. Dalam puasa justru dianjurkan untuk menambah nilai-nilai spritual seperti membaca kalimat-kalimat thayyibah yaitu dzikir, membaca Al-Qur’an yang tidak hanya sekadar membacanya saja. Namun juga mendalami dan mengingat Allah.  


“Bisa jadi karena ngobrol setelah berbuka puasa tersebut malah mengurangi pahala puasa, karena membicarakan kejelekan orang lain. Maka segala sesuatunya sedang-sedang saja, jangan terlalu banyak berbicara sehingga menimbulkan mudharat yang banyak seperti terpapar Covid-19 melalui droplet atau bahkan karena teman berbuka puasa yang tersinggung dengan ucapan sendiri,” tegasnya. 

 

Sebelumnya, ramai diberitakan soal larangan berbicara saat berbuka puasa. Dikutip dari liputan 6.com, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Wiku Adisasmito dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 mengatakan, memperbolehkan kaum muslimin menggelar buka puasa bersama. Namun syaratnya, tidak diperbolehkan bicara pada saat makan. 

(Dian Ramadhan)
 


Warta Terbaru